ARAKA

ARAKA
Bab 36


__ADS_3

Maaf banget up nya kelamaan readers ku 🙏


Kalian tahu kan kalo lagi bleng cari idenya susah. Apalagi kerjaan aku di dunia nyata juga banyak banget 😴


Tapi aku bakal tetep tamatin ceritanya kok, tenang aja. Up nya bakal aku usahain tiap hari juga.


Selamat membaca🤗


___________________________


Laras, Manda, Adit dan Kevin mendekati Ara yang sedang duduk sendirian di bangku menghadap lapangan sekolah. Gadis itu tampak berpikir dengan pandangan menerawang.


Kalau bukan karena penasaran dengan perubahan Ara beberapa hari terakhir ini, Laras dan Manda pasti sudah setia berada di dekat lokasi syuting aktor tercinta mereka. Laras dengar hari ini tempat yang di pakai para kru film itu buat syuting adalah kelas dua belas. Pasti sekarang tim Ravel ada di lantai tiga.


Adit, Kevin, Manda dan Laras sudah setuju untuk mengorek keterangan dari Ara mengapa gadis itu tiba-tiba berubah jadi anak manis di kelas. Bukannya tidak suka. Mereka hanya merasa aneh saja dan ingin tahu.


"Ra, kamu ngapain sendirian di sini? Nggak ke kantin?" tanya Manda. Ia dan Laras memilih duduk di sebelah Ara, sedang Adit dan Kevin lebih memilih berdiri. Mau duduk di mana coba? Nggak ada tempat duduk yang muat lagi.


Ara menatap ke empat teman sekelasnya itu bergantian.


"Nggak laper udah kenyang." sahut gadis itu. Ia memang lagi tidak ada selera makan. Sebenarnya dirinya masih capek karena kemarin hari pertamanya bekerja di cafe milik kak Kevan. Mungkin karena dia memang jarang bekerja jadi badannya masih sakit-sakit. Jadinya gadis itu tidak ada mood buat banyak bergerak.


"Kamu kenapa akhir-akhir ini? Nggak bolos lagi, jadi rajin nyatat dan udah nggak pernah tidur di kelas lagi. Kamu ada masalah?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Laras. Ara bahkan melongo mendengar pertanyaan seperti itu dari mulut sahabatnya. Menurutnya malah mereka yang aneh. Memangnya salah dia belum bolos-bolos lagi apalagi ketiduran di kelas. Ini, mereka malah menganggapnya aneh karena tidak melakukan hal yang biasanya dia lakukan.


"Kok pertanyaannya begitu sih? Memangnya kalian nggak mau sahabat kalian ini berubah jadi lebih baik?" seru Ara ada rasa kesal dalam nada bicaranya.


"Yah, habisnya kamu aneh. Tiba-tiba jadi suka nyatat juga." kata Manda.


"Bener, kamu jadi beda Ra. Bedanya sih ke arah yang bagus. Tapi kok rasanya aneh aja yah?" itu suara Kevin. Yang lain mengangguk setuju. Mereka lebih senang melihat Ara dengan segala tingkah jahilnya yang seperti biasa. Kalau Ara yang jadi diam begini sih rasanya beda. Ara yang dulu jauh lebih baik.


Ara menatap mereka semua bergantian.


"Aku cuman pengen tenang beberapa hari doang. Wali kelas nelpon keluarga aku kemaren. Jadi, aku nggak boleh bikin masalah dulu beberapa hari ke depannya. Bisa di cut sama keluarga nanti. Sekarang pahamkan?" jelas Ara panjang lebar.

__ADS_1


"Oh jadi gitu. Kirain udah mau tobat. Pokoknya jangan yah Ra." seru Kevin lagi sampai-sampai Ara melongo menatapnya. Ini nih yang namanya ajaran sesat.


"Tahu ah," balasnya masa bodoh.


Perkumpulan mereka akhirnya dipenuhi dengan tawa karena Kevin mulai bercerita lucu. Ara sampai lupa dengan badannya yang masih pegal-pegal. Ia gembira punya teman-teman baik dan lucu seperti mereka.


                                  ***


Ketika mau berjalan pulang, Ara berpapasan dengan Karrel lagi. Walau merasa aneh karena terus-terusan kebetulan bertemu cowok itu, gadis itu merasa senang.


Ada tumpangan gratis nih, batinnya. Ia senyum-senyum sendiri sampai-sampai Karrel yang melewatinya mengira gadis itu jadi sinting.


"Minggir," ucap Karrel karena Ara sengaja berdiri di depan jalannya. Setelah gadis itu bergeser ke kiri, Karrel melanjutkan langkahnya menuju parkiran. Motornya di parkir di sana. Hari ini ia membawa motor. Belum mood bawa mobil.


