
Ara sudah berhenti menangis dan terlihat lebih tenang. Walaupun Karrel tidak mengerti kenapa gadis itu menangis seperti tadi, ia tidak berusaha bertanya. Ia yakin Ara akan memberitahunya kalau memang mau. Ia tidak akan memaksa. Yang bisa dilakukannya hanya mencoba menghibur gadis itu, karena jelas sekali Ara membutuhkannya.
Karrel melirik Ara dan tersenyum.
"Pemandangan dari sini sangat indah." ucapnya. Aa membalas senyumnya.
"Ini salah satu tempat kesukaanku kalau sedang berjalan-jalan. Menenangkan diri." gumamnnya. Kalimat terakhir ia ucapkan hanya dalam hati.
Mereka berdua terdiam. Menikmati pemandangan sore pantai itu, menikmati hembusan angin yang beraturan, dan menikmati kesunyian. Tiba-tiba Karrel bertanya,
"Kamu belum makan kan?" Ara menoleh.
"Setelah ini kita cari tempat makan." lanjut Karrel. Ia sudah membuat keputusan.
"Lupakan semua masalah kamu dan bersenang-senang sebentar. Kita pergi makan apa saja yang mau kau makan. Bagaimana?"
seulas senyum menghiasi bibir Ara. Mereka berpandangan, lalu Ara mengangguk.
"Baiklah."
Karrel mengulurkan tangan. Ara menyambut uluran tangannya. Ketika tangan gadis itu berada dalam genggamannya, Karrel merasa dirinya jadi lebih bersemangat.
Mereka makan malam di sebuah restoran China yang menyenangkan di daerah pusat kota. Selesai makan Karrel langsung mengantar Ara pulang. Ia lihat gadis itu sudah sangat kelelahan. Apalagi seharian ini Ara sudah menggunakan energi yang begitu banyak. Gadis itu butuh istirahat.
"Besok mau aku jemput? Kita bisa ke sekolah bareng," tanya Karrel.
__ADS_1
Ara tersenyum lalu menggeleng.
"Aku ke sekolah sendiri aja. Kita masih bisa ketemuan di sekolah bukan?" Karrel lalu mengangguk setuju.
"Ya sudah. Sampai ketemu di sekolah besok. Sekarang masuklah." gumam Karrel mengusap kepala Ara lembut lalu mendorongnya masuk ke dalam gerbang rumah gadis itu. Satpam yang berjaga tadi siang masih ada.
Ara melambai ke Karrel. Cowok itu baru pergi setelah Ara benar-benar menghilang dari pandangannya.
Di dalam rumah, ternyata sudah ada pria paruh baya yang di cari-cari Ara sejak tadi. Yah, itu papanya. Lelaki tua itu sedang duduk di ruang tamu bersama Ravel.
Ara menghentikan langkahnya, tidak jadi masuk kamar. Ia menatap papanya yang sedang menatapnya tajam.
"Ada urusan apa kau datang ke kantor?" tanya papanya. Tatapannya tajam dan menusuk. Ia mendengar sendiri dari sekretarisnya kalau Ara sedang mencarinya tadi.
"Aku ingin menanyakan sesuatu." sahut Ara memberanikan diri. Selama ini ia selalu takut pada papanya, melawan balik atau bicara membela diri rasanya sangat berat. Tapi hari ini ia berusaha keras untuk menyampaikan semua yang ada dalam hatinya. Ia bisa lihat lelaki tua itu tersenyum sinis padanya. Pandangannya berpindah ke Ravel, kakaknya.
"Dengar, jangan pernah lagi datang ke kantor. Aku malu anak tidak berguna seperti dirimu menunjukkan diri di depan karyawanku." ucap papanya sinis.
Ara tersenyum kecut. Satu hari ini ia berpikir sangat keras. Menganggap semua yang dia dengar dari nenek Inggrid itu bohong. Berusaha untuk tidak pernah dengar apa-apa meski dirinya sangat ingin tahu yang sebenarnya. Tapi orang-orang ini, tidak pernah lagi menganggapnya keluarga.
