ARAKA

ARAKA
Bab 59


__ADS_3

Karena guru olahraga mereka tidak begitu sehat, akhirnya hari ini pelajaran olahraga hanya disuruh mencatat saja. Kelas Ara tidak olahraga fisik di lapangan. Ara sih santai-santai saja. Ia malah makin rajin mencatat dan belajar. Kalau ada yang tidak dia tahu pasti dia akan bertanya ke temannya yang paling kutubuku di kelas itu. Namanya Mita, cewek berkacamata tebal dengan gaya yang cupu tapi ramah dan suka bergaul itu.


Teman-temannya yang lain, sejak tadi banyak dari mereka yang menggerutu tidak suka mencatat katanya. Tapi ada juga yang asyik-asyik saja tuh.


"Eh Clar, kamu perhatiin nggak kalo akhir-akhir ini mata Ravel sering curi-curi pandang ke aku?" tanya Manda bukannya mencatat malah ngobrol. Bukan tanpa sebab ia bilang begitu. Pernah satu kali dia, Ara dan Clara lagi duduk-duduk di bangku koridor dekat lokasi syuting Ravel. Waktu itu tanpa sengaja Manda melihat Ravel sedang menatap ke arah mereka. Kemarin juga, waktu mereka berjalan ke kantin, Manda lihat Ravel terus menatap ke mereka. Dan seterusnya, tiap kali ketiga gadis itu berjalan bersama dan melewati lokasi di tempat Ravel berada, pandangan pria itu akan selalu mengarah ke mereka. Entah siapa yang aktor keren itu lihat di antara ketiganya tapi Manda begitu percaya diri kalau dirinyalah yang Ravel lihat. Ia senyum-senyum sendiri mengingat itu. Apa itu hanya kebetulan? Tapi... Rasanya tidak deh. Masa sih kalau kebetulan bisa terjadi sampai berulangkali begitu.


"Hush, percaya diri sekali anda!" balas Clara merasa tidak terima. Mungkin saja kan yang Ravel lihat itu dia. Siapa sih yang tidak suka diperhatikan oleh aktor sekelas Ravel.


Manda tertawa miring.


"Kamu tuh nggak cocok berdiri di sebelah Ravel tahu, kesannya kayak majikan sama pembantu. Mending aku kemana-mana, masih punya tampang artis." ledek Manda memeletkan lidahnya pada Clara.


"Tahu ah," Clara merajuk tapi Manda terus meledeknya. Ara yang asyik mencatat dibelakang mereka hanya menggeleng-geleng. Kedua sahabatnya itu sangat ribut, pembahasan mereka selalu saja tentang kakaknya. Tidak ada yang lain apa?


Ara berhenti mencatat dan merenung sebentar. Ia tahu yang sebenarnya yang dilihat kak Ravel itu adalah dia. Memang dia selalu menghindar, tapi entah kebetulan atau apa setiap jalan yang dia lewati, akan selalu berpapasan dengan kak Ravel, meskipun kakaknya itu hanya bisa melihatnya dari jauh. Dan dia yang terus membuang muka. Sejujurnya Ara merindukan kakaknya, tapi ia masih sulit menerima kenyataan kalau mereka bukan saudara kandung. Ia tidak ingin bertemu kak Ravel dulu.


"Ara, katanya kamu mau belajar matematika. Gimana kalau kita belajar bareng?" tanya Adit yang entah sejak kapan sudah berdiri didepannya. Gadis itu mengangguk, tapi ia ingat Karrel bilang akan mengajarinya.


"Kapan belajar barengnya?" tanyanya. Tidak enak juga menolak tawaran baik Adit. Ia juga tahu Adit ingin belajar serius.

__ADS_1


"Sebentar aja gimana? Terserah mau di rumahku atau rumah kamu." sahut Adit.


"Di rumah kamu. Tapi besok aja boleh nggak? Soalnya nanti sore aku masih ada kerja, setelah itu ada yang mau aku urus." tawar Ara, daripada dirinya menolak. Ia


Kening Adit terangkat,


"Kerja? Kamu kerja? Di mana? Kerja apa?" tanyanya bertubi-tubi. Memangnya pekerjaan orang tua gadis itu apa yang membuat Ara masih harus bekerja. Perasaan gadis itu dulu tidak ada kerja, memangnya Ara kekurangan uang?


