
Habis syuting, Ravel langsung pulang ke rumah. Ia ingin melihat Ara. Ia tahu selama ini dirinya selalu bersikap dingin pada gadis itu tapi bukan berarti ia tidak mau peduli lagi dengan semua yang di lakukan Ara.
Ia tidak suka Ara bergaul dengan Karrel, apalagi pacaran. Kalau mereka benar-benar pacaran ia akan mendesak Ara menjauhi lelaki itu.
Mata Ravel mencari-cari keberadaan Ara di seluruh sudut rumah tapi gadis itu tidak ada. Di kamarnya tidak ada, di ruang tamu tidak ada, di kebun belakang rumah juga tidak. Kemana gadis itu? Jangan bilang ia belum pulang sejak tadi.
Ravel merasa kesal. Saat dirinya tidak mau tahu dengan keberadaan Ara, gadis itu selalu mengganggunya. Sekarang, ketika dia mencari adiknya itu, Ara malah menghilang.
Kemana dia? Ravel melirik jam tangannya yang menunjukkan hampir jam delapan malam. Apa anak sekolah pulang malam-malam begini?
Pria itu tahu Karrel adalah sosok lelaki yang seperti apa. Tapi itu dulu. Ia tidak tahu Karrel yang sekarang. Semua orang bisa berubah. Alasan dirinya tidak mau Ara dan Karrel bersama bukan karena Karrel sosok laki-laki yang tidak baik, hanya saja hubungan mereka di masa lalu menjadi salah satu alasan kenapa Ravel tidak mau Ara terlibat dengan mantan temannya itu.
Ravel akhirnya memutuskan menunggu Ara di ruang tamu sambil membaca skrip.
Hampir dua puluh menit Ravel menunggu sampai terdengar langkah Ara yang memasuki rumah besar itu. Hanya ada dirinya di ruangan itu. Biasanya pembantu di rumah itu memang tidak berani mengganggu majikan mereka kalau tidak ada yang penting-penting.
Bukannya julid atau gimana-gimana. Tapi bagi beberapa pembantu rumah itu apalagi yang baru kerja satu dua tahun, mereka merasa keluarga Ara ini adalah keluarga yang beda dengan kebanyakan keluarga lain.
Biasanya kalau keluarga itu saling sayang dan orang tua suka menasehati. Tapi keluarga Ara, papanya jarang sekali pulang rumah, kakaknya jarang sekali bicara apalagi bersikap ramah pada sang adik dan lebih mementingkan pekerjaannya, sedang Ara sendiri seperti anak yang terlantar.
__ADS_1
Sudah banyak pembantu yang kasihan pada Ara, apalagi kalau papanya datang. Pasti Ara akan terus dimarahi dan di maki-maki sebagai anak yang tidak becus. Kelihatannya lelaki tua itu pulang ke rumah hanya untuk melampiaskan kekesalannya pada anak perempuannya.
"Darimana saja kamu?" suara itu menghentikan langkah Ara. Ia tidak jadi terus ke kamarnya
Ara sudah lelah seharian ini. Gimana tidak, pulang sekolah ia langsung lanjut kerja. Pastilah capek. Ia ingin secepatnya masuk ke kamar, terus mandi dang langsung tidur. Tapi ia tidak terpikir sama sekali kakaknya itu akan berada di ruang tamu jam segini. Biasanya juga pria itu sudah di kamarnya dan tidak mau di ganggu sama sekali. Tumben sekali malam ini ada di luar.
Pandangan Ara tertuju ke Ravel yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Biasanya ia akan bersemangat kalau Ravel bicara duluan, tapi sekarang tidak lagi. Ia tahu pria itu tidak akan pernah bersikap manis padanya. Paling-paling kalau bicara pasti karena dia beginilah, jangan gangguinlah dan lain sebagainya.
"Rumah teman," jawab Ara tak ada manis-manisnya. Ia sengaja berbohong karena tidak mau kakak dan papanya tahu ia sekarang bekerja. Bisa bahaya.
Ravel memicingkan mata mencari kebohongan di raut wajah gadis itu.
"Laras!" sahut Ara lagi cepat. Untung otaknya dalam hal berbohong sangat lancar.
"Kau yakin tidak berbohong? Aku melihatmu pergi bersama Karrel tadi." Ravel masih tidak percaya. Ia merasa Ara sedang berbohong padanya.
Ara sendiri cukup kaget mendengar pernyataan kakaknya. Aduh, dia harus bilang apa coba. Cepat cari alasan Ara, cepat. batinnya.
"A..Aku memang minta tolong Karrel anterin aku ke rumahnya Laras. Kalau nggak percaya kakak bisa tanya dia." katanya berharap lelaki yang duduk di sofa itu akan percaya.
__ADS_1
"Apa dia pacarmu sampai kamu harus memintanya mengantarmu?"
kali ini pertanyaan Ravel berhasil membuat Ara melongo. Kenapa kakaknya itu jadi kayak polisi yang suka menginterogasi? Dan lagi, kapan dia dan Karrel pacaran. Mereka memang dekat dan terlihat seperti orang pacaran, tapi mereka tidak sedang pacaran. Belum.
"Asal kakak tahu, aku dan Karrel meskipun tidak pacaran kami berdua sangat dekat. Karrel baik padaku tidak seperti seseorang." ucap Ara sekaligus memberikan sindiran.
Ravel jelas tahu maksud gadis itu adalah dirinya. Pria itu tersenyum miring.
"Dengar, kamu itu masih anak sekolah. Jaga dirimu baik-baik dan jangan kebanyakan bergaul dengan anak laki-laki. Jangan sampai dirimu terjerumus ke hal-hal yang tidak baik. Mengenai Karrel, aku tidak suka kami dekat dengannya."
makin ke sini Ara makin tidak mengerti dengan perkataan kakaknya. Maksudnya apa sih sebenarnya. Memangnya kenapa kalau dia bergaul dengan cowok-cowok, Memangnya kenapa kalau dia dekat dengan Karrel juga? mereka kan orangnya asik-asik dan selalu memperlakukannya dengan baik. Kakaknya saja yang aneh. Tapi, tumben sekali kak Ravel bertanya-tanya tentang kehidupan sekolahnya. Ara merasa aneh saja.
"Masih ada lagi?" tanya gadis itu menatap kakaknya malas.
"Pergilah." balas Ravel. Ia sendiri merasa hari ini terlalu banyak bicara pada adiknya.
Ara cepat-cepat berlari ke kamarnya dan langsung mengunci pintu rapat-rapat.
Setelah mandi dan berganti baju tidur, ia melemparkan dirinya ke kasur besar miliknya itu. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Ia masih berpikir ada apa dengan kakaknya hari ini. Tidak biasanya pria itu akan berbicara panjang lebar bahkan menasehatinya seperti tadi. Tapi ya sudahlah. Ara akan menganggap sang kakak sedang mabuk. Ia tidak mau senang dulu karena merasa kakak kandung satu-satunya itu mulai peduli padanya. Tidak mungkin.
__ADS_1
Tak lama kemudian gadis itu tertidur.