
Ara mematung ketika melihat Ravel tertusuk pisau dibagian pinggang sebelah kanan belakang. Ravel terjatuh kedepan hingga Ara tidak sanggup menahan berat badan pria itu dan keduanya jatuh bersamaan ke lantai. Sion merasa puas setelah melampiaskan emosinya dan langsung kabur karena menyadari orang-orang mulai berdatangan. Darah Ravel memenuhi tangan dan seragam Ara. Gadis itu gemetar ketakutan, lalu memekik kuat dan memeluk kakaknya yang terbaring tidak berdaya. Mata Ravel masih sesekali membuka menatapnya, tapi kemudian sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Kak Ravel."
Ara terisak memanggil nama Ravel, menepuk-nepuk pipinya, tetapi Ravel tidak menyahut. Ia menatap mata Ravel yang terpejam, Ara merasa sekujur tubuhnya menegang
ketakutan. Tidak, tidak. Gadis itu menggeleng-geleng, airmatanya semakin deras memenuhi pipinya. Ia merasakan darah kakaknya terus mengalir. Gadis itu mulai terisak kuat sambil terus memanggil-manggil nama Ravel.
"Ara," Ara mendongak. Karrel dan yang lain sudah berada di situ. Ia melihat Tristan juga sedang lari dari depan sana dan berlutut didepan mereka. Tentu Tristan terlihat khawatir. Kru-kru mereka ikut berdatangan panik. Bagaimana tidak panik coba kalau yang tertusuk adalah pemeran utama pria yang masih sedang syuting. Banyak orang yang menonton namun Ara sama sekali tidak mempedulikan mereka. Ia hanya ingin kakaknya bangun sekarang.
Ara menatap wajah Tristan dengan mata terbelalak cemas dan
menunjuk Ravel.
"Kak Tristan, kak Ravel dia... dia..."
Tristan cepat-cepat mengambil alih Ravel memeriksa keadaan keadaan pria itu, sementara Karrel menghampiri Ara dan membantunya berdiri. Mengecek kalau-kalau gadis itu terluka juga atau tidak. Bintang dan Devin membantu Tristan memegangi Ravel.
Mata Ara terus terpaku pada kakaknya yang sedang diperiksa oleh Tristan. Akhirnya lelaki itu melirik Bintang, meminta cowok itu memanggil ambulans agar segera datang ke lokasi kejadian karena Ravel terluka parah dan tidak sadarkan diri.
Sekujur tubuh Ara terasa dingin. Jantungnya seakan berhenti berdetak beberapa detik. Terluka parah? Separah apa? Tidak mau. Ia menghambur ke Ravel lagi.
"Kak Ravel baik-baik saja kan kak?" matanya menatap Tristan. Ia ingin Tristan menjawab kalau Ravel pasti akan baik-baik saja. Tristan menatap Ara dan berusaha terlihat tenang. Ia tidak menjawab karena tidak berani memastikan. Ravel memang masih bernafas, meski terluka parah. Yang paling penting sekarang adalah segera membawanya ke rumah sakit. Pandangannya berpindah ke Karrel, memberi sinyal dengan matanya pada cowok itu untuk menenangkan Ara.
Karrel yang mengerti kembali mengangkat Ara. Namun gadis itu mulai histeris dan meronta-ronta. Ia makin takut karena kak Tristan tidak menjawab pertanyaannya.
"Lepasin...lepasin.. aku mau sama kak Ravel."
"Ara, Ara! Dengerin aku!"
Karrel mendekap Ara kuat-kuat. Namun tetap saja kesulitan karena gadis itu menjadi begitu kuat. Setelah Ara mulai tenang, Karrel menangkup pipinya, memaksa gadis itu menatapnya.
__ADS_1
"Kakak kamu nggak bakalan kenapa-kenapa. Percaya sama aku. Sekarang kamu tenang dulu, hm?" ucapnya mencoba menenangkan.
"Tapi aku... aku.." Karrrel lalu menarik Ara ke dalam pelukan. Iya tahu gadis itu sangat syok. Kalau pisau itu tertusuk di badan Ara, pasti dia akan sama syoknya seperti Ara. Bahkan mungkin lebih. Karena Ara sudah benar-benar menjadi bagian dalam hidupnya.
"Kamu sekarang tenang dulu ya. Kita temenin kakak kamu ke rumah sakit." gumam Karrel lagi, mengusap-usap kepala gadis yang masih terisak dalam pelukannya itu.
Karrel merasa badan Ara panas. Ia juga merasakan gadis itu menggigil. Ia berubah khawatir dan memeriksa keadaan gadis itu.
"Kau merasa sakit? Dimana?" giliran Karrel yang berubah panik. Ara menggeleng-geleng. Kepalanya mendadak terasa pusing.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku mau temenin kak Ravel..."
