ARAKA

ARAKA
Bab 56


__ADS_3

Nenek Inggrid!


Sial, pasti Ara mendengar nenek Inggrid bicara dengannya. Pria itu mengusap wajahnya frustasi. Rahasia yang mati-matian ia simpan selama ini... Semuanya sia-sia. Ara... Pandangannya turun ke gadis itu. Ia tidak mampu berkata-kata. Hatinya terpukul begitu melihat wajah sedih itu. Tanpa ia sadari, Ara melepaskan diri darinya. Ravel terus berdiri mematung.


"Benarkan? Aku sebenarnya bukan anak kandungmu? Kak Ravel juga bukan kakak kandungku." ucap Ara lagi. Papanya sempat terdiam sebentar, tapi lagi-lagi lelaki tua itu tersenyum sinis.


"Baguslah kalau kau tahu. Jadi aku tidak perlu bilang sendiri."


"Papa cukup!" Ravel tidak tahan lagi. Ia tidak mau Ara makin kecewa pada mereka. Mereka memang menutupi rahasia besar ini pada Ara. Tapi sungguh, ini semua demi kebaikan Ara. Papanya tega sekali, padahal pria tua itu sudah berjanji pada mendiang mamanya untuk tetap memperlakukan Ara sebagai putri kandungnya. Pandangan Ravel berpindah ke Ara.


"Ara, dengar dulu penjelas.."


"Aku tidak perlu dengar penjelasan apa-apa. Siapa orang tua kandungku, itu yang perlu aku tahu." potong Ara langsung. Nada bicaranya dingin.


"Huh! Kau pikir kami akan mengangkatmu sebagai anak di keluarga ini kalau orang tua kandungmu masih ada? Salahkan mereka yang terlalu cepat meninggal dan istriku yang baik hati itu terus-terusan memaksaku merawatmu. Harusnya kau berterimakasih pada kami." Ravel menggertakan gigi. Rahangnya mengeras, ia sangat ingin memukul papanya sekarang juga tapi matanya lebih fokus pada Ara yang terus berjalan mundur. Tentu saja dia maju mendekati gadis itu yang terlihat sangat putus asa.


Meninggal?


Nafas Ara tercekat. Ia terlihat linglung. Keluarga kandungnya sudah meninggal? Ya Tuhan, ia benar-benar sendirian. Tidak ada lagi tempat baginya. Keluarganya yang sekarang tidak menginginkannya lagi, sementara keluarga kandungnya tidak ada lagi. Ia harus kemana?


Ara mengepal tangannya kuat-kuat. Sesaat kemudian ia merasakan sebuah tangan kekar meraih tangannya.


"Ara, kalau kau ingin tahu tentang keluarga kandungmu aku bisa cerita..." gumam Ravel lagi dengan wajah penuh permohonan. Tanpa sadar air mata Ara jatuh. Ia tidak ingin bicara dengan kakaknya atau pun papanya sekarang. Ia ingin menenangkan diri dulu. Otaknya terlalu penuh. Ia capek, Ara melepaskan genggaman Ravel dan berlari masuk ke kamar, mengunci dirinya dalam kegelapan kamar itu. Meringkuk di sisi tempat tidur sambil terisak.


Di ruang tamu, Ravel menatap papanya kecewa.


"Papa puas sekarang?" katanya. Lelaki tua itu hanya diam. Ravel tidak tahan lagi lalu pergi. Ia ingin mengetuk kamar Ara, menjelaskan tentang semuanya, menenangkan gadis itu, tapi tertahan...


Tangisan Ara terdengar ke luar, ke telinga Ravel yang berjalan dari arah ruang tamu, melewati belokan lorong di ujung, tempat kamar Ara berada.

__ADS_1


Ravel langsung tertegun. Terpaku di depan pintu kamar Ara. Tangisan gadis itu terdengar sangat menyayat hati, membuat siapapun yang mendengarnya turut merasa perih.


Tiba-tiba saja hati Ravel terasa sangat perih, dia berdiri di sana, menunggu lama sambil bersandar di pintu kamar Ara, sampai kemudian isakan Ara menjadi pelan dan menghilang dalam keheningan.


Gadis itu menangis sampai ketiduran...


Sambil menghela napas, Ravel melangkah pergi ke kamarnya. Ia akan mencoba bicara dengan Ara besok. Malam ini biarkan gadis itu istrihat.


                                   ***


Ara menangis semalaman sampai akhirnya dia tertidur. Ketika bangun, dengan tertatih dia melangkah ke kamar mandi. Tubuhnya sakit,


seluruh tubuhnya terasa sakit akibat stres seharian kemarin.


