
Karrel tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan Ara. Mereka sudah menggunakan banyak cara mencari untuk mencari gadis itu sepanjang malam, tapi orang yang menculiknya tidak terdeteksi. CCTV di rumah Ravel sengaja di matikan. Hanya ada cctv jalan tapi posisinya tidak bersahabat. Mereka sudah mengeceknya namun plat mobilnya tidak terbaca. Sepertinya orang yang menculik pacarnya itu bukan orang sembarangan.
Penyidik dan orang-orang yang terlibat untuk mencari keberadaan Ara memutuskan berhenti mencari semalam dan melanjutkan di besok hari. Karrel mencoba bersikap tenang tapi ia tidak bisa sama sekali. Ia ingin tahu keadaan kekasihnya sekarang. Ia sudah sangat merindukan gadis itu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang mengerikan? Karrel terus mengusap wajahnya frustasi.
Di tempat lain, hal yang sama terjadi pada Ravel. Pria itu menyesal kenapa rumahnya tidak di jaga dengan ketat. Ia tidak pernah berpikir sesuatu seperti ini akan terjadi. Ia dan Tristan mendengar kabar tentang penculikan Ara di lokasi syuting. Sore tadi salah satu pelayan rumahnya menelponnya tapi tidak sempat ia angkat. Pelayan itu akhirnya menelpon Tristan untuk memberitahu kejadian itu. Ravel langsung membatalkan syuting dan pulang ke rumah bersama Tristan.
Ravel mengacak-acak rambutnya kesal, mencoba meredam amarah dan berusaha bersikap tenang. Ia tahu keadaan tidak akan membaik kalau dia mengacau. Tristan duduk didepannya dengan pikiran yang sama. Namun lelaki itu jauh lebih tenang dari Ravel. Kalau tidak tenang, ia tidak bisa berpikir dengan baik. Mereka belum tidur-tidur juga padahal ini sudah jam tiga pagi.
"Apa Ara punya musuh?" tanya Tristan melirik Ravel. Ia sendiri tidak yakin kalau gadis remaja seperti Ara ini punya musuh. Kalaupun ada, itu mungkin musuhan biasa seperti anak sekolah pada umumnya. Penyidik tadi bilang penculikan yang terjadi pada Ara bukanlah penculikan biasa. Ada banyak peluru yang berserakan di lantai rumah Ravel sampai depan rumah. Para pelayan rumah Ravel juga bilang ada sekitar enam orang yang menyergap mereka di dalam ruang tamu, sementara beberapa ada di luar. Juga ada beberapa orang lainnya yang datang pakai senjata, menolong Ara dari tembakan dan membawa gadis itu pergi.
Ravel menggeleng memandang Tristan. Ia tidak tahu adiknya itu punya musuh atau tidak. Bisa saja memang ada orang jahat yang sedang menginc...
__ADS_1
Ravel tiba-tiba mengingat perkataan almarhum mamanya.
"Ingat Ravel, tidak ada yang boleh tahu keberadaan adik kamu, kalau tidak ia akan berada dalam bahaya. Mama harap kamu bisa menjaga Ara sebagai adik kandungmu sendiri. Dengan begitu mama bisa tenang."
Ravel mengingat perkataan itu. Mamanya bilang begitu padanya sebelum wanita itu pergi untuk selama-lamanya. Ia juga ingat kalau beberapa hari yang lalu Ara ditampilkan didepan publik, ketika keduanya melakukan klarifikasi sebagai kakak beradik.
"Mereka mungkin sudah mengetahuinya," gumam Ravel terus berpikir. Tristan tentu saja bingung. Ia tidak mengerti apa maksud perkataan Ravel. Pria itu terus menatap laki-laki didepannya.
"Kau mengurus berita tentang penculikan Ara yang sudah menyebar di media? Aku tidak suka media memberitakannya." Tristan mengangguk. Ia mengerti posisi Ravel. Pria itu adalah seorang aktor yang memang tidak pernah luput dari pemberitaan media. Meski begitu, Ravel adalah tipe laki-laki yang tidak suka masalah pribadinya menjadi konsumsi publik.
\*\*\*
__ADS_1
Di Mansion keluarga Moses, pria paruh baya itu melepaskan pelukannya. Kini ia terus mengamati Ara. Wajahnya, matanya, hidung dan ekspresi gadis itu persis seperti istrinya ketika muda. Mereka seperti kembar. Mata pria yang biasa di panggil tuan Furon itu berkaca-kaca. Ia hanya melihat putrinya ini ketika lahir, setelah itu putrinya dibawa pergi oleh sang istri. Tuan Furon tahu kenapa istrinya kabur. Waktu itu mereka sempat bertengkar hebat karena perbedaan pendapat. Malamnya, almarhum istrinya malah kabur dari rumah.
Tuan Furon marah besar dan terus mencari keberadaan istrinya, sayangnya tiga hari kemudian sang istri ditemukan sudah meninggal akibat tabrakan lari. Dan putrinya, istrinya tidak bersama putrinya waktu itu. Menurut pengawal tuan Furon, mereka melihat nyonya mereka itu memberikan putrinya pada seorang perempuan. Namun ketika mereka mau mengejar, mereka malah kehilangan jejak perempuan itu. Akhirnya, tuan Furon harus mencari anak kandungnya itu selama bertahun-tahun. Selain mencari sang putri, ia juga harus mencari sebuah barang yang dibawah lari istrinya. Barang yang juga sedang di cari-cari oleh musuhnya. Ketika istrinya meninggal, barang itu tidak ada bersama sang istri. Kemungkinan besar barang itu ada pada Ara atau wanita yang membesarkan gadis itu. Itu sebabnya Ara harus benar-benar di jaga. Jangan sampai ada yang melukainya.
"Maaf, anda siapa?" pertanyaan Ara membuyarkan lamunan tuan Furon. Ia lalu cepat-cepat mengeluarkan amplop dari saku jasnya dan memberikannya ke Ara supaya gadis itu membaca.
99% akurat ayah dan anak.
Itu adalah isi dari lembaran kertas yang di buka oleh Ara dari amplop pria tua itu. Gadis itu tampak kaget. Ia melirik sekilas ke Moses yang sekarang duduk di sofa sana. Pria itu hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Anda ayah kandung saya?" tanyanya untuk memastikan apa yang dia baca benar-benar betul atau tidak. Pria tua itu mengangguk pelan. Sementara Ara sendiri tidak dapat berkata apa-apa.
__ADS_1