
Cuaca yang cerah dan udara yang berhembus segar mengiri perjalanan Ravel dan Ara ke luar Kota. Hari ini Ara izin tidak masuk sekolah dan Ravel sendiri membatalkan syutingnya.
Nenek, alias mama dari almarhumah mama mereka akan menggelar pesta syukuran dirumahnya. Belum jelas juga pesta apa itu sebenarnya. Semalam sang nenek menelpon Ravel, perempuan tua itu mau semua cucu-cucunya datang. Sebenarnya Ara tahu nenek mereka hanya ingin melihat kakaknya, tidak dengan dirinya. Ara sendiri tidak ingin ikut namun dia juga tidak mampu bilang tidak mau ikut ke Ravel. Apalagi kakaknya itu selalu bersikap dingin dan jarang sekali bicara. Alhasil, disinilah dirinya sekarang. Dalam mobil sang kakak menuju Bandung.
Keduanya diam membisu selama perjalanan. Tidak ada seorang pun yang ingin mengangkat suara duluan untuk memulai percakapan. Ara lebih memfokuskan pikirannya pada barang-barang apa saja yang akan dibelinya nanti untuk kebutuhan nginap di rumah sang nenek. Yap, mereka akan menginap di Bandung selama dua hari. Jujur Ara tidak suka. Tapi ia ikut kak Ravel saja. Daripada dianggap sebagai cucu durhaka.
Mata Ara sesekali melirik Ravel yang sibuk mengendarai mobilnya. Pikirannya tentang barang-barang yang ingin dibeli tadi hilang dalam otaknya seketika. Ia terus memandangi Ravel. Selama ini dirinya tidak begitu memperhatikan. Ia tahu kakaknya ini memang tampan, namun ia baru sadar, kalau dilihat dari dekat seperti ini kak Ravel lebih tampan lagi. Sangat tampan malah.
Tubuhnya tegap, dada bidang dan bahu lebar. Wajahnya, walau terlihat dingin tapi sangat menarik. Membuat orang ingin melihatnya berkali-kali. Pantas saja fansnya sangat banyak, dan banyak yang menawarinya main film. Laras dan Manda bahkan tergila-gila pada kakaknya ini. Ara masih tidak menyangka kakaknya akan tumbuh setampan ini, tidak seperti dirinya yang biasa-biasa saja.
"Ada apa?" suara rendah itu membuyarkan pikiran Ara.
"Hah?" ia malah melongo bingung menatap sang kakak yang tetap fokus menyetir.
"Dari tadi kau lihat ke sini terus, ingin bilang sesuatu?" ucap Ravel datar. Meski fokus menyetir, ia tahu adiknya terus-terusan menatapnya sejak tadi.
"Oh? Ah, a..aku cuma mau bilang ke kakak kalo nanti kita mampir sebentar di supermarket. Aku mau beli alat mandi dan beberapa pakaian dalam." balas Ara tiba-tiba linglung. Untung otaknya berjalan cepat jadi bisa memikirkan apa yang akan dia bilang selanjutnya. Kalau tidak, ia tidak bisa membayangkan bagaimana canggungnya dirinya bicara dengan kakak kandungnya sendiri. Ya ampun, padahal dulu ia tidak merasa secanggung ini berhadapan dengan kakaknya.
Ara memanyunkan bibirnya maju mundur karena Ravel sama sekali tidak menggubris permintaannya. Padahal ia sudah meminta dengan sepenuh hati. Tiba-tiba ia merasakan mobil yang dinaikinya itu berhenti. Seketika pandangannya kembali melirik Ravel dengan raut wajah penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Cepetan, aku kasih waktu sepuluh menit." kata Ravel. Ara masih menatap pria itu bingung. Ia belum sadar didepan sana ada sebuah supermarket kecil. Setelah Ravel menunjuk dengan dagunya barulah gadis itu mengerti. Ia cepat-cepat turun. Sepuluh menit itu kecepatan menurutnya, tapi biar deh. Daripada tidak sama sekali.
***
Ara bangun dari tidurnya setelah perjalanan panjang dari Jakarta-Bandung. Akhirnya mereka sampai juga. Ia dan kakaknya masih berada dalam mobil yang kini sudah terparkir dalam garasi rumah nenek mereka. Nenek Inggrid namanya.
