ARAKA

ARAKA
Bab 66


__ADS_3

"Kamu tunggu di luar, aku ingin berdua saja dengan kak Ravel." ucap Ara pada Karrel saat mereka berdua sudah berdiri didepan kamar rawat Ravel.


"Bisa berjalan sendiri ke dalam?" tanya Karrel sebelum mengiyakan.


Ara menganggukkan kepala.


"Kalau begitu, aku tunggu di luar. Telpon aku kalau sudah selesai." ujar Karrel melepas genggamannya dari lengan Ara perlahan-lahan.


"Ingat, jangan berani macam-macam selama aku nggak sama kamu." ancam Ara sebelum masuk. Ia masih merasa Karrel akan mencari Sion untuk membuat perhitungan dengan cowok itu. Karrel menghela nafas memegang bahu Ara.


"Iya sayang, mana berani aku sama ancaman kamu." katanya pelan. Ara memicingkan matanya mencari kebohongan di dalam mata Karrel.


"Janji?"


"Mm."


"Ya sudah, aku masuk sekarang." setelah itu Ara membuka pintu yang tertutup didepannya. Karrel pergi setelah melihat kekasihnya berjalan kedalam.


Ravel terbaring di tempat tidur dengan mata tertutup. Ara


berdiri diam di tepi ranjang, tidak mau membangunkan laki-laki itu. Kelihatannya kakaknya baik-


baik saja. Napasnya teratur dan tidak ada luka mengerikan di wajah dan tubuhnya. Karena pria itu tertusuk dibagian belakang yang kini tertutup dengan pakaian rumah sakit yang ia kenakan, jadi luka itu tidak kelihatan.


"Bodoh," gumam Ara pada Ravel yang sedang tertidur.


"Bukannya di semua film kakak, kakak selalu punya cara buat menyelamatkan diri tanpa perlu terluka?" yang ditanya hanya diam dengan mata terpejam.


"Kau taruh di mana matamu? Kenapa tidak hati-hati? Dorong saja sih Sion itu seperti yang kau lakukan di film-film." gumam Ara lagi.

__ADS_1


"Kakak tahu aku sangat ketakutan? Biar bagaimanapun kau adalah kakakku. Sekali lagi kau begitu aku akan..."


"Kenapa kamu marah-marah pada orang sakit?" sela Tristan pelan. Ara tidak sadar ketika pria itu masuk tadi.


Ara mengamati kakaknya yang terbaring dengan mata terpejam. Dadanya turun-naik dengan


teratur seiring dengan napasnya. Kelihatannya tenang dan damai. Ara merasa sangat lega.


"Apakah tidak apa-apa dia belum sadarkan diri?" tanya Ara tanpa mengalihkan tatapannya dari Ravel.


Tristan mengangkat bahu walaupun Ara tidak melihatnya dan menjawab,


"Entahlah. Tapi aku rasa tidak apa-apa. Dokter juga bilang


sebaiknya dia beristirahat."


"Dia memang sangat butuh istirahat. Kamu tahu sendiri kan belakangan ini dia bekerja tanpa henti dan hanya tidur beberapa jam selama berhari-hari, juga karena masalah kalian..." Tristan berhenti sebentar sebelum melanjutkan. Ara sendir tahu apa maksud pria itu.


tidur." Ara mendesah dan


mengangguk.


"Kak Tristan benar, " katanya.


"Syukurlah kak Ravel tidak terluka parah. Kalau tidak aku pasti akan merasa sangat bersalah." gumamnya terus menatap kakaknya.


"Kamu tidak salah apa-apa Ara, jangan merasa bersalah. Ravel hanya melakukan tugasnya sebagai seorang kakak." kata Tristan pelan. Ara menoleh ke arahnya. Ia mau bicara sesuatu tapi tidak jadi. Ia menahan ucapannya dan kembali melirik Ravel yang masih tidur.


"Papa kemana?" tanyanya tanpa melihat Tristan. Ia pikir tadi papanya keluar dari kamar rawatnya dan datang ke sini.

__ADS_1


"Sudah pergi. Katanya akan kembali lagi nanti." Ara mendengus pelan. Bahkan anaknya lagi mengalami musibah begini, pria tua itu malah santai. Ia tidak peduli kalau yang di rawat adalah dia, tapi ini kak Ravel. Memangnya pria tua itu tidak khawatir sama sekali? Kemudian gadis itu memutuskan untuk tidak peduli. Ia menarik nafas panjang.


"Kalau begitu aku kembali ke..." Ara berniat berbalik ke kamar rawatnya namun tangan Ravel menahannya. Pria itu membuka matanya yang terasa berat itu perlahan. Ia terus menatap Ara.


