
Ara terbangun ketika merasakan lengannya disengat. Dia membuka mata dan bertatapan dengan seorang dokter wanita yang sedang berdiri di sebelah kirinya.
"Ups aku membangunkanmu," wanita itu tersenyum ramah,
"Aku sedang mennyuntikan obat untuk lukamu, aku sudah berusaha melakukannya selembut mungkin, tetapi sepertinya aku tak selembut yang kukira." Ara mengamati wanita itu dari jas putih yang dikenakannya, dia adalah dokter. Pandangan gadis lalu berpindah ke arah lain dan mendapati wajah yang sangat tampan yang selalu ia rindukan berhari-hari ini tengah duduk di kursi bagian sisi kanan ranjangnya. Karrel, pria itu sedang duduk di sisinya dengan mata tertutup. Tentu saja belum sadar kalau ia sudah bangun.
"Dia sudah lelah karena menjagamu semalaman, makanya aku tidak enak membangunkannya." jelas dokter perempuan itu pelan. Dokter Libra. Awalnya dia berpikir gadis yang mengalami kecelakaan bersama Moses itu adalah pacarnya Moses, ternyata dia salah paham. Ia sempat mendengar pria yang tengah tidur itu memanggil pasiennya ini dengan sebutan sayang, dan terus berjaga sepanjang malam. Jadi dokter Libra bisa memastikan kalau pria itu adalah pacarnya gadis yang mereka semua panggil Ara itu. Tapi, apa hubungan gadis itu dengan Moses? Kenapa Moses sangat khawatir dan tidak mau beranjak dari rumah sakit?
Sebelum masuk ke sini dokter Libra sempat melihat Moses yang masih duduk di luar dengan pakaian yang sama. Artinya, pria itu belum pulang-pulang. Apa mereka terlibat cinta segitiga?
Dokter Libra tersenyum ketika melihat Ara menatapnya lagi seolah ingin bertanya apa yang terjadi dengannya.
"Perkenalkan, aku dokter Libra, aku dokter yang merawatmu kemarin ketika kau dibawa ke sini, kepalamu pasti sakit ya? Kau terbentur cukup keras. aku menjahit empat belas jahitan di sana."
"Kecelakaan?" Ara berusaha mengingat semuanya, tetapi ingatan terakhirnya hanya sampai pada teriakan Moses dan pelukannya yang begitu erat, sebelum semuanya menjadi gelap.
"Ya kecelakaan, kata polisi mobil kalian di sabotase dan remnya blong, mobil kalian terguling dan kepalamu membentur, untung kami dapat menyelamatkanmu."
"Bagaimana dengan pria yang bersamaku?" Ara bertanya cepat, sabotase itu pasti dilakukan oleh musuh yang ingin mencelakai mereka, apakah Moses terluka? Ataukah lelaki itu sudah mati? Ara tiba-tiba merasa cemas.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah bangun?" Karrel membuka matanya dan langsung memeluk Ara dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin melukai kekasihnya. Dokter Libra berdeham. Lalu pamit keluar setelah selesai melakukan tugasnya. Tidak mau mengganggu mereka. Astaga, dasar anak muda. Mereka tidak lihat apa masih ada dirinya di dalam ruangan itu. Main asal berpelukan saja.
"Aku kangen," gumam Ara menatap Karrel setelah tinggal mereka berdua diruangan itu. Tangan Karrel terangkat mengusap pelan wajah kekasihnya.
"Aku lebih kangen. Aku hampir gila karena nggak bisa melihatmu berhari-hari. Kamu baik-baik saja kan selama ini?" Ara mengangguk.
"Ara,"
suara khas itu terdengar dari pintu,
Ara dan Karrel menoleh bersamaan dan melihat Moses berjalan memasuki ruangannya, dengan pakaian yang sama kemarin, yang masih ada bercak darahnya, namun kondisi pria itu sehat dan tak kelihatan kalau dia baru saja mengalami kecelakaan. Hanya kaosnya yang ada banyak noda darah.