Karrel merasakan sesuatu di belakangnya ketika dirinya bersiap-siap menggas motornya. Ia tahu itu pasti Ara. Kan gadis itu yang terus mengikutinya sejak tadi dan hanya gadis itu juga yang berani padanya dari semua perempuan.


Sudut bibir Karrel tersungging ke atas. Ia memang sengaja bersikap cuek pada Ara. Sengaja mau membuat gadis itu sendiri yang mengikutinya. Benarkan, Ara memang mengikutinya.


"Mau apa?" tanya Karrel pada Ara yang kini sudah duduk dibelakangnya.


"Anterin," ujarnya.


"Kemana?"


"Cafe."


Kali ini Karrel menatapi keseluruhan penampilan Ara. Ia sudah tidak begitu mempermasalahkan gadis itu yang mau kerja sambilan. Tapi, langsung ke cafe dengan seragam lengkap begini?


"Nggak pulang ganti baju?" tanyanya.


Ia melihat Ara mengarahkan ranselnya ke depannya.


"Baju gantinya di dalam sini." tunjuk gadis itu. Karrel tercengang. Ternyata gadis ini memang sudah membuat persiapan.

__ADS_1


"Ayo cepetan, nanti aku terlambat terus di omelin sih kakak galak itu, memangnya kamu mau tanggung jawab?" seru Ara lagi sambil menggoyang-goyangkan bahu Karrel.


"Pake helm dulu Ara," balas Karrel mengambil helm satunya lagi di jok motor lalu memakaikannya di kepala Ara. Cowok itu sengaja membawa dua helm, satunya punya Ara. Ia beli sendiri beberapa hari yang lalu. Entah kenapa ia punya firasat yang kuat kalau Ara akan naik motor besarnya itu. Jadi sengaja beli buat gadis itu.


Selesai memakaikan helm pada Ara, Karrel siap-siap menggas motornya lagi.


"Pegangan," ucap cowok itu namun seketika langsung terbatuk-batuk, merasakan remasan tangan Ara yang kuat di lehernya.


"Kamu ngapain?" jengkelnya melirik Ara dari kaca spion. Gadis itu masih setia memegangi lehernya.


"Katanya pegangan,"


Karrel menutup matanya dalam-dalam. Memangnya masuk akal pegangan di leher?


"Lepasin nggak," katanya dongkol. Ara yang mendengar buru-buru melepaskan tangannya dari leher Karrel.


"Peluk pinggang aku aja." kata cowok itu lagi. Ara sejenak merasa ragu. Ia tahu Karrel ini punya banyak penggemar cewek. Gimana kalau mereka lihat dia sengaja meluk-meluk Karrel? Tapi.. bukannya banyak cewek-cewek di sekolah sudah tahu ia dengan cowok itu sekarang?


"Emang boleh? Kamu nggak bakal mikir aku modusin kamu kan?"


Ya ampun.. Kalau bukan karena menyukai gadis itu, Karrel sudah melemparnya jauh-jauh sekarang juga.


"Kalau nggak mau turun aja cepet, cari tumpangan lain!" kesal Karrel. Ara yang mendengarnya cepat-cepat memeluk pinggang cowok itu bahkan menyandarkan kepala di punggungnya. Ia sama sekali tidak sadar tindakan spontannya itu membuat Karrel berubah luluh. Rasa kesalnya menghilang seketika.


Tak lama kemudian motor Karrel meninggalkan Area sekolah.


Tak jauh dari parkiran itu berdiri Ravel dan Tristan. Jelas sekali di raut wajah Ravel pria itu tidak suka melihat kedekatan sang adik dengan Karrel.


Di masa lalu, Ravel dan Karrel sempat menjadi sahabat. Tapi ketika seorang teman lainnya meninggalkan mereka , persahabatan mereka renggang. Karrel tidak pernah bicara pada Ravel lagi, maupun sebaliknya. Ravel sendiri memutuskan home schooling dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai publik figur.


"Apa mungkin Ara dan lelaki itu pacaran?" suara Tristan menyadarkan Ravel. Selama mereka syuting di sekolah ini, diam-diam Tristan juga selalu mengawasi Ara. Ia juga sering lihat kedekatan Ara dengan cowok bernama Karrel itu.


"Tidak!" balas Ravel tidak suka.

__ADS_1


"Aku akan membuat mereka putus kalau mereka benar-benar bersama." tambahnya. Tristan menatap pria itu dengan ekspresi tak terbaca.


__ADS_2