Dan hal terakhir yang didengar Ara adalah pekikan Karrel ketika ia jatuh pingsan dalam pelukan pacarnya itu.
Bersamaan dengan itu, bunyi ambulance memenuhi sekolah.
***
matanya terasa berat, pandangannya masih agak kabur, kepalanya sakit. Dimana dia? Apa yang...?
Ia lalu teringat kejadian di sekolah tadi. Kak Ravel, mana kakaknya? Apa ini di rumah sakit? Ia harus cepat-cepat melihat kakaknya.
"Hei, mau kemana?" suara itu membuat Ara menghentikan kegiatannya yang mau melepaskan infus di tangannya. Karrel duduk di sisi ranjang tempatnya tertidur tadi.
"Kau sudah sadar?" Ara menggerakkan kepalanya ke arah suara yang lain. Wajah papanya sedang duduk di kursi tak jauh dari ranjang. Ara sontak kaget dan bingung. Kenapa pria tua itu ada di sini? Mau menyalahkannya lagi? Ia tidak punya mood menghadapi pria tua itu sekarang. Ia hanya mau melihat kak Ravel.
"Kenapa papa di sini?" ucapnya ketus. Tapi pria tua itu tidak menjawab, malah berdiri dan menatap Karrel.
"Karena dia sudah sadar, aku menyerahkannya padamu." kata papanya ke Karrel kemudian keluar dari ruangan itu tanpa sepatah katapun. Ara makin heran. Kenapa sih dengan pria tua itu. Tidak jelas sekali.
"Kenapa dia ke sini?" matanya berpaling pada Karrel.
__ADS_1
"Tentu saja melihat kondisi Ravel sama kamu." jawab Karrel. Memang tadi papa mereka langsung datang ke rumah sakit setelah mengetahui peristiwa penusukan yang menimpa Ravel. Ia juga terus berada di kamar rawat Ara yang jatuh pingsan akibat syok. Papanya Ara itu tadi hanya duduk dan sesekali menatap Ara. Ia hanya bicara seadanya.
"Hah?" raut wajah Ara seolah tidak percaya. Pasti papanya hanya mau melihat kondisi kakaknya, tidak termasuk dia. Tapi kenapa malah duduk dikamar rawatnya? Ara bingung, tapi lupakan saja. Ia lebih tertarik untuk mengetahui bagaimana kondisi kakaknya sekarang.
"Kak Ravel gimana?" tanyanya.
"Luka tusuknya lumayan dalam, ia kehilangan banyak darah. Tapi sudah diatasi secepatnya oleh dokter. Sekarang keadaannya tidak mengkhawatirkan lagi. Manajernya bersamanya." jawab Karrel panjang lebar.
"Aku mau melihatnya." ujar Ara dan berusaha bangkit.
"Tunggu, minum obat dulu." cegah Karrel menahan bahu Ara.
"Tapi..."
"Ara, kau tahu tadi kata dokter yang lebih mengkhawatirkan itu adalah dirimu. Demammu sangat panas dan kamu menggigil terustadi. Kalau terlambat di bawah ke rumah sakit, kau bisa tiba-tiba..." Karrel tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau kau sampai kenapa-napa." ucap Karrel lagi menggenggam jemari Ara. Ara menghela nafas. Ia akan mendengar Karrel dulu.
"Baiklah, aku akan minum obat dan istirahat sebentar. Tapi setelah itu antarkan aku menemui kak Ravel." gumamnya. Karrel mengangguk. Kemudian meraih mangkok bubur di atas meja dan menyuapi Ara.
"Kenapa Ravel sampai berkelahi tadi?" tanya cowok itu di sela-sela kegiatannya menyuapi Ara. Ia merasa penasaran karena Ravel adalah seorang publik figur dan dia tahu pria itu tidak akan memicu perkelahian kalau tidak ada yang memulai duluan. Raut wajah Ara berubah setelah mendengar pertanyaan sang pacar. Ia jadi lupa sama Sion yang menusuk kakaknya tadi. Ia menelan bubur dulu sebelum bicara.
"Ini semua gara-gara Sion."
"Sion?" Karrel menatapnya bingung. Siapa Sion?
"Sion adalah berandalan sekolah yang dulu ngejar-ngejar aku."
Oke, sampai sejauh ini Karrel makin penasaran.
"Tadi dia tiba-tiba nyium lalu nampar aku, kebetulan dilihat sama kak Ravel." tutur Ara.
__ADS_1
Mendengar perkataan itu, Karrel langsung berdiri dari kursi dengan wajah merah padam. Dia mengepal tangannya kuat-kuat merasa sangat marah. Mencium? Bahkan menampar? Berani sekali cowok sialan itu menghina pacarnya. Ia akan mencari sih brengsek bernama Sion dan menghabisinya sekarang juga.