"Kak Moses, kau tidak apa-apakan?" tanya Ara khawatir. Biar bagaimanapun pria itu yang menolongnya kemarin, kalau tidak ia mungkin sudah meninggal. Karrel yang duduk disebelah tak menyukai ekspresi khawatir pacarnya pada pria itu, tapi ia mencoba bersikap dewasa. Ia sadar Moses adalah lawan yang kuat. Sekarang ini dirinya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pria itu. Sekalipun semua orang di sekolah mengeluk-elukannya, tapi dia tetap bukan apa-apa jika dibanding dengan pria yang mengaku-ngaku tunangan kekasihnya ini.
"Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Bagaimana kepalamu, masih sakit? Jahitannya banyak. Kau jangan banyak bergerak dulu." ucapnya. Ara mengangguk.
"Oh ya, kau masih ingat pacar yang aku ceritakan bukan? Kau juga pernah bertemu dengannya, namanya Karrel." seru gadis itu kemudian mengamit lengan Karrel. Kedua pria itu sama-sama malas meladeni ucapan Ara. Moses tahu jelas perasaannya pada gadis itu seperti apa sekarang. Meski dalam hati ia rela memberi tunangannya itu kembali ke pacarnya, tapi kalau melihat keduanya bersama begini, hatinya terasa tidak rela.
Karrel sendiri sama. Ia takut perasaan Ara padanya berubah karena kemunculan tunangan di masa lalunya yang bahkan jauh lebih mapan darinya. Kedua pria itu saling menatap tidak suka.
__ADS_1
"Ara!"
suara-suara itu begitu menyakitkan telinga. Lebih ke telinga Karrel dan Moses. Moses mendesis, siapa sih yang berteriak-teriak dengan cempreng begitu. Menyakiti telinganya saja. Ara sendiri kenal dengan jelas suara itu. Lalu para sahabatnya itu berlari masuk mendekatinya. Namun Ara tidak menggubris mereka. Ia malah tiba-tiba teringat kakaknya. Gadis itu menatap Karrel sebentar.
"Kak Ravel mana?" tanyanya.
"Pulang ke rumah sebentar diantar Tristan, katanya mau ambil beberapa barang-barang kamu. Kata dokter kamu masih harus istirahat dan berbaring beberapa hari di sini, belum disarankan untuk pulang. Jadi Ravel ke rumah mengambil barang-barangmu." sahut Karrel menjelaskan. Laras dan Manda hanya berdiri menatap mereka. Keduanya sesekali curi-curi pandang ke Moses yang berdiri di dekat Ara dengan wajah tercenung.
Moses tercenung mendengar penjelasan Karrel. Beberapa hari itu terlalu lama bagi Ara untuk berada dalam area publik yang cukup berbahaya. Otaknya berputar memikirkan keamanan seperti apa yang harus diterapkannya untuk menjaga Ara. Sih brengsek yang mencoba membunuh mereka berdua masih dalam pengejaran dan Gino berada entah dimana, masih mengincar mereka. Moses harus melindungi Ara dengan ekstra hati-hati.
Ia tidak terlalu yakin dengan perlindungan hanya dari keluarga gadis itu, dan dia tidak mempercayai polisi. Sepertinya dirinya memang harus menambahkan beberapa pengawal di rumah sakit ini untuk berjaga.
"Ara," gumam pria itu. Ara menoleh.
"Aku pulang dulu. Ada urusan penting yang harus aku kerjakan. Ingat, jangan berjalan sendiri kalau mau kemana-mana. Harus ada orang yang menemanimu." pandangan Moses berpindah ke Karrel saat mengatakan hal itu. Seolah mengisyaratkan pada pria itu kalau dia harus bersama Ara kemanapun gadis itu pergi.
"Aku akan menelpon beberapa pengawalku berjaga didepan. Jaga dirimu, nanti aku kembali lagi." ucap Moses lagi lalu beranjak pergi. Pandangannya sempat bertemu dengan kedua gadis yang berteriak heboh tadi, kemudian melanjutkan langkahnya. Setelah Moses pergi, Karrel ikut keluar mengambil resep obat Ara. Ia membiarkan Manda dan Clara bersama gadis itu sebentar.
"Siapa pria tampan tadi?"
__ADS_1
"Kok cowok-cowok yang deket sama kamu keren-keren semua? Dan yang tadi itu.., hampir bikin aku jantungan loh. Ganteng dan berkarisma banget gilaa..."
Ara memutar bola matanya malas. Dua sahabatnya ini benar-benar deh. Bukannya bertanya tentang kondisinya, malah menanyakan cowok.