Dia langsung ke kamar mandi dan mencuci tubuhnya dengan bersih, menggosok kulitnya di pancuran kamar mandi sampai bersih. Air matanya sudah terkuras habis, bahkan Ara sudah tidak mampu menangis lagi.


Cukup sudah! Ia sudah muak dengan semua masalahnya. Keluarganya yang sekarang tidak pernah mencintainya. Jadi untuk apa dia masih tinggal di rumah ini?


Hati Ara terasa sakit, dia tidak mampu melihat kakak dan papanya. Dia harus pergi dari rumah ini, segera.


"Mau kemana?" pintu kamarnya terbuka tanpa peringatan, membuat Ara terperanjat kaget dan menyesal


kenapa dia tidak terpikir untuk menguncinya.


Kak Ravel berdiri di sana, lelaki itu sudah mandi dan bercukur, berganti pakaian, siap untuk berangkat kerja.


Ara menatap Ravel sebentar, lalu dengan tegar ia memalingkan


wajah dan memfokuskan diri untuk merapikan pakaiannya.

__ADS_1


"Aku akan pergi dari rumah ini."


hening. Lalu Ravel mengeluarkan kata-kata tegasnya.


"Aku tidak akan mengijinkan kau pergi Ara. Kau tetap adikku. Siapapun itu, tidak ada yang bisa mengusirmu dari sini.


Ara menghela nafas menatap Ravel sebentar.


"Tidak ada yang mengusirku, aku hanya ingin pergi."


"Ara,"


"Bukannya kak Ravel senang aku pergi? Kan selama ini kakak selalu menganggap aku sangat mengganggu. Jadi lebih baik kalau aku pergi. Sebelum ada orang yang tahu hubungan kita berdua. Akan sulit menjelaskan nanti karena kakak seorang publik figur, tentu saja mereka akan mengulik semua tentang latarbelakang keluargamu setelah mengetahui keberadaanku." ucap Ara panjang lebar.


"Aku tidak peduli Ara. Aku hanya tahu kau adalah adik kandungku, tidak ada yang bisa mengubah semua itu. Karena sejak lahir kau sudah bersamaku." balas Ravel tegas. Ara sendiri tidak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya. Dulu sangat dingin padanya, giliran dia mau pergi pria itu melarang keras.


"Kenapa kakak seperti ini? Bersikap dinginlah seperti biasa, aku sudah terbiasa dengan itu." ucapnya. Ravel makin merasa frustasi. Ia mengusap wajahnya kesal.


"Tidak bisakah kau tinggal saja? Demi aku. Mama sudah pergi, kalau kau pergi juga aku akan semakin kesepian. Aku tidak akan melarangmu melakukan apapun yang kau inginkan. Kau mau apa silahkan, kau juga bisa bersama Karrel, tapi tetaplah di sini, mm?" Ara bisa mendengar nada bicara kakaknya yang penuh permohonan itu. Ia juga merasa sedih, tapi ia butuh sendiri dulu untuk menata hatinya. Untuk menerima semuanya.


"Beri aku waktu," gumamnya pelan.


"Sampai kapan?"


"Aku tidak tahu,"


"Ara, aku mohon." Ravel mencekal lengan Ara, ingin menahannya ketika gadis itu bersiap-siap keluar dengan tekat bulat tapi Ara tetap kekeuh melepaskan genggaman Ravel dengan teganya, meninggalkan rumah itu. Melewati semua pelayan dengan senyuman lebar. Ia sudah berusaha untuk tegar. Memulai hidup baru sebagai seseorang yang mandiri.


Ravel terduduk di lantai. Suasana hatinya makin memburuk. Segala penyesalan datang menghampiri dirinya. Harusnya dia tidak pernah  bersikap dingin pada Ara. Ia sangat menyayangi gadis itu bahkan lebih. Itu sebabnya dia bersikap begitu dingin, untuk melupakan perasaan terlarang yang dimilikinya terhadap Ara. Tapi, ia sama sekali tidak menyangka Ara akan pergi meninggalkan dirinya seperti ini. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

__ADS_1


Tanpa sadar butiran air bulat itu jatuh membasahi pipinya. Ia tidak bisa menganggap Ara sebagai wanita yang dia sukai karena biar bagaimanapun Ara sudah menjadi adiknya. Yang bisa ia lakukan hanyalah mencintai gadis itu dalam diam.


Ketika memutuskan meredam perasaannya dengan bersikap cuek dan dingin, Ara malah menganggap dia membencinya. Sekarang, rahasia tentang gadis itu terbongkar. Ara memilih pergi, Ravel tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia merasa begitu frustasi. Moodnya untuk pergi kerja sudah hilang.


__ADS_2