
Ara menyusuri jalan kecil dari apartemen menuju sekolahnya. Sudah sekitar empat hari dia pergi dari rumah. Selama itu juga ia tidak pernah bicara dengan kak Ravel lagi. Mereka sempat sesekali berpapasan di sekolah, namun status istimewa Ravel sebagai seorang aktor tidak memungkinkannya bicara dengan Ara didepan umum.
Ravel terus-terusan menelpon Ara setelah gadis itu pergi dari rumah, begitu juga Tristan. Tapi Ara tidak pernah mengangkat. Ravel telah cerita semuanya pada Tristan.
Awalnya pria itu kaget, ia tetap bersikap tenang. Tristan hanya ingin tahu di mana Ara tinggal sekarang. Dari kecil gadis itu selalu hidup mewah, apa mungkin anak sekolah seperti Ara bisa hidup mandiri? Setidaknya Tristan harus tahu. Beberapa kali dia ingin bicara dengan Ara di sekolah, tapi gadis itu pandai sekali menghindar.
Ara menutupi hidung ketika melewati kandang ayam yang bau tahi kotok. Ia menyingkir jijik ketika melihat kotoran anjing yang teronggok sembarangan di tengah-tengah gang.
Dalam hati ia menegur dirinya sendiri. Kamu keterlaluan Ara! Baru beberapa hari tinggal di apartemen tua itu, sudah merasa alergi terhadap lingkungan ini. Bagaimana mau hidup mandiri coba. Ara baru menyadari perbedaan tempat tinggal elit dan kumuh. Ternyata perbedaan itu sangat jauh. Pantas saja banyak orang berada yang suka memandang sebelah mata orang miskin, meski tidak semua. Tapi kebanyakan dari mereka.
Beberapa hari ini di lewati Ara dengan aman. Ia sekolah seperti biasa, kerja di cafe seperti biasa, menjalin hubungan dengan para sahabatnya juga dengan Karrel seperti biasa. Suasana hatinya perlahan membaik, meski sering sedih kalau teringat sekarang dirinya sebatang kara.
Ara memang belum berniat memberitahu Karrel kalau dia pergi dari rumah. Ia pun sudah memperingatkan kak Ravel untuk tidak membahas masalah mereka pada Karrel, apalagi mencari tahu keberadaannya melalui pacarnya itu.
Tapi sepertinya Karrel mulai curiga. Kemarin pria itu sempat menanyakan kenapa Ara tidak mau di antar langsung ke rumahnya, kenapa juga tidak mau di jemput supaya mereka bisa ke sekolah bareng. Padahal dengan status keduanya sekarang, sudah sewajarnya Karrel mengantar jemput Ara. Ravel juga sudah tahu hubungan keduanya, meski pria itu sepertinya belum setuju.
"Ra,"
"Mm?" Ara mengalihkan pandangannya dari buku dan mendongak menatap Karrel. Mereka di perpustakaan sekarang. Ara meminta Karrel menemaninya belajar. Gadis itu berpikir keras beberapa waktu ini, menurutnya hidup mandiri itu susah. Ia harus sekolah baik-baik agar bisa lulus dengan nilai baik dan masuk universitas yang bagus. Ia ingin membuktikan pada papanya kalau dirinya bisa berguna. Bukan seperti yang terus dibilang papanya, kalau dia adalah anak yang tidak berguna. Walaupun sekarang Ara pergi dari rumah dan tinggal sendiri, jauh dalam hatinya, kak Ravel dan papanya tetap adalah keluarganya. Ia tetap menyayangi mereka, karena ia dibesarkan oleh mereka sejak lahir.
"Ada yang kau sembunyikan?" Karrel menatap Ara lurus. Gadis itu mengernyitkan mata.
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Bagaimana hubunganmu dengan Ravel, baik-baik saja bukan?" Karrel menanyakan pertanyaan lain sambil menyelipkan rambut Ara yang menutupi wajahnya kebelakang telinga. Ara terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. Jelas sekali di mata Karrel gadis itu sedang berbohong.
"Ara," kali ini Karrel meraih tangan Ara. Tidak peduli ada beberapa pasang mata dalam perpustakaan itu yang melihat mereka. Lagian, mereka tidak melakukan sesuatu yang berlebihan.
