ARAKA

ARAKA
Bab 51


__ADS_3

Ravel mencari-cari keberadaan Ara sejak tadi namun tidak menemukan gadis itu. Batang hidungnya saja tidak kelihatan sedikitpun. Ketika ia bertanya pada Gisel dan Lina, mereka juga tidak melihatnya. Pascal, sama saja. Orang terakhir yang ingin ia tanyai, tante Ningsi, tantenya itu sibuk berbincang-bincang dengan tamu. Terpaksa Ravel tidak jadi bertanya. Tidak mungkin juga tante Ningsi melihat Ara, karena wanita itu terlalu sibuk.


Apa adiknya sudah balik ke kamar? Ravel berniat untuk naik ke atas memeriksanya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang ia kenal berjalan ke halaman belakang rumah itu.


Itu Karrel. Ravel tidak heran kenapa lelaki itu bisa datang di pesta ini. Pasti nenek Inggrid yang mengundangnya. Ia juga sempat melihat mama Karrel tadi. Ravel membatalkan niatnya memeriksa keberadaan Ara di kamar, dan memutuskan mengikuti Karrel.


Ternyata sang adik yang dia cari-cari sejak tadi ada di halaman belakang. Karrel yang dia ikuti kini duduk di samping adiknya. Ravel berniat menghampiri mereka namun berhenti sebentar. Ia jadi penasaran ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.


Ravel mengepal tangannya kuat-kuat saat mendengar Karrel meminta Ara menjadi pacarnya. Emosinya makin naik ketika cowok itu mencium Ara dan mereka berpelukan. Lalu tanpa aba-aba ia berjalan ke arah kedua orang ini dan meninju wajah Karrel sekuat tenaga.


Karrel yang kaget mendapat serangan tiba-tiba itu tentu saja tidak terima. Ia balas memukul Ravel dan akhirnya terjadi perkelahian hebat antara keduanya. Mereka berdua memiliki masalah yang belum selesaiĀ  sebelumnya. Sesaat mereka lupa dengan keberadaan Ara yang berdiri panik berusaha melerai keduanya. Namun karena gadis itu takut perkelahian itu akan mengundang banyak perhatian, suaranya tidak begitu kedengaran. Sampai akhirnya gadis itu berlari masuk ke dalam rumah dan balik lagi bersama Pascal.


Pascal langsung menerobos paksa masuk di antara Karrel dan Ravel yang terus berkelahi dengan membabi buta. Keduanya seakan lupa diri, bahkan tidak merasakan kesakitan di wajah dan sekujur tubuh mereka yang saat ini dipenuhi dengan darah.


Di kampusnya, Pascal terkenal jago bela diri. Dia sangat kuat sampai-sampai dengan sekali lerai Ravel dan Karrel langsung terpisah. Namun tidak disitu saja, sekuat apapun Pascal, tetap saja ia kena pukulan. Kedua pria yang dia pisahkan masih tidak berhenti juga.


"Lo berdua kenapa sih! Berhenti gue bilang!" seru Pascal dengan suara menggelegar. Ia sudah emosi karena sangat sulit memisahkan dua pria dewasa itu, dan wajahnya yang terasa sakit akibat pukulan Ravel. Brengsek, ada apa dengan mereka berdua?

__ADS_1


Ara sendiri sudah menjauhi tempat perkelahian antara dua orang pria itu untuk mencari tempat menenangkan dirinya. Ini pertama kalinya ia melihat Karrel dan kakaknya berkelahi, sisi lain keduanya tampak menakutkan. Dan dialah yang menjadi penyebab keduanya berkelahi.


Tangan Ara gemetaran. Ia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal mencoba menetralkan jantungnya yang kian berdebar. Yang paling ia sesalkan adalah, rasa takutnya yang berlebihan melihat orang berkelahi. Padahal bisa saja ia menghentikan mereka tadi.


Dari tempatnya, Karrel berhenti sesaat. Selain sudah lelah dan mulai merasa sakit di bagian tubuhnya, ia tiba-tiba mengingat Ara. Matanya mencari-cari keberadaan gadis itu. Demi Tuhan ia lupa tadi. Ketika matanya menangkap sosok Ara diujung sana, Karrel langsung berlari menghampirinya.


"Ara," cowok itu membungkuk didepan Ara yang duduk meringkuk disamping kursi panjang sambil memegangi bahu gadis itu. Ia bisa melihat ekspresi takut dimata Ara ketika gadis itu melihatnya. Karrel mengerang pelan. Sial, padahal ia tahu Ara takut melihat kekerasan secara langsung.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya namun gadis itu tidak menjawab hanya menatapnya linglung dan sesekali menatap kebelakang. Pada Ravel. Pascal sedang menahan pria itu.


Ara masih terdiam. Kali ini tangan Karrel terangkat menangkup wajah gadis itu.


"Maafin aku, aku lupa kalau kamu..."


"Ara, aku bilang masuk sekarang!" teriak Ravel emosi. Ara tersentak, sontak emosi Karrel naik lagi. Ia berbalik menatap Ravel nyalang, tidak suka dengan sikap kasarnya.


Ia ingin berdiri memberi peringatan pada Ravel tapi Ara cepat-cepat meraih tangannya.

__ADS_1


Karrel menghadap gadis itu lagi. Ara menggeleng padanya seolah melarangnya untuk pergi. Karrel merasa tidak berdaya, ia terpaksa menuruti gadis itu. Ara lalu berdiri. Biar bagaimanapun Ravel adalah kakaknya, ia harus mendengar kakaknya. Ia tidak mau mereka berkelahi lagi.


"Ara," gumam Karrel menahan tangan Ara, tidak ingin gadis itu pergi.


"Aku baik-baik aja, kak Ravel itu kakak aku jadi aku harus dengerin dia." balas Ara pelan. Karrel terus menahannya tapi ia melepaskan tangan Karrel, melirik kak Ravel dan Pascal sebentar, kemudian bersiap-siap masuk ke dalam.


"Apa-apaan ini?" suara nenek Inggrid menghentikan langkah Ara. Wanita tua itu datang dari arah pintu masuk belakang rumah. Gisel, Lina dan wanita cantik kira-kira berumur di awal empat puluan yang baru pertama kali dilihat Ara berjalan dibelakang nenek Inggrid. Ara tidak jadi pergi. Mana mungkin ia bisa pergi kalau keadaan sudah begini. Ia pikir setelah nenek Inggrid dan sepupunya itu muncul, akan berdatangan orang-orang lain juga. Ternyata tidak. Hanya mereka.


Wanita yang tidak Ara kenal itu tiba-tiba berlari ke arah mereka. Lebih tepatnya menghampiri Karrel. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir. Gimana tidak, Karrel memang terlihat kacau dengan luka di berbagai tempat. Sama dengan kakaknya.


"Karrel! Kamu kenapa sayang?" ucap wanita itu memeriksa keadaan Karrel. Oh, ternyata mamanya Karrel. Pantas saja wajah Karrel ganteng begitu, ternyata turun dari mamanya yang cantik.


"Kok kamu babak belur gini? Berkelahi sama siap," ucapan wanita itu terhenti saat pandangannya jatuh ke Ravel yang sama babak belur juga. Ia langsung tahu kalau kedua pria itu berkelahi. Astaga, kenapa mereka sampai berkelahi.


"Lina, beritahu mama kamu nenek ada urusan jadi nggak bisa ikut acaranya sampai selesai." perintah nenek Inggrid dengan suara tegasnya. Ia menatap kedepan lagi, pada semua orang yang ada di sana.


"Kalian semua ikut nenek!" katanya lagi penuh wibawa.

__ADS_1


__ADS_2