ARAKA

ARAKA
Bab 38


__ADS_3

Wulan tidak tahan lagi. Ia merasa sangat kesal pada Ara. Apalagi kemarin ia melihat Ara naik motor dengan Karrel. Sudah lama ia menyimpan dendam pada Ara. Bukan hanya iri, Wulan tidak suka karena semua cowok yang diincarnya malah dekat dengan Ara.


Karena itu Wulan nekat membayar salah satu siswi seangkatan mereka yang terkenal paling nakal, beringas dan tak kenal takut itu untuk mencegat Ara. Memberi perhitungan dengannya. Ia bahkan memanas-manasi dengan bilang kalau Ara meremehkannya sebagai penguasa di area kelas dua belas.


Wulan tahu Ara biasanya akan melewati jalan area kelas dua belas kalau mau bertemu kelompok Karrel. Dan ia sengaja menyuruh siswi nakal yang biasa di panggil Vivi itu memakai kesempatan waktu itu untuk mencegat sih adik kelas. Dan benar saja, hari ini Ara memang datang ke kandangnya kelas dua belas. Vivi dan genknya langsung mencegatnya.


Sementara itu di kelas Karrel, terdengar suara-suara riuh karena hari ini belum ada guru yang masuk. Karrel duduk sendirian sambil menyibukkan diri dengan ponselnya ketika salah satu teman kelasnya bernama Okan mendatanginya dengan wajah serius.


"Rel, adik kelas yang sering dateng temuin lo, gue liat sedang dicegat sama Vivi." kata Okan pelan didepan Karrel.


Karrel tersentak. Seketika dia melompat berdiri dan bergegas keluar. Seisi kelas yang heran


langsung mengekor di belakangnya.


Beberapa saat sebelumnya Ara ingin menemui kelompok Karrel karena bosan sendirian. Teman-temannya seperti biasa, pergi menonton syutingnya para artis. Kayaknya selama artis-artis itu masih berkeliaran di sekolah ini, Laras dan Manda akan terus tidak punya waktu bersamanya di jam kosong. Adit dan Kevin, mereka sibuk main olahraga di lapangan basket. Jadi yang terpikir di otak Ara hanya Karrel.


Cewek itu menyusuri koridor dengan langkah cepat, masih tidak menyadari bahwa dia sudah memasuki area yang paling ditakuti murid-murid


kelas sepuluh. Mungkin karena sudah berkali-kali ia melewati area itu dan tidak terjadi apa-apa jadi ia sudah terbiasa.


Sampai beberapa meter menjelang tangga naik, langkahnya


terhenti. Enam cewek berdiri berjajar, menutupi lebar koridor dari ujung ke ujung. Tak mungkin dilalui tanpa menabrak, minimal salah satunya. Ara kenal salah satu dari para cewek itu. Namanya Vivi terkenal sebagai salah satu murid perempuan kelas dua belas yang paling nakal. Suka membully dan berkelahi bahkan dengan laki-laki sekalipun. Kenakalannya kata teman-teman sekelasnya sudah di batas wajar manusia.


Vivo dan kelima cewek anggota gengnya!


Seketika Ara memucat. Untuk pertama kalinya dia baru menyadari telah nekat memasuki area yang paling terlarang untuk murid-murid kelas sepuluh.


"Ck,ck,ck," Vivi melangkah mendekat sambil berdecak dan menggeleng-


gelengkan kepala.


"Udah berkali-kali gue sabar-sabarin lo lewat daerah gue tapi malah nggak tahu diri,"


"Ma… maaf, Kak," ucap Ara terbata. Dia melangkah mundur, tapi hanya bisa satu langkah saja karena salah teman-teman Vivy langsung berdiri mengelilinginya. Semuanya terlihat menyeramkan. Ini pertama kalinya Ara bertemu mereka secara langsung. Dan ia akui dirinya takut. Kata sahabat-sahabatnya memang benar. Genk Vivy sangat brutal. Gaya mereka sudah seperti penjahat beneran.


"Maksud lo lewat-lewat sini seenaknya apa? Ha!?"

__ADS_1


Ara tidak menjawab. Reputasi Vivi membuatnya tahu dengan baik, diam dan tidak melawan adalah sikap yang paling tepat kalau ingin dirinya aman.


"Kok diem!?" bentak Vivi. Di raihnya sejumput rambut Ara dan disentaknya rambut itu ke belakang, memaksa Ara mendongak.


