
Karrel terus memandangi Ara yang sibuk mengobati jemari tangannya dengan telaten. Sekarang ini mereka berada di bangku depan apotik. Awalnya Karrel menolak di obati oleh gadis itu, karena moodnya sudah jelek sejak masih di sekolah tadi. Namun dengan tegasnya Ara ingin mereka pergi ke apotik. Gadis itu juga sampai mengancam tidak akan bicara pada Karrel lagi kalau cowok itu tidak mau di obati. Akhirnya Karrel setuju. Ia terlalu takut dengan ancaman Ara. Tidak melihat gadis itu dalam sehari saja dirinya sudah gelisah bukan main, apalagi kalau Ara tidak mau bicara dengannya lagi. Sangat berat buatnya.
Jadi mereka fokus dulu dengan tangan Karrel yang terluka dan akan membahas masalah pribadi terkait hubungan keduanya nanti. Karrel menertawai dirinya sendiri, masih tidak menyangka ia akan menjadi cowok yang penurut sekali pada Ara.
Tangan Karrel yang lain, yang tidak terluka memegangi rambut Ara yang menutupi sebagian wajah gadis itu supaya ia bisa menatap keseluruhan wajah Ara sampai puas.
Setelah mengobati luka Karrel, Ara meniup pelan dan membungkusnya dengan perban. Ia sangat berhati-hati karena takut akan membuat cowok itu merasa kesakitan. Padahal Karrel bahkan tidak merasakan apa-apa sama sekali. Ia sudah terbiasa dengan luka-luka kecil begitu. Hanya Ara saja yang sengaja membesar-besarkannya. Tapi ia tidak memungkiri kalau dirinya sangat senang, itu membuktikan bahwa Ara peduli padanya.
"Kenapa sampai mukul tembok? Kamu masih emosi karena kejadian yang menimpa aku tadi? Bagaimana kalau lukanya parah? Kamu tuh ya, bikin orang khawatir aja." celoteh Ara setelah selesai mengobati Karrel. Ia menaikkan wajahnya menatap cowok itu. Karrel memang tidak memberitahu alasan ia menyakiti dirinya sendiri, tapi Ara bisa menebaknya. Jangan-jangan Karrel bukan hanya menonjok dinding lagi, apa dia memukuli Vivi juga karena emosi? Kalau benar biarkan saja. Ara tidak peduli. Siapa suruh tuh cewek berani sekali membullynya. Biar tobat sekalian.
Karrel sendiri merasa lucu mendengar omelan Ara yang bercampur dengan dengan raut khawatir dalam wajah gadis itu, gadis yang akan menjadi miliknya nanti, itu pasti. Dia tidak ingin melepaskan Ara, ia sudah memastikan gadis itu harus menjadi miliknya.
"Ara," Karrel menangkup dagu Ara, membuat gadis itu menatapnya.
"Aku ingin menciummu," gumamnya pelan tak mengindahkan celotehan panjang gadis itu. Sontak Ara melotot dan langsung melirik kanan-kiri kemudian menatap Karrel lagi dengan wajah merona.
"Kau gila? Ini tempat umum tahu!" katanya menutupi rasa malu. Karrel mengalihkan pandangannya dari gadis itu sebentar dan melirik keadaan di tempat itu. Tempat itu tampak sepi, hanya ada segelintir orang saja yang berjalan ke luar masuk apotik. Lagipula langit sore yang mulai gelap itu membuat cahaya di tempat mereka duduk agak redup. Tidak ada yang akan melihat mereka kecuali berjalan tepat di depan keduanya.
Pokoknya Karrel tidak peduli lagi. Ia hanya ingin mencium Ara sekarang. Ia tidak bisa menahannya. Ditatapnya kembali gadis itu dan kembali bertanya,
__ADS_1
"Boleh?" ia berharap Ara akan memberinya ijin. Mungkin ini terdengar gila, namun Karrel sangat ingin merasakan manisnya bibir Ara.
