ARAKA

ARAKA
Bab 77


__ADS_3

"Cepat naik!" kata Moses sekali lagi karena Ara tak kunjung bergerak. Gadis itu masih gemetar. Tapi mau bagaimana lagi, waktu tidak bisa menunggu. Semakin lama mereka diam keadaan akan makin berbahaya.


Ketika tembakan kembali terdengar, Moses segera mengambil langkah. Laki-laki itu mundur lebih dekat dengan Ara lalu menarik kedua kaki Ara mengapit tubuhnya lalu menggendong gadis itu.


"Pegangan yang kencang." suruh laki-laki itu mengambil ancang-ancang untuk keluar dari ruangan itu bersama Ara dipunggungnya. Saking paniknya, Ara memegang kuat lengan keras dan berotot Moses sesuai dengan perintah pria itu. Anak buahnya mengambil ancang-ancang melindungi mereka supaya tidak tertembak waktu keluar.


Begitu mereka keluar dari ruangan, Moses membungkuk. Membuat Ara memekik tertahan sebab hampir terjatuh. Cepat-cepat Ara melihat apa yang di ambil Moses sampai-sampai tak memikirkan gadis yang digendongnya itu bisa saja jatuh. Moses menaikkan posisi Ara yang merosot sambil bersiap-siap mengarahkan pistol ke arah mana saja yang sewaktu-waktu mengancam mereka.


"Kamu mau nembak?" tanya Ara di telinga Moses dengan suara bergetar.


"Diam dulu kalau mau selamat." ujar Moses. Matanya terus berpindah-pindah ke segala arah siap-siap membidik musuh yang mengejar mereka dari berbagai arah. Ia sudah terbiasa dengan keadaan menegangkan seperti ini. Tapi baru kali ini dirinya berperang melawan musuh dengan seorang wanita dipunggungnya. Dan ia merasa cukup kesusahan.


Ara sendiri terdiam. Laki-laki yang menolongnya ini terlihat menakutkan. Cara bicaranya sama sekali tidak lembut, tapi mau bagaimana lagi. Ara pasrah saja. Apalagi laki-laki ini sudah berbaik hati mau menolongnya.


Moses sendiri mengambil kedua tangan Ara yang memegang lengannya dan dialihkan ke leher lalu berlari. Terkadang ia diam membidik sasaran lalu berakhir menembak. Suara-suara mengerikan itu merusak telinga Ara. Gadis itu memejamkan matanya takut.

__ADS_1


Mereka kini sudah berada di halaman luar rumah Ara. Keadaan cukup hening dan Ara mulai memberanikan diri membuka matanya. Belum juga berhasil menenangkan diri, ia kembali memekik tertahan.


Moses membalikan tubuhnya tiba-tiba. Ara yakin sekali jika tadi Moses tidak memindahkan pegangannya di leher laki-laki itu, sekarang dirinya pasti sudah terlempar. Satu tangan Moses berada di sisi paha Ara. Diakhiri dengan menepuk pelan seolah menyiratkan bahwa gadis itu akan baik-baik saja.


"Tenanglah." bisik Moses menoleh ke samping tapi perkataan itu sengaja dia bilang untuk Ara. Sepertinya mereka sudah aman sekarang. Moses lalu berlari secepat kilat ke mobil. Ia menurunkan Ada di dalam mobilnya dan cepat-cepat masuk ke kursi sopir dan mengendarai mobil itu secepat mungkin. Seperti orang yang sedang ikut balapan. Ara sampai merasa perutnya mual.


Tapi tidak sampai di situ saja. Ada dua mobil yang mengejar mereka dari belakang. Moses menggeram kesal. Sialan. Ada berapa banyak sih mereka itu?


"AAA..." Ara memekik kaget karena sebuah peluru berakhir di dinding mobil sisi kirinya.


"Hei, hei..." Moses makin panik melihat gadis pingsan. Ia lalu menyetir secepat mungkin sampai para musuh itu kehilangan jejaknya.


