ARAKA

ARAKA
Bab 82


__ADS_3

"Jadi, aku dan kamu, kita berdua anak dari mafia?" tanya Ara menatap Moses. Lelaki itu mengangguk pelan. Posisinya sudah kembali duduk tapi di ranjang, dan Ara duduk bersandar di dinding kasur.


"Berarti apa yang dilakukan ayah kita semuanya di ilegal?" tanya gadis itu lagi. Moses mengangkat bahu acuh tak acuh.


"Kurang lebih seperti itu. Kali ini aku mendengar mereka berdagang senjata." ucap Moses. Ara melotot. Senjata? Berdagang senjata? Fix, ia tidak merasa senang setelah mendengar keluarga kandungnya terjun dalam dunia mafia. Ia lebih memilih menjadi adik kandungnya kak Ravel daripada menjadi salah satu anggota keluarga mafia. Tidak salah mama kandungnya kabur bersamanya.


"Bagaimana denganmu? Apa pekerjaanmu?" Ara melirik Moses. Mengingat pria itu jago berkelahi dan menembak sore tadi, mungkin saja dia juga bekerja dengan ayahnya menjadi seorang mafia.


"Kau tidak perlu tahu. Yang pasti aku bisa menjanjikan keamananmu selagi kau tinggal di sini." ujar Moses datar.


"Tapi aku ingin pulang. Kakakku, juga pacarku..."


"Kau punya pacar?" tanya Moses langsung. Benarkan, ia sudah berpikir gadis itu mungkin punya seorang kekasih. Sepertinya hubungan mereka akan rumit. Moses sendiri bingung bagaimana menanggapinya. Tidak mungkinkan dia menuduh gadis itu berselingkuh darinya.


Mereka memang dijodohkan dari kecil. Tapi tidak pernah bertemu. Ara tidak tahu apa-apa. Wajarlah dia berpacaran dengan seseorang di usia seperti ini. Moses juga mungkin memaksa gadis itu untuk mengakhiri hubungannya dengan laki-laki yang menjadi pacarnya itu. Tapi, bagaimana dengan kedua ayah mereka? Ini tidak baik.


"Kau masih ingat kita berdua bertunangan bukan?" pria itu memandang lurus Ara. Gadis itu balas menatapnya.


"Tapi aku tidak kenal kamu, sudah ada pria lain yang aku suka. Tidak bisakah kita batalkan saja perjodohan ini? Kau juga tidak mungkin menyukaiku kan? Kita berdua baru bertemu. Mungkin kau juga punya pacar sama sepertiku." kata Ara panjang lebar.

__ADS_1


"Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau aku juga tidak keberatan bertunangan denganmu? Kau cantik, dan aku sendiri masih lajang, tidak ada salahnya aku menerima hubungan ini." balas Moses membuat Ara mendelik tajam padanya. Pria itu terkekeh.


"Kau ingin membatalkan pertunangan?" tanyanya kemudian. Raut wajahnya berubah serius. Ia melihat Ara mengangguk kuat.


"Aku tidak bisa menjanjikan itu. Bukan aku yang mengatur perjodohan kita." wajah Ara berubah muram mendengarnya.


"Hei, ekspresimu itu membuatku merasa menjadi pria yang kurang laku." ujar Moses. Padahal banyak wanita di luar sana yang mengejarnya karena sosoknya yang rupawan. Tapi gadis ini malah sedih berada di dekatnya. Ia jadi penasaran seperti apa sosok pacar gadis ini. Apakah pantas menjadi saingannya? Bukannya sombong atau terlalu percaya diri, tapi dia adalah sosok pria yang kuat dan terlatih dari kecil dalam banyak bidang. Ara termasuk gadis yang beruntung bisa menjadi tunangannya.


"Terus aku harus senang begitu? Hah?Belum lama ini aku baru saja tahu kalau keluarga yang membesarkanku bukan keluargaku yang sebenarnya, di saat aku bisa menerima kenyataan itu dan memutuskan hidup senang dengan mereka, tiba-tiba orang asing datang dan mengatakan aku adalah anak kandungnya. Lebih mirisnya lagi aku punya tunangan yang sama sekali tidak aku kenal. Hidupku juga terancam hanya karena sebuah barang yang ada padaku. Kenapa hidupku harus berakhir seperti ini sih, memangnya aku salah apa coba..."


