
Pulang sekolah, Karrel sudah setia menunggu di depan kelas Ara. Hampir sepuluh menit cowok itu berdiri, bersandar di tembok dengan bersedekap dada sambil mendengarkan musik.
Kejadian tadi membuat Karrel lebih waspada. Ia tidak mau terjadi peristiwa yang sama lagi pada Ara. Ia harus memastikan gadis itu sampai ke rumahnya dalam keadaan baik.
"Ra, liat tuh." seru Manda pada Ara, menunjuk ke tempat Karrel berdiri dengan dagunya. Teman-teman Ara yang lain senyum-senyum menggoda Ara. Mereka merasa Ara sangat beruntung bisa dekat dengan cowok populer seperti Karrel. Masih ada Devin dan Bintang juga.
"Enak tuh, ada doi yang setia nunggu buat pulang bareng." kata Laras sengaja menunjukkan tampang irinya. Yang lain mengangguk. Kemarin juga mereka lihat Ara dibonceng sama Karrel. Jangan-jangan mereka sudah jadian lagi tapi Ara sengaja bohong. Tidak bisa dibiarkan. Kalau mereka memang sudah jadian harus ada traktiran besar-besaran.
"Apaan sih," celetuk Ara pada teman-temannya. Tapi mereka terus menggodanya sampai ia jadi malu. Wajahnya memerah.
"Samperin gih. Karrel udah nunggu lama tahu," bisik Laras di telinga Ara.
Ara sendiri berjalan cepat ke arah Karrel. Ia berhenti di depan cowok itu. Karrel yang menyadari keberadaan Ara, buru-buru melepaskan earphonenya, memasukan ke saku celana lalu tersenyum menatap Ara.
"Kamu ngapain di depan kelas aku?" tanya Ara. Ia harus memastikan. Mungkin saja kan Karrel tidak sedang menunggunya tapi dia sudah geer duluan.
"Nungguin kamu, siapa lagi?
pandangan Ara berpindah ke suara-suara berisik yang menggodanya dari di depan kelasnya. Siapa lagi kalau bukan teman-temannya coba. Jarak mereka memang dekat, jadi mereka bisa mendengar percakapan Karrel dan Ara. Ara jadi malu sendiri karena merasa teman-temannya itu sangat kampungan.
Lalu tanpa pikir panjang gadis itu meraih pergelangan Karrel dan pergi dari situ. Karrel sendiri hanya membiarkan Ara menuntunnya sambil senyum-senyum. Mereka berhenti di bawah tangga dekat perpustakaan. Tempat itu sudah sepi kalau pulang sekolah begini. Hanya ada segelintir siswa-siswi yang terlalu suka belajar saja yang masih ada di dalam. Tapi biasanya orang-orang yang suka belajar itu tidak terlalu suka bergosip. Jadi, sekalipun mereka melihat Karrel dan Ara berbincang di situ pasti mereka tidak akan terlalu mempedulikannya. Itu menurut Ara sih.
__ADS_1
"Ngomong di sini aja, di depan kelas aku nggak aman. Banyak teman-teman yang liat." ujar Ara.
Karrel terkekeh,
"Memangnya kenapa kalau teman-teman kamu liatin kita ngobrol?" ucapnya menatap lurus Ara. Gadis didepan itu kini bersedekap dada menatapnya.
"Kamu nggak denger tadi? Mereka itu mengira aku pacaran sama kamu. Makanya dari tadi godain aku terus. Gimana sih?" celoteh Ara sebal. Karrel makin tertarik dengan obrolan itu.
"Kita berdua memang keliatan seperti orang pacaran, wajar teman-teman kamu salah sangka." balasnya.
"Tapi kan kenyataannya kita nggak pacaran, aku juga nggak mungkin pacaran sama kamu!"
perkataan Ara langsung menghilangkan senyuman di wajah Karrel. Ia merasa dadanya seperti diremas. Ia memandang serius gadis itu. Karrel yakin selama mereka mulai saling kenal dan banyak menghabiskan waktu bersama, Ara bahagia dengannya. Gadis itu perlahan mulai bergantung padanya. Sekalipun belum ada kejelasan apapun dalam hubungan mereka, Karrel tahu Ara juga menganggap mereka berdua menjalani hubungan yang tidak biasa.
