ARAKA

ARAKA
Bab 87


__ADS_3

Karrel tidak mengalihkan pandangannya dari pria didepan mereka. Waktu Ravel menelponnya tadi ia langsung bergegas masuk ke dalam gedung. Sebenarnya dia dan Tristan sudah bersiap-siap untuk masuk diam-diam ketika melihat tiga mobil berhenti didepan gedung itu dan segerombolan orang masuk. Mereka tidak tahu siapa orang-orang itu. Namun sebelum masuk, Ravel sudah menelpon duluan. Saat pria itu menjelaskan yang datang adalah orang-orang dari kejaksaan, Tristan dan Karrel merasa sedikit lega. Karena kalau mereka adalah musuh, bisa dipastikan kekuatan ketiganya akan kalah jauh dari segerombolan orang tersebut.


Barang yang dibawah Karrel ia berikan pada Ravel. Ravel memberikannya pada pria pertama yang datang tadi, yang dipanggil Moses itu, dan Moses sendiri yang memberikan barang itu pada jaksa didepannya. Sih ketua tim. Sekaligus kenalannya di kejaksaan.


Pihak kejaksaan langsung memeriksa kalung tabung itu dengan serius. Memang sudah lama mereka mendengar ada benda seperti itu yang disembunyikan oleh salah satu mafia paling berkuasa di negeri itu. Ia punya jaringan yang sangat kuat sampai-sampai pemerintah saja tidak memiliki kekuatan untuk menangkapnya. Tapi dua puluh tahun yang lalu pria tua yang paling berkuasa di kalangan mafia itu tewas tertembak. Dan semua harta miliknya tersimpan bersama barang-barang haram yang ada dalam sebuah tempat yang tidak diketahui keberadaannya. Kemudian tersebar kabar ada sebuah kalung tabung berisi peta tempat penyimpanan semua harta itu. Kalung itu berhasil ditemukan oleh ayah kandung Ara. Namun istrinya (mama kandung Ara), yang mengetahui hal itu menjadi tidak senang dan ingin menyerahkan benda haram itu pada polisi. Sayangnya waktu itu, suami istri itu bertengkar hebat karena berbeda pendapat. Itulah sebabnya sekitar tujuh belas tahun yang lalu mama kandung Ara kabur dari rumah dan membawa lari kalung itu bersama putri tercintanya. Sayang sekali banyak yang musuh mengetahui hal itu dan mengejar mereka. Untung hari pertama kabur dari rumah wanita tua itu tidak sengaja bertemu dengan mama dan papanya Ravel yang adalah teman semasa kuliahnya dulu.


Karena tahu hidupnya dan Ara dalam bahaya, wanita itu akhirnya menyerahkan Ara pada orangtua Ravel dan meminta mereka membesarkan gadis itu seperti anak mereka sendiri. Waktu itu Ara baru berumur dua bulan. Mama kandung Ara juga memberikan kalung itu pada Ara tapi tidak sempat menjelaskan pada orangtua Ravel kalau keberadaan kalung itu bisa membahayakan hidup Ara jadi harus segera dilenyapkan. Ia hanya menjelaskan bahwa tidak boleh ada yang tahu kalau Ara itu adalah anak kandungnya.


Satu hari setelah memberikan Ara pada kawan lamanya, musuh yang mengejarnya berhasil menangkapnya. Namun karena tidak berhasil menemukan barang yang mereka cari, orang-orang jahat itu malah membunuhnya dan mulai mencari keberadaan putrinya.


"Baiklah, ini benar-benar barang yang di cari para mafia." ujar pria dewasa itu setelah memeriksa kalung itu. Didalamnya memang terdapat sebuah kertas berisi peta. Ia menatap empat pria didepannya itu bergantian dan berhenti pada Moses. Ia mengapresiasi pria itu karena berani menghubungi mereka padahal itu akan bertentangan dengan kemauan ayahnya. Tapi Moses pasti sudah berpikir matang-matang saat mengambil keputusan itu.


"Moses, terimakasih banyak. Kami akan ingat tindakan beranimu hari ini. Kalau kau butuh bantuan yang melibatkan kami, silahkan hubungi aku." kata pria itu lagi. Moses tersenyum singkat lalu mengangguk.

