ARAKA

ARAKA
Bab 73


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Karrel memasuki apartemennya pakaian santai. Hari ini adalah hari terakhir Ara tinggal ditempatnya. Dan kebetulan sekarang adalah hari sabtu, hari keduanya bisa menghabiskan waktu bersama. Mengingat waktu Ara hari ini hanya sampai siang, Karrel memutuskan untuk datang pagi-pagi sekali.


Karrel menghentikan langkahnya di ruang duduk. Pandangannya beralih ke arah dapur. Ia bisa melihat punggung Ara yang berdiri didepan kompor membelakanginya. Gadis itu memasak? Tumben sekali. Memangnya bisa? Karrel tidak percaya. Ia harus memastikan. Beberapa hari ini saja dia terus yang menyiapkan sarapan sebelum mereka ke sekolah. Selama Ara tinggal di apartemennya ini.


"Sedang apa?" Ara langsung melompat dan memekik kuat mendengar suara Karrel yang tiba-tiba sudah muncul dibelakangnya. Padahal tadi dirinya sedang fokus bagaimana membuat mie goreng.


"Karrel! Kamu ngagetin tahu." omel Ara sebal. Tangannya terangkat mencubit lengan Karrel. Karrel terkekeh. Matanya berpindah ke kompor yang sudah menyala dan diatasnya sudah terletak wajan goreng serta minyak secukupnya. Kening Karrel berkerut. Pasalnya ia melihat Ara sedang memegang mie sedap goreng di tangannya, tapi kok...


"Mau masak apa?" tanyanya memastikan.


"Mie goreng." jawab Ara langsung.


"Tapi aku agak bingung. Gimana taroh bumbunya. Sekalian di gabungin saat mienya di goreng apa nggak. Kamu tahu masak mie goreng kan? Cara masaknya digabung apa gimana?" tanya gadis itu menatap Karrel yang kini menampakan wajah cengonya didepan gadis itu.


Benarkan dugaannya. Ara memang tidak tahu caranya masak mie. Mana ada mie goreng di gorengnya kayak gitu. Dan pagi-pagi begini, kenapa juga gadis itu makan mie. Sarapan mie di pagi hari tidak sehat. Karrel mematikan kompor lalu memegang kepala Ara .


"Mana ada masak mie goreng kayak begitu pake minyak Ara." katanya mengambil bungkusan mie yang belum terbuka dari tangan Ara itu. Ara menatap pria itu bingung.


"Emang gitu kan?" ia bertanya karena masih penasaran. Tadinya ia mau mencari tutorial masak mie goreng di YouTube, tapi tidak jadi dan berpikir-pikir sendiri. Tapi Karrel malah bilang salah. Salahnya dimana? Memang kalau mau menggoreng sesuatu pakai minyak bukan? Dia mengamati Karrel mengganti wajan goreng dengan panci rebus lalu menaruh air didalam panci itu. Setelah airnya panas, Karrel membuka bungkusan mie dan menaruhnya ke dalam air. Dan menunggunya sesaat. Mata Ara fokus pada Karrel yang memasak mie itu sampai jadi.


"Oh, jadi gitu cara masaknya? Aku pikir masaknya pake minyak." ujar Ara tersenyum bodoh. Ia jadi malu sendiri pada dirinya yang bodoh.


Gadis itu menarik kursi yang tersusun rapi di meja makan lalu duduk. Bau mie goreng yang harum itu membuatnya tidak sabar untuk memasukan makanan itu kedalam mulut.

__ADS_1


"Kenapa makan mie pagi-pagi?" tanya Karrel yang kini duduk disebelahnya. Mengamatinya mengunyah makanan itu. Ia hampir tidak mengijinkan Ara tadi namun akhirnya merasa tidak tega juga melihat wajah Ara yang sangat ingin mencicipi makanan itu.


"Aku lagi suka aja." jawab Ara sambil menikmati makanannya.


"Sekali ini aja aku ijinin." ucap Karrel lagi. Ia menopang tangan didagunya terus menatapi Ara dari samping.


Selesai Ara makan, mereka berpindah ke ruang duduk sambil menonton tv. Ara menyandarkan diri di bahu Karrel sambil memainkan jemarinya, dan Karrel yang terus-terusan mengelus-elus pelan puncak kepala gadis itu meski matanya fokus ke layar besar didepannya.