"Kenapa," gumam cowok itu pelan.
"Kenapa kita nggak mungkin pacaran?" ia menatap kedalam mata Ara dengan tatapan yang begitu dalam dan menuntut. Menuntut jawaban dari gadis itu. Ingin tahu alasan kenapa Ara mengatakan kalimat yang tidak ingin ia dengar tadi.
Karena kak Ravel kayaknya nggak bakal restuin hubungan kita.
Ara hanya bisa menjawab alasan yang sebenarnya dalam hatinya. Ia juga bukan gadis bodoh yang tidak tahu hubungan seperti apa yang sedang di jalaninya bersama Karrel. Ia tahu alasan cowok itu memperlakukannya dengan sangat baik dan berbeda dengan perempuan-perempuan lainnya.
__ADS_1
Pernah ada satu waktu Ara dan Bintang hanya berdua saja. Mereka berbincang panjang dan Bintang pernah bilang kalau dirinya tidak pernah melihat Karrel perhatian pada perempuan sebelumnya. Jadi Bintang menyimpulkan Karrel pasti menyukainya. Jujur waktu mendengar itu Ara merasa senang. Ia juga merasa dirinya mulai menyukai cowok itu.
Awal-awal pertemuannya dengan Karrel memang dirinya tidak begitu suka, ia merasa Karrel adalah cowok dingin yang angkuh, menyebalkan dan sulit ditebak. Tapi semakin dekat dengannya, ia perlahan tahu Karrel sebenarnya adalah sosok pria yang perhatian. Penampilan luarnya saja yang seperti itu.
Karrel juga sangat mengerti dirinya. Ara tentu saja ingin sekali bersama dengan seseorang yang perhatian dan mengerti dirinya seperti Karrel. Dalam hal apapun cowok itu sempurna di matanya. Bisa berdebat saat ia ingin berdebat, marah kalau dia berbuat salah, menghibur saat dia sedih, dan menerima dirinya apa adanya. Kalau di ingat-ingat lagi, walaupun mereka belum lama kenal, Karrellah yang paling mengerti dirinya. Cowok itu juga tahu semua rahasia yang tidak bisa ia bilang ke teman-temannya.
Tapi, perkataan kakaknya semalam membuatnya dilema. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ara menggigit bibirnya lirih.
"Aku ingin kita..."
"Dekat sebagai sahabat? Itu hanya ada dalam mimpimu." potong Karrel seolah tahu apa yang akan di katakan oleh Ara.
"Aku yakin kau sangat sadar aku tidak pernah menganggapmu sebagai sahabat, aku ingin lebih Ara." tambah cowok itu penuh kepastian namun juga ada rasa frustasi dalam hatinya. Bagaimana kalau Ara menolaknya? Tidak, ia harus meyakinkan gadis itu.
Ara tertegun, ia tahu maksud Karrel. Namun dirinya belum bisa mengambil keputusan. Ketika gadis itu menatap ke bawah, perhatiannya teralihkan ke buku-buku jari Karrel yang terluka. Refleks ia meraih tangan Karrel dan menatap cowok itu. Lupakan pembicaraan serius mereka sebentar. Ia fokus ke luka di tangan cowok itu.
"Ini kenapa?" tanyanya. Ia bertanya-tanya kenapa sejak bersama cowok itu tadi dirinya tidak melihat luka itu sama sekali. Ya ampun, harusnya ia lebih perhatian.
"Aku memukul tembok," jawab Karrel seadanya. Ia sendiri sudah lupa ada luka ditangannya. Hari ini pikirannya hanya penuh dengan Ara. Gadis didepannya itu berdecak kesal.
"Kau masih bisa bawa motor kan?" tanya Ara lagi. Karrel mengangguk.
__ADS_1
"Ayo ke apotik sekarang." lalu tanpa pikir ijin Ara menarik Karrel menuju parkiran.