
Karrel tetap diam di tempat, membiarkan dirinya berpikir sebentar. Ara telah menceritakan semuanya, dan Karrel tidak menyangka dengan apa yang baru dia dengar. Jelas sekali itu adalah adalah masalah yang besar untuk seorang gadis remaja seperti Ara. Yah, untuk Ara yang masih duduk dibangku sekolah, ia mungkin akan sulit menerima kenyataan kalau dirinya bukanlah anak kandung keluarga yang sudah hidup dengannya bertahun-tahun ini. Keluarga yang paling ia sayangi sepenuh hatinya, yang dia tahu adalah keluarga kandungnya sejak lahir.
Karrel ingin mendengar alasan Ara pergi dari rumah. Dengan begitu ia bisa membantu gadis itu mencari jalan keluar dan membujuknya pulang. Tapi kalau begini masalahnya, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak berhak mengatur Ara dalam hal ini. Dari cerita gadis itu tadi , Karrel tahu gadis itu sangat mencintai keluarganya. Tapi, papanya tidak menginginkan dia. Mengenai Ravel, Ara bilang ia masih merasa dilema dengan kakaknya itu. Ia masih belum tahu bagaimana harus menghadapi Ravel. Tapi Ara tidak menangis lagi. Walau ia bercerita dengan raut wajah sedih, gadis itu tampak kuat.
"Katakan, apa aku salah pergi seperti ini?" Ara mengangkat kepalanya menatap Karrel. Pria itu menatapnya cukup lama lalu mengulurkan tangannya memegang kepala Ara sekilas. Ia tersenyum tipis.
"Sekarang menurut aku, kalian semua membutuhkan waktu. Kalau mereka benar-benar sayang dan menganggapmu keluarga, mereka pasti mencarimu." gumam Karrel.
"Ingat saja bahwa aku akan selalu mendukungmu." lanjutnya lalu memeluk Ara. Ara menyambut hangat pelukan itu. Ia senang karena Karrel ada di waktu tersulitnya. Ia ingin hubungan mereka terus seperti ini, selalu dekat dan saling menemani. Saling menguatkan. Tapi, apakah itu mungkin bagi setiap pasangan? Sesaat Ara ragu tapi ia langsung membuang perasaan ragunya itu jauh-jauh. Ia tidak mau isi di kepalanya tambah berat karena hal itu.
Karrel melepaskan pelukannya.
"Dengar, besok kau pindah dari sini dan tinggal di apartemenku. Aku lebih tenang kalau kau tinggal di tempatku." ucapnya. Mata Ara melebar.
"Apartemenmu? Kau mau kita tinggal bersama?" seru Ara tidak percaya. Meski keduanya saat ini berpacaran, mereka juga masih anak sekolah. Sepertinya tidak pantas untuk tinggal bersama. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? Pikiran Ara sudah merembes kemana-mana. Karrel terkekeh lalu mengetuk hidung Ara dengan telunjuknya.
"Apa yang kau pikirkan bodoh? Aku masih tahu batas. Untuk sementara aku akan tinggal di rumah orangtuaku, karena papa dan mamaku sibuk kerja di Bandung jadi tidak ada yang menjaga rumah kami yang di sini. Tapi, kalau kau mau kita tinggal bersama, kita bisa menikah muda." goda Karrel membuat Ara makin malu.
__ADS_1
"Apaan sih," Ara menepuk lengan Karrel tanda malu. Karrel tertawa kecil. Ia lebih senang melihat Ara yang hidup tanpa beban seperti ini, yang ceria dan selalu tersenyum lepas.
"Baiklah, sebaiknya aku pulang sekarang." Karrel berdiri dari ranjang. Otomatis Ara ikut berdiri. Gadis itu mengantarkan Karrel sampai depan.
"Jangan sedih lagi, kalau butuh apa-apa telpon aku." ucap Karrel sebelum berjalan menjauh dari gedung itu. Tak lupa pria itu mengecup bibir Ara sekilas. Gadis itu sudah bersemu merah akibat ciuman tiba-tiba itu.
