
Karena di dalam kepalanya hanya ada Ara, Karrel sampai-sampai tidak peduli lagi dengan sikapnya. Cowok itu masuk ke ruangan osis dengan cara menendang pintu masuk ruangan itu kuat-kuat.
Semua anggota osis termasuk Ara yang ada di dalam ruangan itu menatap kaget karena pintu yang tiba-tiba terbuka dengan sangat kasar. Salah satu gadis berkacamata yang duduk tak jauh dari Ara mengusap-usap dadanya saking kagetnya.
"Kau ingin ajak berkelahi?" tandas Bintang. Ekspresinya kesal menatap Karrel. Gimana tidak, mana ada orang yang membuka pintu seperti itu. Yang ada tuh ketok dulu kek, apa kek, ini malah ditendang dengan seenak jidatnya. Siapa yang nggak emosi coba.
Karrel sendiri tidak peduli. Matanya terus mencari-cari keberadaan Ara. Saat matanya menemukan dimana gadis itu, ia berjalan secepat mungkin menuju Ara yang duduk bersebelahan dengan Bintang.
Tanpa permisi Karrel langsung memeluk gadis itu kuat-kuat, hingga semua yang berada dalam ruangan itu tercengang. Kepala Bintanglah yang sakit melihat ulah sahabatnya itu. Ya ampun, ini sekolah woi, ruang osis pula. Tidak bisa tunggu pulang sekolah dulu apa kalau mau berpelukan ria. Bintang menghela nafas. Tapi ini Karrel, cowok itu bisa melakukan apapun yang dia mau.
"Kita keluar dulu," Bintang berucap ke teman-teman osisnya. Untungnya para anggota osis itu sepertinya mengerti dan mau bekerja sama. Mereka mulai keluar satu persatu.
"Kalian punya waktu sepuluh menit," kata Bintang melirik Karrel dan Ara bergantian, sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.
Sepeninggalnya Bintang dan yang lain, Karrel melepaskan pelukannya perlahan. Ia menatap wajah Ara lekat. Matanya bengkak tapi sudah tidak menangis lagi. Pasti masih syok akibat kejadian tadi. Karrel mengusap-usap pelan pipi Ara lalu pandangannya turun ke seragam yang dipakai gadis itu.
Ternyata Ara mengenakan seragam miliknya. Karrel tertawa kecil karena melihat seragamnya yang dipakai Ara terlihat sangat kebesaran di badan gadis itu. Tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa senang.
"Masih sedih?" gumamnya pelan. Sebelah tangannya terangkat merapikan surai rambut Ara lalu menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu.
Ara menaikkan wajah menatap cowok itu.
"Siapa yang sedih? Aku malu doang karena tadi seragamku di robek dan semua orang melihat...," ucapan gadis itu tergantung. Ia tidak bisa mengatakan kalimat selanjutnya. Namanya pasti sudah trending di semua siswa kelas dua belas sekarang. Mereka pasti heboh bergosip tentang bagaimana dirinya yang dipemalukan genk nakal itu.
Semoga ucapan Bintang yang akan memberikan sanksi tegas pada Vivi dan teman-temannya tadi secepatnya di lakukan. Ketika berbincang tadi dan menceritakan semua kejadian yang menimpanya, Bintang bilang akan segera memanggil Vivi. Para osis yang lain juga setuju. Kata mereka ini adalah pembullyan yang serius, kalau dibiarkan mereka akan semakin berbahaya.
Ara tertunduk didepan Karrel. Kejadian tadi sungguh membuatnya malu.
__ADS_1
"Tidak ada yang lihat, hanya aku." perkataan itu membuat Ara mendongak menatap Karrel. Ia tahu Karrel cuma mau menghiburnya saja. Kalau mereka tidak lihat kenapa tadi mereka semua bersiul-siul menggodanya. Karrel memang langsung menutupinya tapi ia yakin tadi pasti kelihatan oleh yang lain, meski hanya sepersekian detik.
"Aku tahu kamu hanya mencoba menghiburku. Lagian meskipun mereka nggak liat, tetap aja kamu sudah melihatnya juga. Itu sama saja." celetuk Ara.
"Nggak, aku berbeda dari mereka! Jangan menyamakan aku dengan mereka." balas Karrel langsung. Ia tidak mau di samakan dengan yang lain.
