ARAKA

ARAKA
Bab 68


__ADS_3

Kepala Ara terasa pusing. Gadis itu menahan tangannya di tembok agar tidak terjatuh. Ia baru saja pamit pada kakaknya untuk kembali ke ruang rawatnya. Ia tidak mau mengganggu pembicaraan kak Ravel dan dua orang yang masuk tadi. Ia tidak tahu siapa mereka dan tidak mau tahu. Sekarang ini dirinya lebih memikirkan bagaimana kehidupan sekolahnya nanti.


"Ara!" Karrel berlari menuju Ara ketika melihat pacarnya itu menahan diri sambil bersandar di tembok. Ia menarik gadis itu dan memegangnya kuat-kuat.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanyanya khawatir. Ara menggeleng. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Karrel.


"Hanya merasa kepalaku sedikit pusing." gumamnya pelan.


"Sebaiknya kau bawa dia beristirahat. Tubuhnya lemah dari kecil, kau harus tetap bersamanya saat dia sakit." Karrel menoleh ke suara yang datang dari belakangnya. Tristan telah berdiri didekat mereka. Matanya tidak lepas dari Ara. Karrel menatap pria itu malas.


"Kak Tristan, di dalam ada yang mengunjungi kak Ravel." ucap Ara. Tristan tersenyum. Ia tahu siapa itu. Pasti sutradara film mereka. Karena tadi sutradara senior bernama Juan itu bilang akan balik lagi nanti.


"Istirahatlah, aku akan menemuimu nanti." katanya. Lalu tanpa aba-aba Karrel menggendong Ara, membawanya kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Tristan terus menatap kepergian pasangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya ia masuk ke kamar rawat Ravel.


\*\*\*


"Rel, aku masih bisa jalan. Kok kamu main gendong-gendong aja sih? Ini rumah sakit, malu tahu." ujar Ara terus memaksa Karrel supaya mau menurunkannya. Tapi percuma saja. Karrel sama sekali tidak mau mendengarnya. Ara sampai harus menyembunyikan wajahnya di dada Karrel ketika ada orang lain yang melewati koridor itu. Akhirnya gadis itu pasrah.


Di kamar rawatnya masih ada dua sahabatnya juga Bintang dan Devin yang masih setia menunggu. Padahal dia pergi sudah hampir satu jam, mungkin. Karrel menurunkannya perlahan di ranjang. Setelah itu pria itu mengecek suhu badannya dengan meletakan tangan di dahi Ara. Memeriksa apa gadis itu mengalami demam atau tidak.


"Dia kenapa lagi? Masih sakit?" tanya Devin penasaran. Ia berjalan mendekat ke ranjang. Ara menggeleng. Ia hanya sedikit pusing tadi. Karrel saja yang khawatir berlebihan. Pandangan Ara beralih ke Bintang. Melihat Bintang, ia jadi teringat kak Kevan dan setelah mengingat bosnya itu, ia ingat pekerjaannya juga.


"Mm?" sahutnya.


"Bisa bilang kak Kevan nggak hari ini aku ijin lagi?"

__ADS_1


Bintang segera mengangkat tangannya dengan membuat bentuk tanda oke pada Ara.


"Ra, Ravel itu kakak kamu kan?" tanya Manda memastikan. Ara mengangguk. Masalahnya sudah begini. Tidak ada lagi gunanya ditutup-tutupi. Apalagi mereka itu teman-teman dekatnya.


"Kamu hutang penjelasan sama kita-kita." timpal Clara. Ia ingin berteriak pada Ara kenapa menutupi hubungannya dengan Ravel pada mereka namun karena di ruangan ini ada Karrel dan yang lain, ia harus menahan keinginannya itu. Dasar Ara, bisa-bisanya ia beracting tidak suka sama Ravel, padahal kakaknya sendiri.


Ara menyengir, ia tahu pasti teman-temannya itu merasa kesal padanya. Tapi mau bagaimana lagi. Dari dulukan ia memang tidak mau dirinya terekspos sebagai adiknya seorang Ravel.


"Kapan kalian akan pulang? Ara butuh waktu buat istirahat." perkataan itu keluar dari mulut Karrel, Ara langsung mencubit tangan cowok itu pelan. Bisa-bisanya Karrel mengusir mereka. Astaga, ia kan jadi merasa tidak enak. Manda dan Clara saling menatap malu.


"Ya udah. Ra, entar kita berdua datang lagi yah." ucap Clara sebelum pamit pergi. Setelah kedua gadis itu pergi, Devin dan Bintang ikut pamit. Meninggalkan Ara dan Karrel. Memberi mereka ruang untuk berdua.


"Kamu tuh ya, bener-bener deh. Masa ngusir teman-teman aku kayak gitu." celetuk Ara. Karrel kini duduk di kursi sisi tempat tidur, menghadap langsung dengan Ara. Ia menangkup pipi kanan gadis itu.

__ADS_1


"Aku hanya tidak mau kecapean sayang. Kamu bisa ngobrol sepuasnya sama mereka kalau sudah lebih kuat. Aku janji." janji Karrel. Tangannya terus mengelus-elus pipi Ara penuh sayang.


Sedang di luar sana, para wartawan bukannya berkurang malah bertambah lebih banyak. Mereka sedang berlomba-lomba untuk memburu berita terhangat tentang Ravel dan gadis yang ditolongnya itu. Mereka semua berharap ada klarifikasi langsung dari mulut Ravel. Tadi dari pihak Ravel sendiri memang sudah memberikan klarifikasi kalau aktor itu sudah sadar dan kondisinya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi mereka sendiri yang tidak mau pulang.


__ADS_2