ARAKA

ARAKA
Bab 72


__ADS_3

Seorang pria bertubuh jangkung, wajah tampan namun tanpa senyuman, dengan pakaian serba hitam itu memasuki sebuah mansion mewah bergaya Eropa yang berdiri kokoh ditunjang dengan beberapa pilar dan ukiran-ukiran patung khas Eropa dan dilapisi dengan cat berwarna putih menambah kesan kemegahan rumah besar itu.


Pelayan berjejer menyambutnya yang memasuki mansion bak seorang pangeran. Semua pelayan itu membungkuk sopan tanpa berani menatap sih pria tampan itu. Wajahnya memang terkesan menakutkan, tapi sebenarnya tidak semenakutkan seperti yang pelayan-pelayan itu pikirkan. Lelaki dewasa kira-kira berumur dua puluh dua tahun itu aslinya memiliki hati yang hangat. Hanya saja keadaan dan status istimewanya mengharuskan dia menampilkan wajah datar dan berwibawanya didepan umum.


Pria itu memasuki salah satu ruangan kerja milik lelaki tua yang biasa dia panggil ayah. Dia duduk dengan santai di sofa sambil memutar-mutar kunci mobilnya. Pandangannya sesekali melirik ke laki-laki paruh baya yang duduk di meja kerja didepan sana dengan mata terus fokus ke lembaran kertas yang di bacanya.


"Katakan, kenapa memanggilku?" ia berbicara dengan santai. Hubungannya dengan sang ayah biasa-biasa saja, meski mereka tidak begitu dekat karena kesibukan masing-masing.

__ADS_1


Lelaki tua yang biasa di panggil tuan Ruff itu menghentikan kegiatannya dan menaikkan kepala menatap putra pertamanya itu. Ia masih punya dua putra lain. Satunya remaja berumur empat belas tahun, satunya lagi masih berusia tujuh tahun.


"Tunanganmu," mendengar sebutan itu, lelaki yang tengah duduk bermalas-malasan di sofa itu menghentikan kegiatannya memutar-mutar kunci mobilnya dan menatap ayahnya lurus-lurus. Ia memang pernah melihat tunangannya itu, tapi hanya saat sang tunangan lahir. Sesudah itu ia tidak pernah melihatnya lagi karena kabarnya tunangannya itu dibawa lari oleh mamanya sendiri. Ia bahkan lupa siapa nama tunangannya itu. Lagipula ia tidak peduli keberadaan gadis itu sekarang. Karena ia sendiri tidak pernah tertarik dengan perjodohan ini. Meski begitu, dirinya tidak bisa begitu saja membatalkan pertunangannya karena tidak memiliki kekuasaan melawan sang ayah. Tunggu, kenapa ayahnya tiba-tiba menyebut tunangannya? Apa gadis itu sudah ditemukan? Jangan bilang iya.


"Kenapa dengannya?" tanyanya memastikan.


"Ada apa dengan sikapmu itu Moses?" tuan Ruff menatap Moses dengan raut wajah tajam. Benar, nama putranya adalah Moses. Dan pria itu sekarang menyandarkan diri tanpa semangat di sofa.

__ADS_1


"Kau yakin itu benar-benar anaknya om Lewis?" ia bertanya tidak yakin. Lebih berharap semoga tidak.


"Wajahnya sangat mirip dengan mamanya sewaktu muda dulu. Kita beruntung karena salah satu keluarga yang membesarkannya putra mereka adalah seorang artis terkenal. Secara kebetulan pengasuh mamanya melihat tunanganmu di TV dan langsung melaporkan. Tinggal tunggu saja anak buah Lewis mencari cara untuk melakukan tes DNA. Kalau benar-benar itu tunanganmu, maka kita akan segera menemuinya." tuan Ruff menjelaskan panjang lebar. Moses mendengus keras.


"Kalau aku tidak salah ingat, mamanya bukan hanya membawa lari tunanganku itu. Kau lupa wanita itu melarikan diri alasan utamanya karena ingin mengamankan diri dari serangan musuh? Kau yakin benar-benar menjodohkanku dengannya karena ingin aku menikahinya? Aku tahu benar kau punya rencana lain dibalik itu tuan Ruff. Bagaimana kalau barang yang kau cari tidak ada pada gadis itu? Bukankah perjodohan ini sia-sia?" kata Moses tak kalah panjang. Ia tahu sekali apa yang sedang di cari ayahnya. Kasihan sekali tunangannya yang dicari bertahun-tahun cuma untuk di manfaatkan.


"Walau aku memiliki niat utama yang lain, aku sama sekali tidak ada niat untuk mencelakainya. Biar bagaimanapun dia adalah putri sahabatku. Dia akan tetap menjadi istrimu di masa depan dan menantuku. Dia akan diperlakukan dengan baik di rumah ini. Jadi, lebih baik gadis itu jatuh di tangan kita daripada musuh yang berniat mengambil keuntungan setelah itu mencelakainya." Moses menghembuskan nafas lelah. Terserah pria tua itu saja. Dia masih lelah untuk memikirkan cara lain.

__ADS_1


__ADS_2