Seperti yang Ara pikirkan, nenek Inggrid langsung berhamburan memeluk Ravel, tapi tidak dengan dirinya. Ara tahu nenek Inggrid memang tidak terlalu menyukainya, ia sudah terbiasa. Makanya waktu kecil dulu ia lebih memilih tinggal bersama mama dan papa, meski mereka sibuk kerja. Daripada ikut kak Ravel tinggal dengan nenek mereka. Benar, dulu kakaknya SMP di Bandung sampai SMA kelas satu, sebelum memutuskan pindah ke Jakarta, home schooling dan jadi artis terkenal seperti sekarang.
"Ravel sayang, kamu kok gak pernah jenguk nenek lagi sih. Kan nenek kangen bangeet sayaang," seru nenek Inggrid terus mencium-ciumi Ravel. Ara yang melihat tingkah labil sang nenek malah merasa geli. Ia setia menonton pertemuan keduanya itu sambil bersandar di mobil dengan bersedekap dada.
"Kan aku sibuk nek, jadwal kerja aku padat banget." Ara makin merasa geli melihat ucapan lembut kakaknya. Biasanya juga dingin. Tapi sama nenek Inggrid malah berubah lembut banget, mungkin karena udah tua kali. Tapi tetap aneh dimata Ara.
Tuhkan beda. Nenek Inggrid selalu bicara ketus padanya bahkan jarang tersenyum. Kalau sama kakaknya, jangan ditanya lagi. Kayaknya cuman dia deh yang nggak disukai sama nenek Inggrid, karena semua sepupu-sepupunya, cucu kesayangan sih nenek tua ini juga.
"Udah nyapa nek, neneknya aja yang gak denger. Faktor usia kali yah," balas Ara malas sekaligus meledek. Dipikir dirinya takut apa. Nenek Inggrid belum tahu aja kalau dirinya ini tidak penakut lagi padanya seperti dulu. Lihat raut wajahnya nenek Inggrid. Ingin rasanya Ara memotret ekspresi nenek tua itu dan mengabadikannya dalam sebuah album.
"Kamu udah berani ngelawan nenek sekarang, hah?"
"Dih, siapa yang ngelawan, orang nenek Inggrid yang mulai."
__ADS_1
"Ara,"
Ara melirik Ravel yang menatapnya tajam dan penuh peringatan. Gadis itu terpaksa diam.
"Lihat kakak kamu, dia anak baik dan nggak pembangkang kayak kamu ini. Tapi gak heran juga sih, karena kamu bukan benar-benar a..."
"Nenek!" potong Ravel langsung. Entah kenapa Ara seperti melihat raut wajah panik kakaknya, tapi hanya sekilas. Neneknya juga berubah jadi sedikit salah tingkah. Kenapa tiba-tiba mereka berubah begitu? Apa yang salah? Ara merasa aneh.
"Nenek mau ngomong apa sih?" akhirnya ia bertanya karena rasa penasarannya. Kalau tidak salah kalimat terakhir nenek Inggrid tadi kamu bukan.., bukan.., Ahh, Ara lupa. Ia tidak bisa mengingatnya lagi.
"Nggak ngomong apa-apa, kamu beda aja sama kakak kamu yang sangat berprestasi ini." kata nenek Inggrid. Ara memutar bola matanya malas. Ia jadi berpikir kapan mereka akan masuk kedalam rumah besar itu. Ia sudah capek duduk di mobil beberapa jam. Ia butuh berbaring. Lagian, bikin capek aja ngobrol diluar.
"Nek, kapan nenek nyuruh aku sama kak Ravel masuk? Udah pegal nih badan aku."
"Masuk aja sana," balas nenek Inggrid ketus. Namun ketika bicara pada kak Ravel lagi, gaya bicaranya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Ara menggeleng-geleng. Kok bisa yah punya nenek gini amat.
Meski nenek Inggrid itu menyebalkan dimata Ara, tapi menurut Ara neneknya ini sangat kaya. Lihat saja dari rumahnya yang besar dilengkapi dengan interior yang mewah. Kira-kira apa yang dikerjakan neneknya sampai bisa dapat banyak uang ya? Bisa jadikan nenek Inggrid punya bisnis besar.
Ara menghela nafas karena di ruang tamu rumah itu sudah ada banyak orang. Siapa lagi kalau bukan keluarga dari mamanya, anak-anak dan para cucu nenek Inggrid yang lain. Para sepupunya yang sombong-sombong itu. Ara tidak suka sepupu-sepupunya itu sejak dulu.
__ADS_1