Ara menggoyang-goyangkan lengan Moses lalu mulai menangis keras, meratapi hidupnya yang begitu menyedihkan. Sementara Moses terdiam sesaat. Ia belum pernah menghadapi seorang gadis yang menangis didepannya, ia bingung bagaimana caranya membujuk supaya gadis itu diam.


Moses menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Lalu dengan canggung ia menarik Ara ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkan gadis itu. Tangannya mengusap-usap pelan punggung Ara. Tapi bukannya berhenti menangis, Ara makin terisak sambil membenamkan kepalanya di dada Moses. Moses bisa merasakan tubuh gadis itu bergetar karena tangisannya.


Karena tidak tahu caranya membuat Ara berhenti menangis, ia memilih membiarkan saja sampai gadis itu lelah dan berhenti sendiri. Ada rasa canggung yang dia rasakan karena ini pertama kalinya ia memeluk seorang gadis. Tapi Ara seolah memberinya rasa nyaman. Ia bisa merasakan kemejanya sudah basah karena airmata Ara. Kira-kira lima belas menit posisi mereka seperti itu.


Tangisan Ara mulai reda. Namun masih terisak pelan. Ia mengangkat kepalanya yang terbenam di dada bidang Moses. Moses berdeham menetralkan jantungnya, kemudian menuangkan segelas air mineral yang berada di atas nakas dan memberikannya pada Ara.


"Minum dulu," gumamnya pelan. Ara menurut.

__ADS_1


"Kau sungguh ingin hidup dengan keluarga yang membesarkanmu?" tanya pria itu. Ara mengangguk.


"Aku berjanji akan membantumu. Tapi itu tidak akan mudah. Kita berdua harus menyusun rencana." ujar Moses menjelaskan. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah mau terlibat dengan orang lain. Tapi Ara berbeda. Ia sungguh ingin gadis itu bahagia.


"Rencana?" Ara menatap Moses bingung. Pria itu mengambil gelas yang sudah kosong di tangan Ara, meletakkannya kembali di atas nakas lalu mendekatkan wajahnya di wajah gadis itu.


"Kalung tabung itu, kau harus ingat mamamu pernah memberikannya padamu atau tidak. Kita harus mulai dari situ, memusnahkan barang haram yang membuat semua orang mengincarmu. Kalau kau mau hidup tenang dengan keluargamu dan membatalkan pertunangan kita, musnahkan barang itu dulu." ujar Moses serius. Ara berpikir sejenak. Benar kata pria itu. Ia di incar karena kalung itu. Kalau barang itu tidak ada padanya mungkin dia bisa hidup tenang.


"Bagaimana kalau aku menemukan kalung itu? Apa berikan saja pada ayahku?" tanyanya.


Moses menggeleng cepat.


"Jangan, barang itu bisa membuat orang-orang saling membunuh untuk mendapatkannya. Ayahmu dan ayahku, tidak punya hak atas barang itu. Harusnya kita berikan pada pihak yang berwajib." Moses hanya tidak ingin ayah mereka menjadi gila harta dan kekuasaan. Sudah cukup ia melihat banyak yang mati akibat bekerja dengan mereka. Ia harus bergerak diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.


"Dengar Ara, kau hanya bisa bilang rahasia kita ini pada orang yang benar-benar kau percaya. Kita butuh orang lain untuk bekerja sama dengan kita berdua. Jadi, kita mungkin membutuhkan orang-orang yang dekat denganmu. Aku akan mencari cara agar kau bisa menghubungi mereka besok. Ada banyak mata-mata ayahku di sini, agar tidak ada yang curiga, kau hanya bisa menelpon mereka dari kamarku. Ruangan ini yang paling aman. Kau percaya padaku kan?"


Ara mengangguk. Entah kenapa ia memang merasa Moses adalah lelaki yang bisa di percaya.


"Kalau begitu sekarang tidurlah. Kita akan bicara lagi besok."

__ADS_1


__ADS_2