ARAKA

ARAKA
Bab 53


__ADS_3

Setelah meringkuk entah berapa lama di samping tong sampah depan rumah nenek Inggrid, Ara berdiri. Ia melihat orang-orang yang datang ke pesta mulai pulang. Memang sudah sangat lama ia duduk disitu, hingga rumah sudah sepi saja ia sampai sadar


Kaki Ara mendadak lemas. Ia memutar tubuh dan harus bersandar di tong sampah supaya tidak


jatuh. Apa yang dikatakan neneknya tadi...? Bukan anak kandung...? Dirinya?


Ia merasa pusing, seakan seluruh darah di tubuhnya terserap keluar. Tangannya dingin dan selain itu ia tidak bisa merasakan apa pun. Bahunya tegang. Dadanya berat sekali. Paru-parunya tidak mau berfungsi. Ia tidak bisa bernapas.


Kepalanya serasa berkabut. Tidak bisa berpikir apa pun. Pandangannya buram. Tidak bisa melihat apa pun.


Telinganya berdenging. Tidak bisa mendengar apa pun.


Ia berbalik dengan pelan, berjalan masuk kembali ke dalam rumah itu dengan linglung. Tidak ada satupun orang rumah itu yang melihatnya masuk kamar. Kak Ravel belum ada. Entah masih bicara dengan nenek Inggrid atau kemana, yang pasti lelaki itu tidak ada di kamar.


Berkalu-kali Ara berusaha kuat namun kakinya terlalu lemas untuk menopang tubuhnya dan ia jatuh terduduk di lantai kamar itu.


Kepalanya disandarkan ke dinding tempat tidur. Matanya menatap kosong.


Dia bukan putri kandung...


Bukan putri kandung... Papanya... Mamanya... Bahkan kakaknya...


Kata-kata itu terus berputar-putar di kepalanya. Kemudian banyak hal yang bermunculan dalam ingatannya. Papanya pernah bilang mamanya tidak seharusnya membawa dia ke rumah itu. Dia seharusnya tidak pernah berada di rumah itu, tidak dibesarkan oleh mereka. Akhirnya kalimat rancu yang selalu dikatakan itu, yang sempat membuat dirinya bingung terjawab sudah. Papanya bilang seperti itu bukan hanya karena membencinya, tapi karena dia juga bukan anak kandung papanya.

__ADS_1


Sekarang Ara mengerti kenapa kak Ravel juga terus bersikap dingin padanya. Tampaknya karena mereka memang tidak ada hubungan darah sekali dan dia sudah menyebabkan mamanya, bukan... mamanya kak Ravel meninggal. Meski tidak secara langsung. Kak Ravel selalu bersikap dingin dan menjaga jarak dengannya. Papanya yang paling parah, bahkan jarang sekali bahkan hampir tidak pernah pulang rumah karena ada dia.


Dulu ia tidak tahu kenapa mereka harus bersikap berlebihan seperti itu menjauhinya, sekarang semuanya mendadak jelas. Kenapa baru sekarang ia menyadarinya?


Kenapa harus dirinya yang mengalami masalah seperti ini?


Ara menekan telapak tangannya ke dada. Sakit... Sakit sekali. Saat menyadari ada pergerakan dari pintu kamar, ia cepat-cepat bangkit naik ke ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Ara sungguh tidak bisa melihat bahkan menatap kak Ravel sekarang


Ia tidak akan sanggup. Lebih baik menghindarinya dulu. Ia berusaha menahan tangis.


Ravel sendiri terus menatap ke gadis itu tanpa berniat mengalihkan pandangan darinya sedikitpun. Ia ingin bicara, ingin marah karena Ara tidak mendengar kata-katanya untuk menjauhi Karrel, tapi tidak jadi. Suasana hati Ara pasti sedang tidak baik juga, gadis itu sangat jelas sedangĀ  menghindarinya. Ravel menghela nafas, dan membaringkan dirinya di sofa. Luka-lukanya sudah di obati. Nenek Inggrid menyuruh Pascal membawanya ke dokter tadi.


