
"Bagaimana dia?"
Moses menyeruak di antara kerumunan perawat itu. Para perawat di ruangan lain tampak mengejarnya karena luka di lengannya belum selesai di balut. Dokter dan perawat yang menangani Ara menoleh serentak dan sedikit terpana ketika menyadari bahwa di pintu ruangan gawat darurat itu, berdiri sosok Lelaki yang luar biasa tampan, mengenakan kaos putih yang penuh darah, dan tampak begitu marah.
"Bagaimana dia?!" sekali lagi Moses bertanya, dengan nada sedikit berteriak. Dokter Libra, putrinya dokter Nuan yang kebetulan bertugas di sana, cukup mengetahui reputasi Moses yang begitu kejam dan cepat naik darah kalau di usik. Dia menghampiri Moses dan mencoba menjelaskan.
"Dia baik-baik saja Moses, kami sudah menjahit luka di kepalanya. Tetapi dia kehilangan banyak darah, dan saat ini kami sedang mencari darah dari penyedia terdekat..."
"Cari darah itu, Tristan!!" Ravel tiba-tiba muncul dibelakang Moses bersama dengan Karrel dan Tristan. Saat mendengar perkataan dokter wanita itu, Ravel berteriak. Semua perawat dan dokter yang berada di situ makin dibuat heran. Belum cukup dengan pria tampan pertama yang muncul tadi, kini ada tiga pria tampan lainnya lagi yang muncul. Yang satunya sangat terkenal. Para perawat itu langsung mengenali Ravel tapi mencoba menahan diri. Mereka ingat masih ada pasien yang perlu di tangani.
"Aku akan membantu mencari darah untuk Ara, apa golongan darahnya?" tanya Tristan ke dokter Libra. Ia tahu Ravel terlalu panik saat ini untuk menjawab pertanyaannya. Moses ikut mendengar tak sabar. Ia sedikit menyesal karena tidak membawa pengawal ketika mengantar Ara tadi. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi.
"AB." dokter Libra menjawab cepat, lalu menatap Moses.
Tiba-tiba ia merasa takut akan api yang menyala di mata berwarna cokelat muda milik Moses. Dokter itu ingin tahu apa hubungan gadis yang terluka didalam sana dengan Moses sampai pria itu sekhawatir ini. Ia tahu Moses tidak pernah seperti ini sebelumnya. Moses tertegun sejenak,
"Ambil darahku, aku juga AB."
"Moses, kamu juga habis terluka karena kecelakaan itu." Libra menyela cemas. Perawat di dalam situ saling berpandangan. Ternyata dokter Libra mengenal salah satu dari keempat pria itu.
__ADS_1
"Kami tidak bisa mengambil darahmu, kondisimu tidak memungkinkan." jelas dokter Libra lagi. Moses mengepalkan tangannya marah,
"Dengar, ini hanya luka lecet kecil, dan aku ingin semua perkataanku dituruti, ambil darahku dan selamatkan dia! Dan kalau..."
Moses terengah, matanya melirik ke arah tubuh Ara yang terkulai lemas di sana,
"Dan kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya, aku akan membuat kalian menerima ganjarannya." gumamnya dengan nada mengancam yang menakutkan. Karrel yang berdiri disebelahnya tidak peduli lagi dengan mereka. Pandangannya sejak tadi hanya menatap ke Ara. Ia melangkah perlahan mendekati gadis itu. Tapi sebelum mencapai tujuannya, beberapa perawat cepat-cepat menahannya.
"Minggir, aku ingin menemaninya" gumam pria itu dengan nada rendah dan berat.
"Anda belum bisa menemuinya sekarang." kata salah satu dari perawat itu. Karrel masih mencoba menerobos masuk tapi Tristan dan Ravel buru-buru menahan pria itu.
"Karrel, biarkan mereka mengobati Ara dulu." kata Ravel.