"Berbeda apanya?" Ara tidak mengerti maksud cowok itu apa. Mereka saling menatap cukup lama.
"Aku bisa bertanggung jawab," ucap Karrel menatap Ara lekat-lekat.
"Hah?" Ara melongo tidak mengerti. Cowok itu salah apa memangnya sampai dia harus bertanggung jawab. Kalau mau minta tanggung jawab, ia akan memintanya dari sih Vivi itu. Karena perempuan itu adalah dalangnya. Tapi Ara sendiri tidak yakin berani meminta cewek brutal itu bertanggung jawab. Yang ada dia sudah kabur duluan. Lagipula masih ada Bintang yang akan menghukum cewek preman itu nanti.
"Apa maksudmu?" tanya Ara menatap Karrel.
"Sudahlah. Kau akan mengerti nanti." balas cowok itu.
"Mulai sekarang kalau mau ke kelas aku, telpon dulu. Biar aku yang jemput." gumam Karrel mengusap puncak kepala Ara.
Gadis itu sendiri tidak bicara apa-apa lagi. Ia menyandarkan diri di bahu Karrel sambil menerawang ke langit-langit ruangan itu. Meratapi nasibnya akan seperti apa kalau bertemu kakak kelas, pasti malu sekali.
"Sepuluh menit kalian habis."
Bintang muncul dari balik pintu. Ia sengaja mengunci pintu itu dari luar biar tidak ada yang mengganggu Karrel dan Ara. Karena sepuluh menit sudah lewat, ia berhak membuka pintu itu lagi.
Karrel berdiri dari kursi dan menarik tangan Ara pelan. Membuat gadis itu ikut berdiri. Mereka menatap Bintang.
"Thanks udah jagain dia tadi." kata Karrel menatap lurus Bintang. Cowok itu mengangguk. Pandangannya berpindah ke Ara lalu menepuk punggung gadis itu pelan.
__ADS_1
"Lupain kejadian buruk tadi. Jangan terlalu dipikirin." ucapnya. Ara mengangguk pelan lalu tersenyum. Tak lama kemudian mereka berdua keluar. Karrel terus menggenggam tangannya tanpa peduli ini di sekolah sekalipun.
***
Dari balik tembok ada yang terus mengamati langkah Karrel dan Ara. Siapa lagi kalau bukan Wulan. Gadis itu bersembunyi dari tadi.
Ia sempat ada dalam kumpulan anak kelas dua belas yang menonton peristiwa tadi. Cewek itu sangat puas malah waktu Vivi melabrak Ara. Awalnya dia senang karena berhasil memprovokasi Vivi. Tapi senyumannya berubah ketika Karrel tiba-tiba datang, menyerobot masuk dan melindungi Ara.
Apalagi waktu kemeja Ara robek dan Karrel tanpa pikir panjang memberikan seragamnya buat cewek itu. Siswi-siswi lain langsung merekamnya dan berseru iri. Mereka bilang Ara dan Karrel sudah kayak artis di drama-drama dan terlihat sangat manis.
Bukan, bukan itu yang Wulan mau. Ia mau mempermalukan Ara dan membuat gadis itu kapok. Tapi kedatangan Karrel menghancurkan semua yang sudah dia atur. Sekarang ia terus merapalkan doanya supaya Vivi tidak menyebut namanya dan bilang kalau dia adalah dalang yang sebenarnya.
"Kenapa di situ?"
jantung Wulan hampir copot mendengar suara itu. Karrel dan Ara memang sudah tidak terlihat lagi sejak tadi tapi gadis itu masih terus berada di tempatnya berdiri.
Wulan menatap ke depan. Bintang berdiri didepannya dengan wajah bingung. Gadis itu tersenyum kikuk seperti orang yang baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu.
"B.. Bintang," ujarnya.
"Kau lihat apa?" Bintang mengikuti arah pandang Wulan tapi tidak melihat siapa-siapa.
"Tidak ada." Wulan menggeleng cepat. Semoga Bintang tidak curiga padanya.
Bintang sendiri tidak mau bertanya lagi. Tidak penting juga menurutnya.
"Ya sudah, masuklah. Sebentar lagi ada rapat osis." katanya. Wulan mengangguk. Ia lalu mengikuti Bintang yang masuk lebih dulu ke dalam ruangan osis.
__ADS_1