Ara jadi bertanya-tanya apakah kasih sayang yang dia terima dulu dari mereka waktu mama masih hidup itu juga palsu? Apa mereka pura-pura menyayanginya didepan mama? Ia tahu jelas mamanya sangat menyayanginya, tapi tidak yakin dengan dua orang di depannya ini.
"Apa alasanmu membenciku? Aku salah apa? Kau selalu mengatakan aku anak yang tidak berguna, memangnya kau tahu apa? Apa kau pernah menjadi orang tua yang berguna?" tanyanya penuh keberanian. Ia tidak mau menjadi gadis bodoh yang terus takut pada papanya. Mungkin dengan melawan, kata-kata seperti dirinya bukan putri kandung keluarga itu akan keluar dari mulut pria tua itu.
"Ara, perhatikan sikap dan ucapanmu didepan papa." tegur Ravel. Ia tidak mengerti kenapa dengan adiknya itu. Tiba-tiba berubah drastis hari ini. Tidak banyak bicara seperti biasa, dan malah berani melawan papa mereka. Bukannya mau membela papanya, ia hanya tidak mau Ara melawan karena takut gadis itu akan di hukum berat. Tapi Ara tampak tak mempedulikan tegurannya.
__ADS_1
"Kenapa aku harus menjaga sikapku sedang kalian saja tidak menjaga sikap kalian didepanku. Selalu bersikap dingin, dan terus-terusan mengatakan aku anak yang tidak berguna, apa itu sikap yang baik sebagai keluarga? Harusnya kalian mendidikku di umurku sekarang ini."
kata Ara panjang lebar.
"Brengsek!"
sebuah vas bunga melayang ke tembok dan pecah berserakan di lantai. Ara sempat tergelak kaget tapi kemudian sikapnya berubah biasa. Ia tidak takut lagi sekalipun benda itu melayang ke tubuhnya. Dalam pikirannya sekarang hanyalah melawan, melampiaskan semua perasaan yang dia simpan selama ini.
"Kau pikir kau siapa berani melawanku? Anak sialan, tidak tahu diri!" tukas papanya sudah berdiri dari kursi.
PLAKK!!!
tamparan keras lolos dilayangkan orang tua itu di pipi Ara. Ara termundur beberapa langkah dan jatuh ke lantai akibat tamparan yang terlalu keras, sudut bibirnya sampai berdarah.
Ravel langsung bangkit dari kursi berlari ke arah adiknya. Wajahnya khawatir.
"Papa!" serunya menahan amarah. Ia merasa lelaki tua itu sudah keterlaluan. Mulut Ara sampai berdarah. Beberapa pembantu yang sejak tadi bersembunyi di dapur sampai berbondong-bondong melihat apa yang terjadi dari balik pintu. Mereka kasihan melihat Ara yang diperlakukan begitu. Para pembantu itu tahu kalau sikap Ravel ke adiknya juga dingin, tapi mereka tidak lihat Ravel membenci Ara. Majikan mereka itu malah sering bertanya tentang Ara kalau tidak melihat keberadaan gadis itu di rumah. Tapi papanya, mana ada orang tua yang membenci anak kandungnya seperti ini.
Ravel memegangi Ara, membantunya berdiri.
"Sudah kubilang jangan melawan," gumam pria itu pelan di telinga Ara. Nadanya tidak dingin lagi seperti biasanya. Sayangnya, sudah terlambat buat Ara. Ia tidak bisa senang lagi selembut apapun kak Ravel bicara sekarang. Gadis itu hanya tersenyum hambar. Matanya sudah panas tapi ia berusaha keras untuk tidak menangis. Pandangannya lurus ke depan.
"Sekarang aku tahu, kenapa kalian sangat membenciku..." Ara melirik Ravel yang sedang memegangi lengannya dan menatap papanya lagi.
"Karena aku bukan siapa-siapa. Aku tidak terlahir di keluarga ini. Aku... bukan anak kandungmu kan?" rasanya berat mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya, tapi akhirnya kalimat itu bisa tersampaikan juga.
__ADS_1
Ravel disampingnya kaget bukan main. Dari mana Ara tahu, darimana gadis itu men...
Nenek Inggrid!