ARAKA

ARAKA
Bab 92


__ADS_3

Karrel menghentikan langkahnya sejenak dan berbalik arah. Ia sedang dalam perjalanan mau balik ke kamar rawat Ara tapi teringat untuk mampir ke kantin rumah sakit  sebentar untuk membeli makanan. Makanan untuk dirinya sendiri dan makanan sehat lainnya untuk Ara. Ia tahu pacarnya itu tidak suka makan makanan rumah sakit, jadi dirinya sengaja membelikan untuk Ara.


Setelah mendapatkan semua yang dia beli, pria itu berlari ke kamar Ara. Ia baru ingat perkataan laki-laki tadi kalau jangan meninggalkan gadis itu sendirian. Memang sih teman-teman Ara ada, tapi mereka perempuan semua. Devin dan Bintang yang katanya mau datang juga belum ada. Jadi Karrel mendadak cemas.


Karrel baru bernafas lega setelah sampai di kamar Ara dan melihat sang pacar baik-baik saja. Tapi ia tidak melihat Manda dan Clara. Kemana mereka?


"Mana temen-temen kamu tadi?" tanya Karrel menggeser kursi dan duduk di sisi Ara. Ia meletakkan sarapan yang dia beli dan obat yang baru diambilnya diatas meja kecil di sebelah tempat tidur. Hanya ada Ara sendiri dalam kamar itu ketika ia masuk tadi.


"Mereka udah pulang. Katanya ada tugas kelompok yang harus dibuat. Untungnya aku udah dijinin nggak masuk karena mereka mengira aku diculik." ucap Ara panjang lebar. Karrel menatap gadis itu serius.


"Jujur sama aku, selama beberapa bersama terus dengan pria itu, hubungan kalian gimana? Aku denger kalian dijodohin dari kecil." tanyanya ingin tahu. Ara terdiam sejenak. Membalas tatapan Karrel. Dia harus bilang apa ya? Tidak mungkinkan dia bilang beberapa hari ini ia dan kak Moses tidur di kamar yang sama, meski Moses tidur di sofa. Tetap saja Karrel pasti marah besar.


"A.. hubungan aku sama kak Moses cukup baik, tapi mengenai pertunangan itu... aku nggak terima kok. Kan aku punya kamu. Aku juga cintanya sama kamu. Nggak mungkin mau tunangan sama laki-laki yang baru aku kenal." ucap Ara panjang lebar. Karrel tersenyum tipis lalu memegang kepala Ara.


"Bener? Tapi sih pria bernama Moses itu lebih hebat dari aku. Kamu yakin sama sekali nggak pernah tergoda?" ujar Karrel lagi menyipitkan matanya memastikan.

__ADS_1


"Kamu pikir aku cewek apaan Rel. Kamu ragu dengan cinta aku sama kamu?" balas Ara memasang wajah cemberut. Karrel cepat-cepat memeluknya meminta maaf kalau pertanyaannya terlalu berlebihan.


"Maafin aku sayang, aku cuman takut kamu tiba-tiba nggak suka sama aku lagi karena ketemu yang lebih baik." tuturnya jujur. Ia merasakan Ara melingkarkan tangan kuat-kuat dipinggangnya.


"Kak Moses emang baik, tapi bukan pria yang cocok sama aku. Aku maunya kamu. Lagian siapa bilang kak Moses lebih hebat dari kamu? Di mata aku kamu juga hebat kok. Karena kamu yang selalu ada disamping aku di saat aku down, kamu yang cepat sekali peka kalau aku lagi sedih dan nggak pernah kehabisan akal buat ngehibur aku saat aku lagi sedih. Pokoknya kamu adalah pria nomor satu di hati aku." gumam Ara panjang lebar. Hati Karrel langsung berbunga-bunga mendengarnya. Ucapan Ara menguatkannya. Ia merasa tidak perlu khawatir lagi karena pria yang ada dihati Ara adalah dirinya.


"Tapi Rel, aku harap kamu nggak musuhin kak Moses. Dia itu sebenarnya baik banget kok." pinta gadis itu. Ia memang bisa lihat kebaikan Moses. Apalagi pria itu sampai rela menolongnya dari kecelakaan maut yang menimpanya kemarin. Karrel menghela nafas pelan lalu mengangguk mengiyakan.


"Mm, tapi gak janji. Keliatan jelas dia suka sama kamu, dan aku gak suka dia dekat-dekat sama kamu." ucap Karrel. Ara menghembuskan nafas lelah. Matanya berpindah ke depan pintu dan mendapati kakaknya sudah berdiri didepan sana.


                                   ***


Moses memilih pindah ke apartemennya. Ia sempat bertengkar hebat dengan sang ayah tadi, bahkan ayahnya menampar keras dirinya dan menyalahkannya yang sudah mengkhianati pria tua itu. Tuan Ruff tak ada rasa bersalahnya sama sekali. Waktu ia ke sana juga ada ayah Ara. Namun pria tua itu tampaknya tidak begitu mengkhawatirkan putrinya. Mereka lebih serius membicarakan bisnis baru mereka berdua.


Moses yang emosi memilih pergi dari rumah itu. Untung dia memang ada apartemen sendiri yang dia beli dengan uangnya. Pria itu bersandar di sofa sambil memijit pelipisnya. Sialan,  kalau bisa memilih orang tua, ia sungguh tidak ingin dilahirkan di keluarga itu. Hari ini ia sebenarnya berencana untuk menjenguk Ara lagi, tapi badannya sudah terlalu lelah. Jadi dia memutuskan untuk beristirahat. Lagipula orang-orangnya sudah dia suruh berjaga di rumah sakit. Kalau ada apa-apa mereka akan langsung menghubunginya.

__ADS_1


                                   ***


Gino melapor pagi-pagi sekali kepada Moses,


"Kami berhasil menangkap penjahat itu." Moses yang sedang menyesap kopinya langsung membanting gelasnya ke meja,


"Hidup-hidup?" tanyanya sambil menyipitkan matanya. Gino mengangguk.


"Ya,. Hidup-hidup."


"Bagaimana kondisinya?"


"Kakinya sedikit luka, tetapi tidak parah, dia berusaha melarikan diri dari kami, tetapi kami berhasil menggagalkannya."


"Bagus, bawa dia padaku." Moses tersenyum sinis. Tunggu pembalasannya. Kali ini tidak ada polisi. Dia akan menyiksa dulu, membuat sih brengsek itu minta ampun padanya berkali-kali dan memohon nyawanya.

__ADS_1


__ADS_2