Ara bersiap-siap masuk setelah Karrel menghilang dari pandangannya, namun langkahnya terhenti sebentar. Seseorang sudah berdiri didepan sana. Orang yang dia kenal tapi bukan kakaknya.
"K..kak Tristan?" gumam Ara pelan. Ia bingung dari mana kak Tristan tahu tempat tinggalnya.
Tristan berdiri didepan sana dengan tangan berada dalam saku celana. Menatap lurus pada Ara. Pria itu sempat terpaku melihat Ara dan Karrel berciuman tadi. Ciuman sekilas yang membuktikan hubungan keduanya sejauh apa, karena itu ciuman bibir. Tristan memaksakan seulas senyum. Ia tahu Ara dan lelaki itu memang punya hubungan khusus, tapi tetap saja hatinya pedih melihat mereka berciuman tepat didepan matanya.
"Bagaimana keadaanmu? Aku sudah dengar semuanya dari Ravel." ucap Tristan langsung. Ia bukanlah lelaki yang suka basa-basi.
Ara memilih duduk di sebuah bangku dekat situ. Tristan mengikutinya. Tempat itu sepi, hanya ada satu dua orang yang melewati tempat itu.
"Aku baik-baik saja," gumam Ara tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kak Ravel yang nyuruh kak Tristan ke sini?" tanyanya kemudian. Tristan menggeleng.
"Aku hanya ingin tahu kau tinggal dimana sekarang, juga ingin tahu keadaanmu. Kau yakin ingin tetap tinggal di sini?" Tristan sendiri merasa tidak setuju Ara tinggal di lingkungan yang kotor begini. Bukannya memandang remeh tempat kumuh ini, hanya saja ia tidak mau Ara sakit karena lingkungan yang kotor. Biar bagaimanapun gadis itu belum pernah hidup susah sebelumnya.
"Aku akan pindah ke tempat yang lebih baik besok. Kak Tristan tidak perlu khawatir." sahut Ara. Tristan mengangguk. Benar, Ara punya Karrel sekarang. Tidak mungkin pacarnya itu akan membiarkan gadis itu tinggal di tempat seperti ini. Baguslah.
"Bagaimana dengan pulang ke rumahmu? Kau mungkin tidak tahu, tapi aku khawatir dengan Ravel, dia sangat kacau akhir-akhir ini. Karena kau pergi, dia jadi jarang makan dan tidak fokus dengan pekerjaannya." tawar Tristan mencoba membujuk Ara. Ara menaikkan wajah menatap pria itu lalu menggelengkan wajah.
"Aku tidak berniat pulang, kak Tristan tahu sendiri papa membenciku. Apalagi sekarang sudah jelas posisi aku bukan putri kandung keluarga itu." balas Ara bersungguh-sungguh.
Tristan menatapnya lama. Sepertinya Ara sangat sakit hati pada papanya juga Ravel. Kalau sudah begini dia bisa apa coba? Ia juga tidak bisa terus memaksa.
"Atau, kalau kau temui kakakmu bagaimana? Setidaknya tegur dia supaya dia makan dan melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia mungkin akan mendengarmu." ucap Tristan lagi. Ara tertegun berpikir. Apa benar kak Ravel jadi begitu karena dirinya? Kalau sayang sama dia, kenapa dulu bersikap begitu dingin? Gadis itu masih merasa ragu.
"Akan aku pikirkan." ujarnya kemudian.
Tristan tersenyum menatapnya.
__ADS_1
"Masuklah, aku akan pergi setelah melihatmu masuk." gumamnya memegang kepala Ara sekilas. Ara mengangguk kemudian berdiri dari bangku dan masuk ke dalam. Tristan terus menatap gadis itu sampai benar-benar menghilang dari pandangannya. Ia mendesah berat, kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Ia berharap ada harapan Ara akan pulang ke rumahnya lagi.