
Ara duduk di tengah-tengah Ravel dan Tristan. Manda dan Mika juga sudah ada sebagai saksi. Kelimanya duduk berjejer, berhadapan dengan Sion dan orangtuanya. Kepala sekolah duduk di kursinya didepan sana, disampingnya ada dua polisi yang tengah berdiri.
Ravel menahan amarahnya melihat wajah Sion yang tak ada rasa bersalah sama sekali. Masih jelas diingatannya bagaimana lelaki itu menampar adiknya dua hari yang lalu. Ketika kepala sekolah mulai menanyakan tentang kejadian yang sebenarnya, teman Ara yang bernama Manda itu mulai berbicara, menjelaskan dengan panjang lebar. Mata Ravel melotot sempurna dengan amarah yang menggebu-gebu saat mendengar Manda mengatakan Sion mencium Ara.
"Kau mencium paksa adikku?! hardik Ravel emosi. Ia memang tidak sempat melihat laki-laki brengsek itu mencium Ara, karena ketika ia datang, kejadian yang dia lihat adalah Ara ditampar. Tapi mendengar kesaksian temannya Ara tadi, Ravel kembali emosi. Sialan, berani sekali dia melecehkan Ara.
Didepan sana, Sion malah tersenyum remeh.
"Ayolah, itu hanya ciuman dipipi. Tidak usah dibesar-besarkan. Cewek murahan kayak dia pasti suka yang lebih dari itu. Masih untung aku tidak ******* bibirnya." katanya santai bahkan terkesan meremehkan. Mendengar itu, Ravel langsung berdiri dari kursi dan Tristan mengepal tangannya kuat-kuat berusaha menenangkan diri agar tidak tersulut emosi dan menghabisi cowok itu dalam ruangan ini. Pintu ruangan itu tiba-tiba didobrak dari luar, menampakam Karrel yang masuk, berjalan secepat mungkin menuju Sion kemudian menarik kerah seragam cowok itu dengan emosi berkilat-kilat. Ia dengar semua kalimat hinaan Sion pada Ara dari luar. Ia sudah menahannya sejak tadi, tapi sekarang dia tidak tahan lagi. Semua diruangan itu ikut berdiri. Takut-takut Karrel akan berbuat kacau. Devin dan Bintang ikut masuk. Bermaksud untuk menahan Karrel.
"Lo bilang apa? Cewek murahan? Ayo sekali lagi lo bilang brengsek!" Karrel menarik kerah Sion sampai cowok itu berdiri. Rahangnya mengeras dan tatapan matanya sudah seperti ingin mengubur Sion hidup-hidup. Tidak ada yang boleh menghina pacarnya seperti itu. Ia tambah emosi karena Sion hanya tersenyum seolah sedang menantangnya. Orangtua cowok itu sudah terlihat panik tapi Karrel tidak peduli. Ara juga ikutan panik. Ia ingin mendekati Karrel namun cepat-cepat ditahan oleh Ravel. Ara menatap kakaknya itu dengan wajah memelas namun Ravel menggeleng. Ia akan melakukan hal yang sama tadi kalau Karrel tidak masuk. Dua polisi yang ada diruangan itu mendekat memisahkan keduanya saat melihat Karrel sudah siap-siap meninju Sion.
"Bintang, bawa dia keluar sekarang jugs!" perintah kepala sekolah tegas. Kepalanya sudah pusing melihat kelakuan murid-muridnya itu. Astaga.
"Lepasin gue!" Karrel bersikeras tidak mau keluar. Ia ingin memberi pelajaran pada Sion tapi tubuhnya terus ditarik-tarik oleh Devin dan Bintang sampai diluar. Satu dari polisi itu langsung mengunci ruangan, biar tidak ada yang masuk tiba-tiba lagi.
__ADS_1
"Sion," kali ini kepala sekolah mulai berbicara. Mereka sudah kembali duduk. Sion dan orangtuanya menoleh ke kepala sekolah.
"Kamu telah melakukan tindakan tidak terpuji berkali-kali dan tidak pernah bertobat, juga tidak sekalipun mau mengaku salah. Ada banyak laporan tentang sikap semena-menamu. Kau juga terus melakukan banyak kali pembullyan, termasuk tawuran dengan sekolah lain. Aku sebagai kepala sekolah, mulai hari ini memutuskan memberhentikanmu dari sekolah ini, dan melaporkan tindakanmu pada pihak yang berwajib." ujar kepala sekolah panjang lebar. Senyuman lebar di mata Sion memudar. Ia merasa tidak terima. Sementara orangtuanya menarik nafas pasrah. Saat di panggil menghadap kepala sekolah, mereka sudah siap menerima keputusan apapun.
