ARAKA

ARAKA
Bab 47


__ADS_3

Karrel balik ke kelasnya setelah memastikan Ara sudah masuk dalam kelasnya. Dalam perjalanannya, Wulan yang tiba-tiba muncul didepannya menghentikan langkahnya. Mata cewek itu terlihat bengkak, namun sama sekali tidak membuat Karrel merasa iba. Ia sudah terlalu muak dengan Wulan dan segala tingkah lakunya yang selalu mendramatisir keadaan. Sudah beberapa kali ia lihat dengan mata kepalanya sendiri Wulan menjahati Ara.


Waktu itu Karrel diam saja karena tindakan Wulan belum sampai melebihi batas. Tapi tetap saja nama tuh cewek sudah jelek dimatanya. Sekarang, saat tahu Wulan adalah dalang dibalik kejadian yang menimpa Ara, Karrel makin tidak menyukainya. Baginya Wulan ini adalah sosok gadis licik dan munafik.


"K..Karrel," ucap Wulan lirih. Karrel menatap cewek itu datar dan terkesan tidak suka.


"Aku bisa bicara sama kamu sebentar?" tanya cewek itu.


"Ngomong di sini." balas Karrel dengan suara rendah. Tatapan tajam itu membuat Wulan merasa terintimidasi namun ia berusaha menguatkan mentalnya. Karrel sendiri ingin mendengar alasan apa lagi yang akan dipakai Wulan saat menyuruh Vivi menyakiti gadis yang ia sayangi dengan sepenuh hati.


Wulan melirik ke kanan-kiri. Koridor itu masih sepi, tidak apa-apa. Tidak ada orang yang akan melihat mereka bicara berdua disitu. Setidaknya Karrel tidak menolak bicara padanya.


"A..aku minta maaf, jujur aku nggak sengaja nyuruh Vivi nyakitin Ara." Karrel tertawa setengah mendengus. Nggak sengaja? Ia tidak percaya. Mana ada nyuruh orang sakitin orang lain terus nggak sengaja. Dan, bukankah cewek itu harusnya minta maaf sama Ara bukan padanya? Ia merasa Wulan hanya mau mencari simpatinya saja.


"Yang lo sakitin itu Ara, bukankah salah minta maaf sama gue?" katanya datar. Wulan terdiam.

__ADS_1


"Gue nggak bisa nerima alasan konyol lo itu, kenapa lo nyakitin Ara, gue juga tidak tahu. Tapi, gue  harus ngomong dengan tegas hari ini sama lo," Wulan menaikkan wajahnya menatap Karrel, menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulut cowok itu.


"Ara adalah gadis yang gue suka, siapapun yang berani nyakitin akan berhubungan langsung sama gue." Karrel melanjutkan ucapannya sambil menatap Wulan dengan sorot mata dingin. Setelah itu ia pergi meninggalkan Wulan sendiri yang berdiri membatu di tempatnya. Rasanya sangat sakit mendengar orang yang kita suka mengatakan menyukai orang lain tepat didepan kita.


Wulan ingin sekali melempar barang apa saja yang ada didekat situ untuk melampiaskan emosinya tapi cewek itu masih punya akal sehat. Ini sekolah. Wulan kembali mengingat hukuman untuknya tadi. Dirinya harus mundur dari osis dan mendapat hukuman yang lain. Ia merasa tidak terima. Padahal ini pertama kalinya ia terkena masalah, tapi Bintang langsung menyuruhnya mundur dari osis. Lebih mirisnya lagi, anak-anak osis yang lain ikutan setuju. Sialan, ini semua karena Ara. Kalau saja cewek itu tidak ada, ia akan terus memiliki citra yang baik didepan semua teman-temannya. Wulan mengepal tangannya kuat-kuat. Lihat saja nanti bagaimana ia mengurus Ara dengan tangannya sendiri. Ia tidak peduli lagi dengan ancaman Karrel.


                                    ***


Pulang sekolah Ara kembali bekerja seperti biasa di Cafe milik Kevan. Kevan sempat menanyakan alasan kenapa dirinya tidak masuk kemaren, tentu saja Ara menceritakan semuanya. Tidak ada yang ia tutup-tutupi. Kevan sendiri merasa kehidupan anak sekolah jaman sekarang semakin parah dibandingkan dulu. Mereka tidak takut-takut lagi melakukan tindakan-tindakan kriminal.


Lily sempat ingin tertawa melihat tingkah Ara yang kadang lucu dimatanya. Namun ia terus menahan tawanya.


"Jangan terlalu ketus dulu Ly, bocah itu baru ngalamin kejadian nggak menyenangkan kemaren." tegur Kevan ringan. Kalau kemaren-kemaren Lily akan marah dengan sikap Kevan yang seolah membedakan Ara dengan yang lain, sekarang ia terlihat biasa saja. Entah kenapa, ia juga tidak mengerti. Yang pasti rasa tidak sukanya pada gadis SMA itu perlahan memudar. Mungkin karena ia perlahan-lahan mulai mengenali sifat Ara. Walau awal-awal Ara sangat tidak bisa kerja, namun sekarang Lily melihat dengan jelas bagaimana Ara mau berusaha sampai bisa. Meski mulutnya selalu mengeluh tapi ia tetap mau belajar. Bahkan sekarang Ara mulai terlihat terbiasa dan menikmati pekerjaannya. Tidak ada lagi keluhan-keluhan seperti hari pertama ia bekerja di sini.


"Kejadian apa?" tanya Lily kemudian. Kevan mulai menjelaskan semua yang di ceritakan Ara padanya tadi. Sesekali mata Lily melirik pada Ara yang sibuk menulis pesanan pelanggan di ujung sana.

__ADS_1


"Lihat, gadis itu cepat belajar. Ia sudah berusaha keras. Awalnya aku ragu dia bisa. Kau juga bukan? Tapi kita berdua salah."


Betul. Perkataan Kevan benar. Lily tidak memungkirinya. Ia lebih ragu dari Kevan. Pertama-tama ia malah berpikir Ara adalah anak orang kaya yang manja. Mana bisa bekerja seperti itu. Tapi ia salah. Gadis itu sungguh-sungguh berusaha keras.


"Kau keberatan aku memberinya pekerjaan yang berlebihan?" tanya Lily hanya ingin tahu pandangan Kevan. Kevan menggeleng pelan.


"Aku tahu cara kerjamu. Kau hanya ingin gadis kecil seperti Ara itu tahu kalau dunia ini keras. Karena dia ingin hidup mandiri, kau ingin memberitahunya seperti apa rasanya hidup mandiri itu. Dan aku rasa kau mulai berhasil. Lihatlah, bocah itu perlahan-lahan mulai terbiasa bukan?"


Lily tersenyum lebar. Ini pertama kalinya Kevan memuji dia. Dan ia merasa senang. Jarang-jarang mendengar kalimat yang enak didengar itu dari mulut seorang Kevan.


"Sepertinya aku perlu berterimakasih dengan pujianmu itu. Kau mau aku mentraktirmu minum?" tawar Lily. Sudah lama ia tidak minum dengan Kevan. Keduanya selalu sibuk dan jarang ada waktu kosong. Kevan juga terkadang selalu beralasan tiap kali Lily mengajaknya. Entah kali ini pria itu akan beralasan lagi atau tidak, yang penting ia coba dulu.


"Bagaimana?" ulang Lily. Kevan terlihat menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk setuju.


"Kalau begitu aku akan memesan tempat sekarang juga." ujar Lily antusias. Jarang-jarangkan Kevan akan setuju.

__ADS_1


__ADS_2