Ketika sampai didepan mansion keluarganya, ia membunyikan klakson berkali-kali sampai gerbang besar yang kokoh itu terbuka. Mobilnya masuk ke dalam dan berhenti tepat di depan rumah. Setelah itu barulah Moses bernafas lega. Setidaknya sekarang mereka sudah aman.


Pria itu menatap ke Ara yang belum sadarkan diri. Tampaknya gadis itu sangat syok. Itu hal yang wajar, mengingat selama ini gadis itu dibesarkan di keluarga yang normal. Tidak ada perselisihan atau terlibat dengan musuh.

__ADS_1


"Tuan muda, apa yang terjadi?" seorang pengawal muda sudah berdiri di depan Moses yang keluar dari mobil dan membuka pintu yang satunya lagi lalu mengangkat tubuh Ara yang tidak sadarkan diri. Ia menggendong gadis itu dengan santai, seolah Ara sama sekali tidak berat. Moses menatap satpam itu sebentar dan beralih ke beberapa pengawal rumahnya yang berjaga di beberapa sudut bangunan megah itu. Sepertinya ia perlu menambah jumlah pengawal. Mansion ini memang sangat besar dan kokoh, tidak pernah ada musuh yang berhasil masuk. Tapi, mereka perlu berjaga-jaga. Karena para musuh sialan itu pasti tahu Ara berada dengannya sekarang. Mereka akan mencari segala cara untuk menculik gadis ini. Pria itu kembali menatap pengawal yang berbicara padanya tadi.


"Perketat penjagaan. Jangan sampai ada yang berhasil masuk. Dan, telpon dokter Nuan sekarang juga. Katakan ada yang perlu di periksa." perintah Moses.


"Baik tuan muda." pengawal itu membungkuk hormat. Moses lalu melanjutkan langkah masuk ke dalam rumah. Melewati para pelayan yang berjejer dengan wajah penuh tanda tanya. Mereka penasaran siapa gadis yang dibawah majikan muda mereka itu. Yap! Para pelayan tidak tahu kalau tuan muda mereka sudah bertunangan sejak kecil. Jelaslah mereka bingung karena tiba-tiba pria itu membawa seorang perempuan ke dalam rumah.


Walau Moses pernah beberapa kali berhubungan dengan beberapa wanita, tidak ada satupun di antara mereka yang sampai ia bawa ke rumah. Hubungannya tidak pernah serius dengan satu perempuanpun.


"Kira-kira siapa nona muda itu?" bisik seorang pelayan muda. Namanya Riri. Umurnya sembilan belas tahun tapi sudah berhenti sekolah karena tak ada biaya. Orangtuanya sangat miskin dan sudah sakit-sakitan, ia harus bekerja untuk menghidupi mereka.


"Jangan kuat-kuat, tuan muda bisa dengar." tegur pelayan satunya lagi yang lebih tua empat tahun dari Riri. Mereka menatap iri pada gadis yang digendong oleh majikan mereka. Siapa sih yang tidak suka pada laki-laki tampan dan berkuasa seperti Moses. Bahkan di antara mereka ada yang sengaja bekerja di situ hanya untuk melihat pria itu.


Moses membawa Ara ke kamarnya. Meletakkan gadis itu dengan sangat berhati-hati di atas kasur besarnya lalu menggeser kursi didekat situ dan duduk di samping Ara. Ia terus memperhatikan gadis itu lama. Wajahnya tidak terbaca. Ketika mendengar dari ayahnya kalau ada yang menyergap rumah gadis itu, Moses langsung bergerak ke sana. Sebenarnya bisa saja ia membiarkan gadis itu berada dalam bahaya, ia juga tidak begitu mengenalnya. Tapi ketika mengingat senyuman Ara yang begitu ceria di cafe tadi, pria itu tiba-tiba menjadi tergerak. Wajah tanpa dosa Ara membuatnya ingin menolong gadis itu bahkan tanpa diperintahkan ayahnya.


Moses tersenyum merasa aneh dengan dirinya. Ia terus menatap Ara yang masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Berterimakasihlah karena senyumanmu menyelamatkan dirimu sendiri." gumam lelaki itu pelan lalu terdengar ketukan pintu dari luar.


__ADS_2