Ketika balik ke Jakarta, Ara tidak bicara sepatah katapun. Selama perjalanan ia diam saja. Ravel pun tidak tahu mau bilang apa. Ia hanya menyetir tanpa bicara apapun. Baru kali ini Ravel merasa sepi.


Biasanya, walaupun ia tidak bicara, Ara selalu akan ribut dengan cerita-cerita bahkan pertanyaan-pertanyaan aneh yang ia lontarkan. Ravel merasa gadis itu sedikit berbeda hari ini. Ara lebih banyak diam. Tidak ceria seperti biasanya.


Ada apa dengan adiknya? Apa karena masalah semalam? Apa gadis itu marah karena Ravel berkelahi dengan Karrel? Bahkan sampai rumah Ara langsung mengunci dirinya di kamar.


Ravel tertegun. Sebenarnya ada apa dengan Ara?


"Kau sudah kembali?"

__ADS_1


pandangan Ravel berpindah ke Tristan yang muncul dari arah dapur. Pagi-pagi tadi Tristan sudah ada di rumah itu. Ia sedang memilah-milah beberapa barang yang baru dibeli staff agency Ravel untuk acara jumpa fans nanti yang akan diadakan sebentar siang.


"Bagaimana, kau menikmati pesta di rumah nenekmu?" tanya Tristan sambil fokus memilih-milih barang dalam dos besar.


Ravel memilih duduk berhadapan dengan manajernya itu. Lupakan sebentar masalahnya dengan Ara. Ia baru ingat siang ini ada pekerjaan. Tapi wajahnya terluka. Seorang aktor kalau terluka, apalagi di wajah adalah masalah yang cukup serius.


"Pestanya biasa saja, tapi sepertinya kau harus mencari cara menunda acara siang nanti."


Tristan langsung menghentikan kesibukannya dan menaikkan wajah menatap Ravel.


"Apa maksud.." pria itu tidak jadi melanjutkan kalimatnya saat melihat luka-luka di wajah Ravel. Ada apa lagi ini?


"Kau berkelahi?" tanyanya. Bukannya sahabatnya itu habis dari pesta? Kenapa pulang-pulang malah jadi babak belur begini. Lukanya banyak lagi. Sulit ditutupi dengan make up. Bagaimana dengan acara jumpa fans nanti siang? Kepala Tristan makin pusing. Ia melihat Ravel hanya diam tidak berniat menjawab pertanyaannya.


"Apa yang terjadi? Ada wartawan yang merekammu?" tanya Tristan lagi. Kali ini Ravel langsung menggeleng. Hanya para sepupu, neneknya, adiknya dan mamanya Karrel saja yang tahu kejadian dirinya dan Karrel berkelahi. Harusnya tidak ada yang lihat, apalagi sampai merekam. Tidak ada wartawan juga yang datang.


Tristan kembali menghela nafas. Terpaksa dia harus membatalkan acara siang ini.


"Ya sudah, aku akan coba bicara dengan pihak kantor. Kau istirahat dulu, lusa masih ada syuting." Ravel menganggukkan kepala. Ia senang bekerja sama dengan Tristan. Tristan adalah sosok pria dewasa dan pengertian. Ia beruntung Tristan bersedia menjadi manajernya.


"Oh ya, mana Ara? Dia tidak ikut kau pulang?" pandangan Tristan berkeliling mencari keberadaan Ara. Waktu Ravel dan Ara masuk tadi dirinya sedang fokus pada barang-barang jadi tidak sempat melihat Ara masuk ke kamarnya.


"Di kamar," sahut Ravel lalu menyandarkan dirinya di sandaran sofa sambil memijit pelan pelipisnya. Ia kembali mengingat perubahan Ara. Suasana hatinya ikut memburuk.

__ADS_1


__ADS_2