"Di cafe, aku kerja partime." Adit mengangguk-angguk, tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi karena dia masih harus mencatat. Ia lalu kembali duduk dibangkunya.


Pulang sekolah, Karrel sudah setia menunggu Ara di luar kelas gadis itu, seperti biasa. Karrel mengantar Ara ke cafe dulu. Habis gadis itu kerja Karrel menjemputnya lagi.


Ara menatap sebentar ke mobil milik Karrel. Ia lupa bilang pada cowok itu kalau lingkungan tempatnya tinggal sekarang gangnya tidak bisa dilewati oleh mobil. Tapi ya sudah, cowok itu sudah terlanjur bawa mobil. Nanti mobilnya bisa parkir didepan gang saja, karena jarak apartemennya kalau mereka masuk ke dalam gang tidak begitu jauh.


Karrel tidak begitu banyak bicara selama perjalanan, apalagi melihat Ara yang tampak kelelahan. Cowok itu menyuruh Ara istirahat di mobil. Ketika sampai, sesuai dengan arahan Ara, Karrel memarkir mobil di sebuah halaman cukup luas yang dia tidak tahu dimana itu.


Ia mengikuti gadis itu menyusuri jalan kecil menuju tempat tinggal Ara. Karrel berjalan dibelakang Ara sambil mengamat-amati keadaan sekitar. Suasana lingkungan itu tampak kumuh dan semrawut. Karrel bertanya-tanya darimana Ara bisa menemukan tempat seperti ini. Motor saja akan susah melewati gang kecil yang mereka lewati sekarang ini.


Setelah beberapa menit berjalan mereka berhenti didepan sebuah apartemen tua yang cukup besar. Karrel bahkan tidak berpikir ada orang berani membangun apartemen di tempat terpencil ini. Karrel belum memberi komentar apapun. Ia masih sibuk mengamat-amati apa yang dia lihat.

__ADS_1


Bahkan ketika ia ikut masuk ke apartemen sempit Ara, yang pertama ia lihat adalah pintu-pintu dan jendela juga sudut-sudut ruangan itu. Cowok itu sampai-sampai memeriksa pintu dan jendela itu kuat atau tidak. Karena gedung ini sudah begitu tua dan usang jadi Karrel tidak bisa kalau tidak memeriksa. Ia ingin memastikan Ara aman.


"Minum dulu," ucap Ara mengulurkan segelas air putih pada Karrel. Cowok itu mengambil gelas itu dari tangan Ara dan meneguk air pemberian sang pacar itu. Ia lalu kembali fokus ke pekerjaannya tadi.


"Tempat ini tidak terlalu aman, kau harus pindah secepatnya." kata Karrel memutuskan. Ia duduk disamping meja belajar Ara setelah memeriksa semuanya. Menurutnya gedung ini sudah terlalu tua. Ia tidak mau Ara bertahan di tempat kumuh begini, sendirian lagi.


"Tapi ini yang paling murah." ujar Ara.


"Aku takut terjadi sesuatu padamu, apalagi kita belum tahu lingkungan seperti ini bagaimana. Keamanannya tidak terjamin. Masalah biaya kau tidak perlu khawatir Ara, aku akan mengurusnya." kata Karrel lagi.


"Tapi..." 


Ara menghela nafas. Ia bangkit berdiri dan melangkah mendekati Ara. Duduk disebelah gadis itu. Menatapnya dalam dan lembut.


"Lupakan dulu itu. Sekarang, kau sudah bisa cerita padaku?" cowok itu meraih jemari Ara, menggenggamnya.


"Alasan kau pergi dari rumah." lanjutnya. Karrel ingin tahu. Mungkin dengan begitu ia bisa membantu Ara memikirkan jalan keluar. Sebenarnya Karrel tidak mau Ara sampai pergi dari rumah, kalau masih bisa selesaikan masalah dengan keluarganya tanpa keluar dari rumah, kenapa tidak. Biar bagaimanapun mereka adalah keluarga gadis itu. Ara lebih aman tinggal dengan keluarganya sendiri.


Ara menatap Karrel lama, menghela nafas pelan, kemudian mulai bercerita.

__ADS_1


__ADS_2