ARAKA

ARAKA
Bab 46


__ADS_3

Hasil dari rapat osis kemarin membuat Wulan terus bolak-balik tidak tenang dikamarnya sambil terus menggigit-gigit bibirnya. Sekarang sudah jam enam pagi. Ia harus bersiap ke sekolah. Tapi ketika mengingat rapat osis kemarin kalau mereka akan memanggil Vivi dan menindak tegas perbuatan gadis itu,  Wulan jadi ragu untuk masuk sekolah.


Bagaimana kalau Vivi mengadu pada Bintang dan yang lain kalau dirinya adalah dalang dari kejadian yang menimpa Ara. Vivi adalah gadis yang nekat. Pasti dia tidak mau di hukum sendirian. Vivi pasti akan mengadu. Wulan yakin. Kalau tidak, ia tidak akan setakut ini.


Masalahnya adalah, Wulan tidak mau sampai dirinya ketahuan. Selama ini ia selalu mempertahankan citra baiknya didepan teman-temannya. Mereka pasti kecewa kalau tahu dirinya tidak sebaik yang mereka lihat. Apalagi Karrel, ia tidak mau namanya buruk dimata cowok itu. Belum lagi Bintang. Wulan jadi menyesali perbuatannya. Harusnya ia sendiri yang menangani Ara diam-diam. Vivi sangat tidak becus.


Kalau tidak masuk sekolah dan Vivi melaporkannya, ia tidak akan punya alasan untuk membela diri. Sebaiknya ia tetap masuk dan mencari cara supaya tidak ada yang percaya dengan perkataan Vivi. Tapi bagaimana menyusun alasan? Otaknya tidak bisa berpikir sekarang.


Ketika Wulan tiba di sekolah, ia langsung menuju ruangan osis. Di sana sudah ada Bintang dan para inti osis lainnya, Ara sih korban dan juga Vivi. Bintang telah melaporkan kejadian Vivi berbuat semena-mena itu pada kepala sekolah dan guru BP. Mereka sudah mengambil kesimpulan kemarin, dan sekarang ini hasilnya osis yang akan bilang sendiri ke Vivi. Tentu saja Ara sebagai korban harus ada juga untuk mendengar hasilnya.


Pandangan Wulan berhenti pada sosok yang duduk disamping Ara. Karrel juga ada? Gadis itu menelan salivanya. Kenapa Karrel ikutan ada didalam sih. Ia kan makin tambah gugup.


Wulan memilih duduk di sebelah Nia, bendahara osis. Posisinya pas berhadapan dengan Vivi. Vivi melemparkan senyum sinis saat melihatnya. Tentu saja itu makin membuatnya tambah was-was.


"Baiklah, " kata Bintang membuka suara. Ia melirik Vivi.


"Vivi, Ada banyak laporan yang masuk tentang tindakanmu sejak dua minggu lalu. Mereka semua mengeluh dengan tindakan semena-mena kamu yang suka melabrak dan membully adik-adik kelas. Terakhir, yang paling fatal kemarin. Kamu dengan sengaja merobek pakaian seragam Ara didepan banyak orang." kata Bintang panjang lebar.


Vivi malah santai. Bahkan sibuk menggoyang-goyangkan kaki yang dipangkunya dan memainkan jari-jari tangannya. Ia sudah kebal dengan hukuman. Mau hukum apa, nyapu seluruh sekolah? Bersihin semua toilet? Cabut rumput? Itu mah biasa. Sudah jadi makanannya hampir tiap minggu.

__ADS_1


"Santai aja elah, dianya juga nggak kenapa-napa tuh, udah ditutupin sama cowoknya kemaren. Paling sih Karrel doang yang liat dalam-dalamnya." ujar Vivi santai. Dagunya menunjuk Ara, menatap gadis itu dan Karrel bergantian. Entah mereka beneran pacaran atau tidak, yang pasti dimatanya mereka berdua adalah pasangan kekasih.


Vivi mengalihkan pandangannya ke arah lain karena Karrel terus menatapnya tajam dan penuh permusuhan. Sialan, Vivi memaki dalam hati, ia merasa terintimidasi. Selama sekolah di sini ia tidak takut apapun dan selalu mengganggu siapa saja. Namun ada satu kelompok yang ia tidak mau cari gara-gara. Tentu saja kelompoknya Karrel. Mereka tidak bisa dia lawan.