***
Moses duduk di sofa kamar rawat Ara. Ia ingin sekali duduk disamping gadis itu, melihatnya dari dekat, tapi ada dua pria lain di sana, yang duduk di pinggir ranjang Ara. Samping kanan dan samping kiri. Moses akhirnya hanya bisa menatap Ara dari tempat duduknya. Gadis itu masih tertidur karena pengaruh obat. Transfusi darah sudah dilaksanakan dan kondisi Ara berangsur-angsur membaik.
Kali ini barulah Moses merasakan sedikit pusing dan sakit di lengannya yang tersayat besi mobil yang terguling tiga kali sebelum terhempas ke turunan jalan tadi.
__ADS_1
"Kondisinya sudah membaik," Tristan yang berdiri di sebelahnya berusaha memecah keheningan, dialah yang paling tenang diantara mereka semua, dan ia sedikit mengerti perasaan Moses. Selama ini pria itu sudah membantu menjaga Ara, pastilah ia merasa bersalah karena terjadi kecelakaan seperti ini pada gadis itu. Tristan bisa melihat dengan jelas ketulusan di mata pria itu. Karena tidak ada yang bicara padanya sejak tadi, Tristan mencoba berbicara padanya.
"Kau tahu siapa kira-kira pelakunya?" tanyanya kemudian. Moses menggeram, dia sudah tahu bahkan tanpa perlu menyelidiki. Pengawal ayahnya. Bajingan busuk itu berani-beraninya melakukan ini. Dia tidak tahu apa yang menantinya. Moses pasti akan mencincangnya sampai menjadi bubur.
Tak lama kemudian, seorang pria berbadan kekar memasuki kamar itu. Namanya Gino, pengawal kepercayaan Moses yang tadi disuruh datang oleh pria itu ke rumah sakit. Ia berdiri di sebelah Moses.
"Kau sudah menemukannya?" tanya Moses mengangkat kepala menatap Gino. Gino bergerak sedikit gelisah,
"Belum tuan muda, ketika dia sadar bahwa dia gagal membunuh anda dan nona Ara, dia langsung melarikan diri entah kemana."
"Cari dia, temukan lalu bawa dia ke depanku, hidup-hidup." suara Moses terdengar mengerikan dan Gino tahu Moses sedang sangat marah, saat ini seharusnya pria brengsek itu berdoa supaya dia ditangkap dalam kondisi sudah mati, karena kalau Moses sudah menemukannya dalam kondisi hidup...Gino tidak berani membayangkan bagaimana jadinya. Bosnya itu tidak pernah membunuh orang dengan sengaja, tapi menyiksa sampai orang itu merasa lebih baik mati saja, Moses pernah melakukannya.
"Ada satu lagi tuan..." Gino tiba-tiba teringat. Moses hanya melirik tidak berminat.
"Apalagi?" matanya kembali menatap ke Ara.
"Ayah anda," nama itu membuat Moses makin geram. Ia tahu mungkin ayahnya hanya ingin menghukum dan memberinya peringatan, tapi ini sudah keterlaluan. Pengawal yang pria tua itu sewa adalah seorang pembunuh bayaran. Bagaimana Moses tidak berpikir kalau ayahnya sedang mencoba membunuhnya bersama tunangannya? Ia mungkin memiliki kekuatan untuk menyelamatkan diri, tapi Ara? Sialan, hanya gara-gara barang haram itu ayahnya jadi gelap mata begini. Bahkan berbuat sadis pada anaknya sendiri.
"Pulanglah dan katakan pada ayahku, mulai hari ini aku bukan anaknya lagi." kata Moses dengan suara beratnya. Ia tidak mau lagi terlibat dengan pria tidak punya perasaan itu. Lebih baik dia pindah saja bersama ibu dan kedua adiknya yang berada di...
__ADS_1
Moses kembali menatap Ara. Kalau ia pindah ke tempat ibunya, artinya ia tidak akan pernah melihat gadis itu lagi. Perasaannya makin kacau. Ibunya dan adik-adiknya berada di negara lain, haruskah ia pergi? Pria itu mengusap wajahnya frustasi.
Tristan terus menatap pria itu heran. Sepertinya di pundak Moses, pria itu memegang tanggung jawab yang amat besar. Resiko menjadi anak seorang mafia seperti ini rupanya.