"Bisu? Atau budek?"


Ara tetap diam. Ia menggigiti bibir, karena kelima jari Vivi yang mencengkeram rambutnya membuat kulit kepalanya serasa mau lepas.


"Elo tau nggak sih, kalo ini tuh daerah kelas dua belas? Ha!? lo nggak bisa


main nginjek nih tempat seenak jidat lo. Jangan karena lo deket sama Karrel dan sahabat-sahabatnya trus lo pikir lo bisa ke sini seenak jidat lo, gitu!?"


Ara masih tetap tak bersuara. Vivi merendakan mukanya.


"Lo bikin mata gue sakit, tau!"


kelima jarinya yang mencengkeram rambut Ara mengetat semakin kuat,


membuat Ara menggigit bibirnya semakin kuat lagi.


Pemandangan itulah yang tertangkap kedua mata Karrel begitu dia keluar dari pintu kelas.


Gelegar suara Karrel membuat tindakan Vivi yang tadinya hanya diketahui mereka-mereka yang berada di sekitar lokasi kejadian sontak menarik perhatian siapa


pun yang mendengar bentakan keras Karrel barusan.


Sosok-sosok berhamburan


keluar dari pintu-pintu kelas. Sebagian hanya menatap Karrel dengan sorot mata ingin


tahu, sebagian lagi mengekor di belakangnya.


Kelima anggota geng Vivi


langsung menjauh dari Ara.


"Lepas, Vi. Karrel lagi ke sini!" salah seorang berseru pelan dengan nada

__ADS_1


mendesak. Tapi Vivi, yang begitu focus dengan objek kemarahannya, tidak mendengar seruan itu.


"Vivi! Lepas, bego! Cepetan!" ganti temannya yang lain memberikan


peringatan, juga dengan nada mendesak.


"Gue bilang tarik nih cewek masuk toilet, biar aman. Vivi keburu emosi sih,"


anggota gengnya yang lain bergumam pelan. Tapi sedetik kemudian dia


menjerit tertahan penuh kepanikan, karena ketika menoleh untuk mengetahui keberadaan Karrel, dilihatnya cowok itu tengah menyeruak kerumunan dengan


paksa. Tidak sampai lima belas meter di belakang mereka!


"Vivi, lepasin tu cewek! Buruan! Karrel udah deket tuuuh!"


Vivi tetap tidak mengacuhkan peringatan teman-temannya. Akhirnya cewek yang tadi menjerit pelan bergegas menghampiri. Temannya yang berdiri di


sebelah kanan langsung mengikuti. Kedunya berusaha keras menjauhkan Vivi dari Ara Secepat mungkin.


Satu orang berusaha melepaskan cengkeraman kelima jari Vivi di rambut Ara, sementara yang satunya bersiap-siap untuk langsung menyeretnya pergi begitu cengkeraman itu terlepas. Mereka memang genk perempuan yang di takuti banyak orang di sekolah itu. Hanya saja, mereka pun ada kekurangan. Genk mereka takut pada Karrel dan teman-temannya. Jelas sekali tidak mau berurusan dengan ketiga cowok itu. Tapi sekarang, karena kecerobohan Vivi mereka jadi harus berhadapan dengan Karrel.


"Apaan sih?!" dengan kasar Vivi menepis tangan kedua temannya.


"Karrel ke sini, tolol!"


Vivi menoleh ke arah yang ditunjuk salah satu temannya dengan dagu. Tapi dia tetap tidak peduli.


"Kalo kalian takut, ya udah. Kabur aja sana!"


Dua cewek itu jadi kesal dan akhirnya benar-benar meninggalkan Vivi lalu


bergabung dengan ketiga teman mereka yang masih berdiri di tempat semula, yang menyambut tatapan keduanya dengan pasrah.


Perhatian Vivi kembali ke Ara, yang sedang menekan-nekan kepalanya dengan satu tangan, berusaha meredam nyeri akibat tindakan Vivy tadi.


Tiba-tiba Vivy mengulurkan tangan kanannya dan  sengaja menarik kemeja seragam Ara kuat-kuat.

__ADS_1


Tak ayal kemeja itu tercabik, robek dalam helaian lebar, dan memperlihatkan apa yang tersembunyi di baliknya. Ara terkesiap.


__ADS_2