"Rel,"


"Hm?"


"Semalam aku mimpi." pandangan Karrel berpindah, ia melirik Ara yang kini memainkan jemari tangan kiri pria itu.


"Ssstt..." Karrel menutupi bibir Ara dengan telunjuknya. Ia tidak suka mendengar Ara ngomong begitu sekalipun itu hanya mimpi.


"Jangan ngomong gitu lagi, aku nggak suka." katanya. Ara mengangguk patuh. Dari semalam sebenarnya ia merasa perasaannya tidak terlalu enak. Ia takut mimpinya benar-benar jadi kenyataan. Ia tidak mau terpisah dengan Karrel, dengan keluarganya, dengan orang-orang yang dia sayang tentu saja. Badannya panas dingin tiap kali mengingat itu.


"Rel, aku lelah." ucapnya lemah kemudian memeluk Karrel, menganggap cowok itu seperti guling. Badannya memang sedikit terasa kurang enak dari semalam. Mungkin karena kurang tidur karena bermimpi buruk.


Karrel yang ikut merasakan perubahan gadis itu menyentuh dahi sang pacar dengan punggung tangan. Pria itu berubah khawatir saat merasakan tubuh Ara cukup panas, badan gadis itu juga.


"Kamu demam, badan kamu panas. Aku anterin ke dokter ya?" katanya bersiap-siap berdiri. Tapi Ara menahannya.

__ADS_1


"Nggak usah, bentar lagi pasti membaik. Aku cuma lelah doang." gumam gadis itu. Karrel berdecak.


"Jangan keras kepala Ara, badan kamu panas begini." katanya tegas.


"Tapi aku nggak mau di rumah sakit. Aku pengen sama kamu aja. Mau ya?" rengek Ara membuat Karrel merasa tidak tega. Ia mengecek suhu badan Ara lagi. Setelah memastikan gadis itu bisa di rawat di rumah, Karrel menghentikan niat awalnya.


"Ya udah, sekarang aku bawa kamu ke kamar. " gumam lelaki itu lalu menggendong Ara. Menidurkannya di kasur besar miliknya dan menyelimuti gadis itu dengan selimut tebal.


"Tunggu bentar aku ambil pil." ucapnya mengusap puncak kepala Ara lembut kemudian berbalik keluar kamar.


Karrel berjalan menuju dapur, mengambil baskom, mengisinya dengan air dingin dan mengambil handuk kecil serta obat penurun panas kemudian berjalan kembali kekamarnya.


Sesampainya di kamar, ia meletakkan baskom berisi air itu di atas meja kecil samping ranjang, memeras air pada handuk kecil tersebut dan meletakkan handuk itu didahi Ara untuk mengompres panasnya. Ia mencoba mencoba membangunkan Ara yang masih setengah-setengah sadar itu untuk minum obat.


"Sayang bangun sebentar yuk, minum obatnya dulu biar panasnya turun." ucap Karrel pelan sambil mengelus rambut Ara dan mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu agar pacarnya dapat mendengar suaranya yang sengaja dipelankan. Ara membuka matanya sesekali.


"Ayo bangun dulu ya." ucap Karrel lagi melepas kompresan pada dahi Ara dan membantu gadis itu bangun.


Ara menurut saja membiarkan Karrel membantunya duduk dan menyuapinya minum obat. Lalu membantunya tidur lagi di ranjang, tak lupa mengompres kembali dahi sang pacar. Karrel terus menatap Ara, tak berniat berdiri dari tepi ranjang. Ia menggenggam tangan gadis itu erat-erat.


"K..Karrel," gumam Ara pelan sambil membuka matanya sesekali.


"Mm? Butuh sesuatu?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Aku mau tidur sambil meluk kamu." ucap Ara. Karrel tersenyum lembut. Ia tahu Ara sangat manja kalau sakit begini. Lalu tanpa pikir panjang lagi pria itu ikut masuk kedalam selimut dan berbaring bersama Ara. membiarkan gadis itu memeluknya. Tanpa sadar ia malah ikut tertidur.


__ADS_2