"Aku harap kau jujur padaku. Kalau Ravel tidak setuju kita menjalin hubungan, aku bisa bicara baik-baik dengannya. Aku tidak ingin pikiranmu terganggu antara aku dan kakakmu." gumam pria itu jujur.
Ara menggigit bibirnya lirih. Ia membalas tatapan Karrel. Posisi mereka cukup jauh dari beberapa murid yang fokus belajar, jadi pembicaraan mereka pasti tidak akan kedengaran.
Apa ia jujur saja? Batin Ara. Karrel tidak akan marah kan kalau dia bilang sekarang dirinya pergi dari rumah? Tapi, bagaimana kalau Karrel marah.
"Katakan yang sebenarnya Ara, aku tidak tahan melihatmu terus bertingkah biasa saja padahal ada yang kau tutupi."
"Baiklah, aku akan katakan padamu. Tapi janji dulu jangan marah." ucap Ara menatap Karrel. Cowok itu tidak menjawab, hanya terus menatapnya serius. Ara menghela nafas. Ia meletakkan buku diatas meja sebelum bicara.
"Sebenarnya beberapa hari yang lalu aku sudah pergi dari rumah dan tinggal sendiri."
Mata Karrel melotot sempurna.
"Kabur dari rumah?!" suara kerasnya terdengar menggema, sampai-sampai semua yang berada dalam perpustakaan itu mengalihkan pandangan mereka dari buku dan melihat ke pasangan itu. Ada yang merasa terganggu juga.
__ADS_1
Ara cepat-cepat menutup mulut Karrel dengan tangannya, lalu meraih tangan Karrel keluar dari situ karena beberapa pasang mata sepertinya terganggu. Mereka pergi ke rooftop.
"Aku bukan bilang kabur tapi pergi. Beda artinya." kata Ara mengoreksi. Karrel mengusap wajahnya merasa marah.
"Kau tahu banyak orang jahat di luar sana? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?" pria itu khawatir. Bagaimana Ara bisa senekat ini? Apalagi dia belum pernah hidup sendirian di luar sana. Kenapa juga Ravel tidak mencarinya, malah asyik syuting. Kakak macam apa dia?
"A..aku tidak apa-apa kok, lingkungan tempatku tinggal juga orangnya baik-baik." sela Ara. Padahal ia belum pernah bergaul dengan orang-orang yang tinggal di lingkungannya. Ia mengatakan begitu biar Karrel tidak khawatir.
"Ceritakan padaku kenapa kau sampai pergi dari rumah, jangan bilang kalau kau pergi karena Ravel melarang kita berhubungan."
"K..kalau iya?" Ara mengamati Raut wajah Karrel yang kini memicingkan mata menatapnya.
"Kau tidak mungkin pergi dari rumah hanya karena alasan itu, jadi jangan coba-coba mengarang cerita." kata Karrel tegas. Ara tersenyum kecut. Karrel sudah tahu alasan dibalik hubungannya dan keluarganya menjadi dingin. Haruskah ia cerita juga kalau sebenarnya dia hanya anak angkat?
"Ara, aku tahu hubungan kita masih baru," Karrel kembali meraih tangan Ara, mengelus-elus jemarinya lembut.
"Tapi aku ingin menjadi seseorang yang bisa kau percaya. Kalau kau ada masalah, kau bisa cerita padaku. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, kita bisa memikirkan bersama. Bukan meninggalkan rumah seperti ini." lanjutnya lagi. Ara melepaskan tangannya dari genggaman pria itu,
"Aku tahu, aku sedang mencari waktu yang tepat untuk cerita padamu. Karena sekarang, hanya kamu orang terdekat aku. Tapi jangan suruh aku pulang ke rumah." gumam Ara pelan. Karrel tersenyum lembut lalu mengacak-acak kepala Ara.
"Baiklah, sekarang masuk kelas dulu. Kita bicara masalah pribadi nanti." katanya. Mereka lalu turun dari rooftop. Karrel terus menggenggam tangan Ara, tapi genggaman itu terlepas ketika mereka sampai di keramaian. Bisa rame nanti kalau ada yang lihat. Mereka jalan bareng tanpa bergandengan tangan saja, gosip bisa akan menyebar, apalagi melihat keduanya bergandengan tangan.
__ADS_1