
Ara menghela nafas memandang bayangan wajahnya di kamera hp. Ia lagi bersantai dibangku depan cafe milik Kevan. Sudah dua hari semenjak dia pergi dari apartemen Karrel dan pulang ke rumahnya. Hubungan dengan Ravel semakin membaik. Bahkan Ravel sering mengambil kesempatan membantunya mengerjakan tugas sekolah di sela-sela kesibukan pria itu. Hanya papanya saja yang belum pernah pulang ke rumah.
Dua hari ini Ara juga belum bertemu dengan Karrel. Pacarnya lagi ada di Bandung menemani mamanya yang jatuh sakit. Mereka hanya saling menghubungi lewat telpon atau video call. Ara menghela nafas, rasanya sepi tanpa Karrel.
Ini hari senin, sekaligus hari pertamanya kembali bekerja di cafe itu setelah berhari-hari ijin tidak masuk. Ia menyadari beberapa karyawan cafe memperlakukannya dengan berbeda. Mereka menjadi lebih baik padanya. Ara tahu itu pasti karena mereka sudah tahu dia adalah adiknya kak Ravel. Bahkan ada beberapa yang meminta tanda tangannya kak Ravel melaluinya. Tapi tidak apa-apa deh. Selama mereka tidak berlebihan. Gadis itu kembali berkaca di kamera ponselnya dan merapikan rambut yang berantakan.
Tak jauh didepan sana, ada yang sedang mengamatinya dari dalam mobil. Mobil itu terparkir tepat didepan cafe. Pria itu adalah Moses.
Moses berkali-kali berkata tidak mau peduli dengan segala hal tentang kehidupan gadis yang telah dijodohkan dengannya bertahun-tahun ini. Tapi akhir-akhir ini, semua orang disekitarnya sering sekali menyebutkan tentang gadis itu. Moses sampai penasaran ingin melihat seperti apa tampang tunangannya itu. Ia sengaja bertanya pada anak buah ayahnya tentang Ara dan memutuskan melihatnya dari dekat.
__ADS_1
Pria itu mendengus pelan. Pandangannya masih tertuju ke gadis yang tengah duduk didepan sana sambil melakukan hal-hal yang menurutnya konyol dan tidak penting.
"Apa ini? Bagaimana mereka mendidiknya?" ujar Moses pada di jual sendiri. Ia merasa penampilan dan sikap Ara jauh sekali dari wanita berkelas. Tapi ia dengar keluarga yang membesarkan gadis itu bukanlah keluarga yang miskin. Meski keluarganya pasti jauh lebih kaya dan lebih berkuasa, tetap saja keluarga gadis itu harus menerapkan tata krama pada anak perempuan mereka dalam hal bersikap. Apalagi didepan umum. Seperti yang dia pelajari sejak masih kecil. Moses menggeleng-geleng kepala.
Meski begitu ia masih tertarik untuk mengamati gadis itu. Tak puas memperhatikannya dari jauh, Moses memutuskan turun dari mobil dan berjalan ke arah cafe. Ia duduk di meja yang lain tak jauh dari tempat duduk Ara. Tidak ada begitu banyak orang di luar, lebih banyak pelanggan yang memilih duduk di dalam. Pandangannya bertemu dengan gadis itu sekilas. Tapi sepertinya gadis itu tidak memperhatikannya, malah kembali fokus dengan kesibukannya sendiri menatap ke layar ponsel. Mulutnya komat-kamit tidak jelas.
Moses menaikan alis merasa heran. Apa yang lebih penting di ponsel gadis itu dibandingkan dengan dirinya yang keren ini? Apa karena gadis itu sudah terbiasa melihat pria tampan? Ah benar, tunangannya itu kan punya kakak seorang aktor tampan. Dia dengar dari anak buah papanya. Moses jadi penasaran apa gadis itu punya pacar juga atau tidak. Kalau punya, apa bisa dihitung gadis itu berselingkuh darinya? Ah, Moses tidak peduli. Lagipula ia menganggap pertunangan mereka tidak penting. Itu hanya bisnis yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
"Anda mau pesan apa abang, kakak atau.. tuan? Mr?" tanya Ara. Tangannya mengeluarkan sebuah memo kecil dan bulpen dari saku seragam kerjanya. Menunya sudah memang ada di atas meja. Moses berdeham, berusaha bersikap biasa. Ya ampun, ia merasa terciduk. Mata tunangannya itu begitu cerah. Sesaat Moses terpaku. Ia jadi merasa kasihan mengingat ayahnya, musuh-musuh mereka, bahkan dirinya tak luput dari orang-orang yang hanya mau memanfaatkan gadis itu. Apa wajah ceria tanpa dosa itu masih akan sama?
__ADS_1
"Jadi, mau pesan apa?" ulang Ara. Moses membuyarkan lamunannya dan cepat-cepat mengambil menu di atas meja lalu memesan apa saja yang ada di sana.
"Baiklah. Mohon di tunggu sebentar ya." kata Ara. Ia lalu berbalik pergi setelah menulis pesanan Moses di memo. Moses akhirnya bisa bernafas lega. Astaga, baru kali ini ia gugup menghadapi orang. Kemudian ia mendengar ponselnya bergetar.
Pria itu berdecak malas melihat nama sih penelpon. Siapa lagi kalau bukan ayahnya yang sok berkuasa itu.
"Kau di mana?" tanya lelaki tua di seberang sana."
"Makan."
__ADS_1
"Cepat pulang. Ada hal penting yang harus kau lakukan." Moses mendesah lelah.
"Baiklah. Aku akan ke sana selesai makan." katanya lalu memutuskan sambungan.