Sion memang sulit di tegur Ia bahkan pernah memukuli papanya sendiri karena memarahinya dengan keras. Sebagai orangtua, mereka pasrah. Menurut mereka Sion harus mendapat hukuman keras agar bisa belajar menghargai orang lain dan berubah menjadi lebih baik. Sion menatap kepala sekolah marah, tapi ia lebih dendam pada Ara. Menurutnya karena Ara dia barulah mendapat hukuman seperti ini.
"Heh, cewek sialan! Ini semua gara-gara lo. Liat aja, gue nggak bakalan pernah lepasin lo!" ancamnya sarkas. Ara sampai memeluk lengan Ravel merinding ngeri. Dia salah apa coba? Orang cowok itu sendiri yang mulai.
"Pak, kalian sudah bisa membawanya ke kantor polisi." kata Tristan pada polisi yang berdiri dekat situ. Dialah yang memanggil mereka tadi. Sementara Sion masih saja melawan dan memaki sejadi-jadinya.
"Wleee, rasain." seru Ara masih sempat-sempatnya terpikir buat meledek cowok itu. Ketika Sion menatapnya lagi dengan tatapan membunuh itu, gadis itu cepat-cepat berlindung dibelakang kakaknya. Tristan, Manda dan Mika yang melihat kelakuan gadis itu menggeleng-geleng. Penakut tapi suka sekali meledek.
Sementara di dalam ruangan kepala sekolah, mama Sion terduduk di kursi sambil mengusap dadanya. Wanita paruh baya itu merasa tidak berdaya, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Suaminya mencoba menenangkan. Ara yang melihat memasang wajah kasihan. Tapi salah anak mereka sendiri, siapa suruh bikin ulah.
"Vel, kau harus kembali ke rumah sakit sekarang." ujar Tristan mengingatkan Ravel ketika mereka keluar dari ruangan kepala sekolah. Pria itu masih ada pemeriksaan siang ini. Ravel mengangguk lalu menatap Ara yang masih setia mengamit lengannya sambil memainkan bibir. Pria itu tersenyum. Ia senang karena hubungannya dengan gadis itu perlahan membaik. Seperti dulu.
__ADS_1
"Ara," pandangan mereka berpindah pada Karrel yang kini berdiri didepan mereka. Ravel dan Karrel saling berpandangan, dan Ara langsung waspada. Dua orang yang dia sayang itu pernah berkelahi karena dirinya, dan ia tidak mau kejadian itu terulang lagi. Namun apa yang dia khawatirkan tampaknya hanya ada dalam pikirannya. Karena setelah itu Ravel malah menyerahkannya ke Karrel.
"Jaga dia baik-baik. Kau tahukan bagaimana berurusan denganku kalau sampai menyakitinya?" ucap Ravel penuh penekanan.
"Tidak akan, kau tenang saja." balas Karrel percaya diri. Manda yang melihatnya sudah merasa iri berat sama Ara.
"Kakak pergi yah," gumam Ravel mengusap lembut rambut Ara dengan senyuman yang bikin para cewek meleleh seketika. Manda sampai menjerit pelan sambil mencubit Mika yang berdiri disebelahnya. Ah, dia pengen jadi Ara.
Ara melambai-lambai pada Ravel dan Tristan yang makin menjauh dari pandangan mereka. Beberapa saat kemudian ia merasakan cubitan dipipinya.
"Auww..." Karrel pelakunya. Cowok itu masih tidak melepaskan cubitannya, malah melemparkan tatapan galaknya ke Ara.
"Kamu tahu tadi pagi kamu salah apa sama aku?" ujar cowok itu. Mereka hanya ditatap heran oleh Bintang dan Devin. Manda dan Mika sudah balik kelas duluan.
Ara memutar otaknya berpikir keras. Tadi pagi? Apa yah?
__ADS_1
"Yang basahin buku PR aku siapa?" kata Karrel lagi mengingatkan. Ara langsung ingat. Benar, tadi pagi dia tidak sengaja merusak buku PR Karrel. Ketika sadar buku itu sudah basah dengan susu yang diminumnya, ia malah kabur begitu saja. Ara menyengir lebar pada Karrel lalu mulai menghitung dalam hati. Saat hitungan ketiga ia langsung kabur.
"Kaburrr...!" teriak gadis itu langsung lari terbirit-birit. Meninggalkan tiga cowok keren itu yang saling berpandangan. Setelah itu Karrel tersenyum lebar. Aranya sudah kembali ceria seperti pertama kali mereka bertemu. Tentu saja dia sangat bahagia.