"Tapi kita," ucap Ara lirih. Hubungan mereka tidak jelas. Ara juga ragu menjalin hubungan yang lebih jauh dengan Karrel. Ia tidak menampik menyukai pria itu juga, tapi kakaknya mungkin akan memisahkan mereka kalau tahu keduanya pacaran. Ia tidak mau itu. Ia lebih memilih tidak menjadi pacar Karrel namun tetap bisa berada didekat pria itu sebagai teman, daripada pacaran namun akhirnya harus putus karena kakaknya.
"Kita apa?" tanya Karrel menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.
"Kita," Ara terus menggantung ucapannya lalu tertunduk. Tidak tahu lagi harus berkata apa. Melihat itu, tangan Karrel terangkat memegangi kepala gadis itu yang tertunduk.
"Aku hanya ingin menciummu Ara, tidak akan meminta lebih. Setidaknya belum sekarang," gumamnya. Ara mendongak menatap cowok itu lama. Sesaat kemudian ia menutup mata memberi ijin pada Karrel untuk menciumnya.
Karrel tersenyum tipis. Tangannya berpindah menyentuh bibir Ara lalu mengecupnya sekilas. Ara pikir hanya begitu saja dan hendak membuka matanya lagi, namun Karrel kembali mengecup bibirnya. Kali ini tidak hanya sekilas dan bukan hanya sebuah kecupan.
Karrel mulai ******* bibir Ara dengan perlahan hingga membuat mata Ara terbuka karena sensasi yang berbeda yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Tutup mata kamu Ra," gumam Karrel menghentikan ciumannya sebentar lalu memulainya lagi ketika Ara kembali menutup matanya.
Mereka kembali berciuman. Karrel memberikan ciuman yang hangat dan lembut. Ia tidak mau Ara jadi takut kalau ia memulai ciuman pertama mereka dengan kasar. Setelah hampir lima menit melakukan itu, Karrel melepaskan ciumannya. Ia lalu menarik pinggang Ara dan membawanya ke dalam pelukan sambil mengusap-usap punggung gadis itu.
"Karrel kita," ucap Ara menggantung perkataannya lagi.
__ADS_1
"Ssstt, kalau kamu belum ingin hubungan kita berubah status, aku bisa menunggumu. Kita akan menjalaninya seperti sekarang dulu, sampai kamu siap." balas Karrel seolah tahu Ara masih ragu menjadi pacarnya.
Hanya saja Karrel tidak mengerti kenapa gadis itu ragu. Ia yakin sekali Ara juga menyukainya, tapi kenapa ragu pacaran? Bukannya lebih leluasa kalau status keduanya sudah jelas?
Tiba-tiba ia mengingat Ravel. Apa alasan Ara takut menjadi pacarnya karena Ravel? Kalau memang begitu, ia perlu bicara dengan Ravel. Masalahnya dengan lelaki itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Ara. Ia tulus menyukai Ara, tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan mereka.
Ponsel Ara bergetar. Ia merogoh saku roknya mengambil ponsel dan melihat siapa yang memanggilnya. Awalnya dia berpikir yang menelponnya adalah kak Kevan, karena dirinya belum masuk-masuk kerja juga. Selain dirinya yang belum siap masuk kerja, Karrel juga melarangnya masuk kerja hari ini namun Ara belum bilang tentang kondisinya pada kak Kevan. Mungkin bosnya itu menelpon karena ingin tahu kenapa ia belum datang.
Sayangnya bukan Kevan yang menelpon. Itu adalah Ravel, kakaknya.
"Kau dimana? Pulang sekarang!" setelah mengatakan satu kalimat itu, Ravel langsung menutup telpon sepihak tanpa menunggu jawaban Ara. Cara bicaranya juga terdengar marah.
"Siapa?" tanya Karrel karena Ara terus menatap ponselnya.
"Kakak, dia ingin aku pulang sekarang juga." sahut Ara menatap cowok itu.
"Kalau begitu ayo pulang. Aku anterin," kata Karrel lalu bangkit dari duduknya dan ikut menarik Ara berdiri.
__ADS_1