"J..jangan pergi," gumamnya pelan lalu berusaha duduk. Ara membantunya duduk.


"Pelan-pelan," ucapnya. Ravel melirik Tristan setelah merasa nyaman dengan posisinya.


"Bagaimana syutingnya?" tanyanya.


"Dimundur beberapa hari. Sampai kamu benar-benar pulih. Tadi sutradara Juan dari sini, tapi kau masih tidur. Katanya dia akan kembali nanti." sahut Tristan menjelaskan. Ravel mengangguk mengerti. Ia tahu setelah ini pasti akan ada berita heboh tentang dirinya. Tapi itu bisa dipikirkan nanti. Sekarang dia mau berbicara dengan Ara dulu. Membuat gadis itu untuk kembali ke rumah. Biar bagaimanapun Ara sudah di asuh oleh keluarga mereka dari kecil. Gadis itu sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. Dia akan bercerita kenapa Ara sampai di adopsi oleh keluarganya, dan dimana keluarga kandungnya sekarang. Ara sudah cukup umur untuk tahu. Ia sendiri sudah berjanji pada mama mereka untuk menjaga Ara sebagai kakak.


"Ara," gumamnya lagi menatap Ara. Tristan sepertinya mengerti bahwa kakak beradik itu membutuhkan ruang untuk bicara.


"Aku akan keluar sebentar." ujarnya lalu berbalik ke luar. Ara duduk di kursi tepi ranjang. Menatap lurus kakaknya. Ia merasa kakaknya itu jauh lebih kurus.


"Kakak kurusan." gumamnya. Ravel tersenyum tipis. Lalu mengulurkan tangannya menyentuh bekas tamparan di pipi Ara.


"Sakit?" tanyanya. Ara menggeleng. Lebih sakit kalau melihat kakaknya tidak berdaya seperti ini.


"Aku akan menuntut hukuman berat pada pria itu." geram Ravel. Berani sekali laki-laki itu menyentuh Ara. Suasana lalu kembali sepi. Keduanya sama-sama diam. Ara tidak yakin mau bicara apa pada kakaknya. Setelah kejadian ini, ia benar-benar tidak bisa membenci sang kakak. Meski mereka sudah berbohong tentang jati dirinya yang sebenarnya, ia tidak bisa membenci mereka. Baginya, mereka tetaplah keluarganya.


"Ra, mau dengar cerita nggak?" tawar Ravel. Ara menatap kakaknya lurus. Kemudian mengangguk pelan.


Ravel lalu mulai bercerita. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Ravel didengar dengan serius sampai akhirnya ia mengerti satu hal. Ara tahu kisah yang diceritakan oleh Ravel adalah kisah hidup keluarga mereka juga tentang dirinya. Dan yang membuatnya sadar adalah... Kasih sayang mereka padanya dulu memang murni. Sebelum mamanya meninggal.


Papanya juga.


Ravel cerita dulu mama mereka sempat mau cerita yang sebenarnya pada Ara agar gadis itu tidak kaget lagi waktu tumbuh dewasa dan mengetahui kenyataannya, tapi papanya melarang. Kata papa mereka, tidak ada yang boleh menganggap Ara adalah anak angkat karena ia sudah menganggapnya sebagai anak kandung sendiri.

__ADS_1


Perubahan besar papa mereka terjadi waktu mama mereka meninggal. Pria tua itu jadi suka sekali berkata-kata kasar dan selalu mengeluarkan kata-kata menyakitkan untuk menyakiti Ara. Papa mereka belum siap kehilangan mama mereka, karena itu ia sangat marah begitu tahu istrinya meninggal karena mencari Ara yang bermain di luar rumah tanpa bilang-bilang. Itu sebabnya papanya stres berat dan terus menyalahkan Ara. Mencari setiap kekurangan gadis itu untuk melampiaskan amarahnya. Tapi, meskipun semarah itu.. Tidak pernah keluar dari mulut papanya kalau Ara itu hanyalah anak angkat. Kasih sayang yang dulu Ara rasakan dari pria tua itu memang nyata. Meski sekarang lebih banyak kebencian di hati papanya karena ia adalah penyebab laki-laki tua itu kehilangan seseorang yang sangat dia cintai. Ara tidak tahu apa sekarang masih ada rasa sayang dihati sang papanya untuknya atau tidak, tapi entah kenapa ia merasa lega. Karena dirinya dulu pernah dicintai sebagai anak, bukanlah sebuah kebohongan.


"Jadi, orangtuaku yang sebenarnya sudah meninggal?"


__ADS_2