ARAKA

ARAKA
Bab 61


__ADS_3

Besoknya pulang sekolah Karrel langsung mengantar Ara pulang. Gadis itu ijin tidak masuk kerja lagi karena ia harus merapikan barang-barangnya untuk pindah ke tempat Karrel. Untungnya barang Ara hanya sedikit jadi tidak terlalu repot untuk dibawa.


Karrel memarkirkan mobilnya di basement sebuah apartemen besar yang harganya kalau di sewa atau dibeli pasti tidak main-main. Ara bisa langsung membedakan perbedaan harga apartemen itu dengan apartemen tempat tinggalnya selama hampir seminggu ini. Pokoknya perbedaannya sangat jauh. Ia bahkan tidak bisa membayangkannya.


Setelah mobil terparkir, Karrel langsung keluar dari kemudi dan memutari mobilnya untuk membukakan pintu buat Ara dan lanjut kebelakang, mengambil barang-barang gadis itu dalam bagasi. Ara ingin membantu membawa barang yang lain tapi tidak diijinkan Karrel, dia sendiri saja bisa kata cowok itu. Mereka lalu meninggalkan basement setelah memastikan mobilnya terkunci.


Mereka berjalan menuju sebuah lift dan Karrel menekan tombol bertuliskan angka lima belas. Saat lift itu berhenti di lantai lima belas, mereka berjalan melewati koridor lantai itu dan berhenti didepan kamar yang bertuliskan angka sembilan ratus dua puluh. Karrel menekan password dan membuka pintu.


Ara terus memandangi apartemen Karrel yang cukup luas itu, kamarnya dua dan ada satu ruang kosong yang dijadikan gudang. Kondisi apartemen itu begitu rapi, seperti orangnya. Dari awal Ara melihat Karrel, penampilan cowok itu memang selalu rapi dan bersih, sangat terurus. Tidak urakan seperti cowok-cowok lainnya di sekolah. Karrel juga sangat wangi. Wangi maskulin yang sangat menyegarkan di Indra penciuman Ara. Ara bahkan sudah ingat rasa wanginya sampai sekarang karena mereka sering berpelukan. Tapi ia malu menanyakan minyak wangi apa yang Karrel pakai, pasti mahal. Karrel juga pasti akan menertawainya kalau seandainya dia bertanya.


"Kenapa menatap begitu? Jangan bilang kau terpesona melihat apartemen ini seperti pacar-pacar pemeran utama pria kaya di film-film. Kau bukan gadis miskin yang seperti di film-film itu, tidak mungkin kau akan terpesona melihat tempat tinggal pacarmu seperti mereka bukan?" ledek Karrel. Ara memutar bola matanya malas.


"Aku hanya kaget saja karena jaman sekarang masih ada cowok yang sebersih kamu." balas Ara. Karrel terkekeh. Jelas dong dia bersih. Karena dia adalah salah satu laki-laki yang anti sama debu dan kotoran. Meski bukan sosok yang tergila-gila dengan kebersihan, tetap saja penting baginya untuk hidup bersih.


Karrel lalu membawa Ara ke kamarnya. Kamar besar yang kental dengan nuansa laki-laki dewasa, pemandangan indah kota di malam hari terlihat jelas dari bilik kaca besar yang makin diperindah dengan gorden berwarna biru dongker dengan paduan putih dengan list horisontal hitam.

__ADS_1


Sebelahnya terdapat balkon untuk bersantai. Ranjangnya berukuran besar dengan sepray satin yang masih berwarna senada dengan gorden. Disisi kirinya terdapat kamar mandi yang dibuat dengan pola maskulin.


Karrel melepas barang-barang Ara didekat lemari kemudian membuka lemarinya dan mengosongkan beberapa tempat.


"Kau bisa menaruh pakaianmu di lemariku." ucap Karrel memindahkan beberapa potong bajunya di dalam koper besar yang dia ambil dalam lemari bagian bawah.


"Bagaimana dengan pakaianmu?" tanya Ara. Ia merasa tidak enak melihat Karrel memasukkan pakaiannya di koper besar itu.


"Aku akan membawa beberapa pakaian ini ke rumahku." ucap pria itu. Ara menggigit bibirnya masih merasa tidak enak.


"Jangan pernah bilang itu lagi. Aku selalu suka direpotkan, asal itu kamu." katanya dengan senyum menggoda.


"Apaan sih," ucap Ara malu.


Kemudian dia mulai mengatur barang-barangnya di lemari pakaian Karrel. Dia berjanji akan membalas kebaikan Karrel. Karrel sendiri membantu menyusun buku-buku pelajaran Ara di rak buku yang sama dengan miliknya.

__ADS_1


Hampir dua jam mereka akhirnya selesai merapikan barang-barang dan terduduk di sofa kamar. Masih lengkap dengan seragam sekolah.


"Sebaiknya kau mandi dulu, aku tunggu di luar." kata Karrel lalu berdiri meninggalkan kamar itu. Sontak Ara ternganga, lalu refleks mencium badannya apakah bau atau. Tidak tuh, dia sama sekali tidak bau badan. Terus kenapa Karrel menyuruhnya mandi? raut wajah Ara berubah kesal tapi tetap berdiri, mengambil potongan baju yang akan dia pakai sebelum masuk ke kamar mandi.


Habis mandi dan berganti pakaian, Ara langsung keluar. Matanya terus menengok ke segala sisi namun tidak mendapati keberadaan Karrel. Hanya ada sebuah catatan kecil di atas meja sofa. Ia mengambil catatan itu dan mulai membaca.


"Aku ada urusan sebentar, kalau sudah lapar, panaskan makanan di kulkas. Aku akan balik lagi kalau urusanku selesai tidak terlalu malam." Ara mengerutkan kening. Urusan apa? setelah itu dia memutuskan untuk tidak terlalu peduli. Untuk apa juga dia harus tahu urusan Karrel, mereka belum jadi suami istri. Jelas dia tidak punya hak.


                                ***


Malam sudah semakin larut dan Ara masih belum mengerti bagaimana cara mengerjakan soal-soal matematika yang akan dikumpulkan besok. Ia membanting bukunya ke meja dan berdiri. Ia menguap dan merentangkan tangannya. Sepertinya harus minum kopi. Ia keluar kamar hendak pergi ke dapur.


Di dapur lampu sudah dimatikan sebagian. Tidak ada seorang pun di sana. Ya iyalah, kan pemilik apartemen ini sudah pergi tadi meninggalkannya sendirian. Tidak ada pembantu juga seperti di rumahnya. Ara mencari-cari dimana tempat kopi. Setelah mengaduk-aduk beberapa laci, ia menemukan kopi yang dicarinya. Sekarang giliran gula. Gula, gula, mana gula? Matanya terus mencari-cari.


"Cari apa?"

__ADS_1


__ADS_2