__ADS_1


"Kau bisa pastikan bukan kalau barang yang kalian sita ini akan di muat diberita? Aku yakin kau sudah dengar penjelasanku. Orang-orang itu harus tahu barang yang mereka cari selama bertahun-tahun ini akhirnya telah ditemukan oleh disita oleh pihak yang berwajib. Dengan begitu, mereka tidak akan lagi mengejar gadis yang tidak bersalah itu." balas Moses panjang lebar. Ia harus memastikan bahwa Ara benar-benar aman. Tidak tahu kenapa, ia tidak mau Ara berada dalam bahaya.


Sih ketua tim kejaksaan sekaligus teman yang lebih tua darinya itu menatapnya dengan senyum penuh arti.


"Jangan khawatir. Gadis itu, maksudku tunanganmu pasti akan baik-baik saja." kata pria itu dengan senyum menggoda. Karrel yang mendengar satu kata dari pria itu jelas saja kaget. Ia tahu siapa yang dimaksud pria itu. Pasti Ara.


Ara? Hanya Ara gadis yang terlibat dengan masalah ini. Tidak ada gadis lain. Tunangan? Sejak kapan? Ara tidak bilang saat menelpon pagi tadi. Ia hanya berkata pria itu adalah seorang pria yang sudah mengenalnya sejak lama, saat dirinya belum dibawa pergi oleh mama kandungnya. Pernah melihatnya ketika dirinya masih bayi. Bukan tunangannya. Tristan juga ikut-ikutan kaget. Apalagi ini?


"Jelaskan, apa maksud pria tadi. Siapa tunanganmu yang dia maksud?" kata Karrel memicingkan matanya pada pria yang berdiri didepannya.


Sementara itu, Moses yang ditatap tidak bersahabat begitu oleh Karrel balas menatap pria itu dengan saksama. Ia cukup peka bisa dengan cepat mengetahui ada hubungan apa antara Ara dengan pria itu. Sepertinya pria didepannya ini adalah pacar gadis itu. Pintar juga gadis itu mencari kekasih. Walau beberapa tahun lebih muda darinya, Moses bisa lihat pria itu bisa diandalkan. Apalagi kalau ia dewasa nanti. Walau sekarang belum bisa bersaing dengannya dalam beberapa aspek, tapi nanti pria ini pasti bisa menjadi lawan yang sulit. Itu kalau dirinya memutuskan mengejar Ara. Sayangnya ia sadar, setelah ini hubungannya dan Ara pasti akan sulit. Ia tidak tahu bagaimana reaksi ayahnya dan ayah Ara ketika tahu ia dan gadis itu telah bekerja sama melawan mereka.


"Rupanya kau pacar yang selalu disebut oleh Ara." ucap Moses santai.

__ADS_1


Karrel senang mendengar Ara terus menyebut namanya namun masih tidak terima mendengar pria itu adalah tunangan sang pacar.


"Kenapa kau tiba-tiba menyebut pacarku sebagai tunanganmu?" tanya Karrel lagi.


"Dia memang tunanganku. Sejak gadis itu lahir, orangtua kami sudah menjodohkan kami. Kalau saja dia tidak dibawa pergi belasan tahun lalu oleh mamanya, kau tidak akan pernah menjadi pacarnya."


Karrel mengepal tangannya kuat-kuat. Ingin sekali ia melayangkan tinjunya kuat-kuat didepan wajah gadis itu. Tapi ia mencoba meredam amarahnya. Ravel juga sudah memberinya peringatan agar tidak gegabah. Ara belum bersama mereka. Bisa saja pria itu tidak akan membawa Ara kembali kalau mereka membuat pria itu emosi.


"Aku harus pulang sekarang. Gadis yang ingin kalian lihat itu sedang menungguku di rumah." ujar Moses.


"Satu hal lagi, siapkan makanan enak buat adik dan pacar tercinta kalian besok. Sepertinya dia tidak menyukai makanan di rumahku. Seperti pembicaraan kita ditelpon tadi, aku akan mengantarnya pulang besok." tambah Moses lagi kemudian keluar lebih dulu dari gedung itu.


Karrel, Ravel dan Tristan saling berpandangan. Menurut Ravel sendiri, pria seperti Moses itu adalah pria yang bisa di percaya. Sepertinya Ara diperlakukan dengan baik oleh pria itu. Ia tidak perlu khawatir karena ada yang menjaga Ara. Sementara Karrel sendiri merasa ada lawan yang begitu kuat didepan matanya. Dia hanya berharap rasa cinta Ara padanya tidak berubah.

__ADS_1


__ADS_2