"Sekarang aku akan mengatakan keputusan kepala sekolah buat kamu," kata Bintang lagi. Kali ini Vivi menegakkan badan. Penasaran juga dia apa hukuman buatnya.


"Kamu di skors selama dua minggu."


perkataan itu sontak membuat rasa senang di hati Vivi menghilang. Ia tidak terima.


"Kenapa harus di skors? Aku tidak merasa tindakanku berlebihan. Seragamnya saja yang tidak kuat makanya gampang robek!" tukas Vivi tidak terima. Ia menunjuk Ara yang balas menatapnya dengan tidak suka. Apa maksudnya? Jelas-jelas cewek itu memang sengaja.


Vivi terdiam. Meski begitu dia masih tidak terima kalau dirinya di skors. Pandangannya berpindah ke Wulan. Semua ini karena tuh cewek. Ia tidak mau dihukum sendiri.


"Kalo gue di skors, dia juga harus di skors!" mereka semua yang berada dalam ruangan itu sama-sama menatap Wulan yang ditunjuk Vivi. Mereka tidak mengerti kenapa Vivi bilang begitu. Sementara Wulan sendiri sudah gugup sejak tadi. Apa yang ia takutkan memang terjadi. Vivi akhirnya menyebutkan namanya juga. Ia berusaha tetap bersikap tenang.


Tenang Wulan, tenang,


"Wulan yang nyuruh gue buat sakitin ceweknya Karrel."

__ADS_1


Pandangan Karrel langsung berpindah menatap Wulan tajam. Ara juga melirik cewek itu antara percaya tidak percaya. Kalau dipikir-pikir ia juga tidak ada masalah sama sekali dengan Vivi. Masuk akal sih kalau Wulan menyuruh Vivi, apalagi Wulan memang tidak suka padanya. Jahat juga sih Wulan kalau yang dikatakan Vivi memang benar.


"J..jangan nuduh sembarangan Vi," ucap Wulan dengan suara bergetar. Ia  sudah gugup dengan pandangan semua orang.


"Siapa yang nuduh, itu kenyataannya. Karena lo cemburu sama nih adek kelas, makanya lo sengaja manas-manasin gue biar gue bully dia. Ngaku aja lo, gue punya bukti. Temen-temen gue banyak yang bisa jadi saksi."


"Wulan, benar kata Vivi?" tanya Bintang menatap Wulan. Wulan menggeleng dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.


"A..aku bisa jelasin," ucapnya menatap mereka semua yang menatapnya dengan raut wajah tidak percaya.


Tak lama kemudian Karrel tiba-tiba berdiri sambil menggebrak meja dengan kuat. Bintang langsung menatap cowok itu tajam namun tidak bicara apa-apa. Dirinya hanya menunggu Karrel bicara.


"Gue ingetin, kalau sampai ada yang gangguin Ara lagi, gue nggak bakal segan-segan matahin tangan-tangan yang nyakitin dia. Ancaman gue nggak main-main, ingat itu." Karrel menatap dingin Wulan dan Vivi sebentar, lalu meraih tangan Ara dan keluar dari ruangan itu tanpa sepatah katapun lagi. Biar Bintang dan teman-teman osisnya yang mengurus mereka.


Perkataan Karrel sanggup membuat Vivi yang tak kenal takut sekalipun bergidik ngeri. Sedang Wulan, ia masih terisak sambil tertunduk malu. Hancur sudah. Namanya sudah hancur dimata semua teman-temannya. Terutama Karrel dan Bintang.


"Jadi gimana? Gue tetap di skors nih?" tanya Vivi kembali santai. Sebenarnya ia sudah tidak peduli lagi mau di skors atau tidak, ia bertanya karena ingin mengganti suasana yang terasa tegang dalam ruangan itu.


"Keputusan buat lo nggak berubah. Lo bisa keluar sekarang." ujar Bintang tak ada lembut-lembutnya. Vivi memutar bola matanya malas lalu berdiri dan berbalik pergi. Lagian ia sudah puas karena sekarang mereka sudah tahu siapa Wulan. Dibalik wajah baiknya itu ternyata cewek itu licik. Vivi lebih memilih jadi dirinya yang dikenal jahat daripada munafik seperti Wulan.

__ADS_1


__ADS_2