
Ravel mengikuti Moses masuk. Gedung itu memang besar. Namun kosong dan sangat tidak terawat. Entah darimana pria itu menemukan gedung seperti ini. Mereka duduk di berhadapan di sebuah meja yang letaknya agak sudut. Meja dan kursi itu memang tertata rapi. Tapi sudah tua dan terlihat usang. Meski begitu Ravel tetap duduk. Ia mengamati seluruh tempat itu.
"Kau bawa barangnya?" pertanyaan itu membuat Ravel menghadap depan, menatap Moses. Ia mengamati pria itu sebentar. Semua yang dipakai Moses bukanlah barang biasa. Sama sepertinya, itu adalah barang berkualitas tinggi. Hanya orang-orang kaya saja yang bisa membeli barang-barang mahal seperti itu. Artinya Moses termasuk pria yang berada digolongan atas. Wajahnya beringas dan terkesan dingin, namun itu tak menutupi ketampanannya. Kebanyakan wanita pasti akan menyukai pria seperti itu. Ravel saja mengaku kalah dari aura kuat yang dimiliki oleh laki-laki didepannya ini.
"Kau bawa barangnya atau tidak?" tanya Moses lagi.
"Aku membawanya. Tapi tidak ada bersamaku sekarang." sahut Ravel. Moses mengernyitkan kening. Kakak beradik sama saja ternyata. Keduanya sama-sama menyebalkan. Ia tahu tidak segampang itu mempercayai orang, tapi tetap saja dirinya merasa kesal. Niatnya kan sudah baik untuk membantu. Sekali ia bilang akan melindungi orang yang ingin dia lindungi, Moses akan melakukannya tanpa mengharapkan balasan. Ya sudahlah, ia bisa menerima pria didepan sekarang hanya mencoba untuk berhati-hati dan tidak gampang percaya orang asing begitu saja.
"Kau tenang saja, kalau kau sungguh-sungguh tidak berniat jahat pada adikku, barang itu akan berada di tanganmu sekarang juga." kata Ravel lagi. Moses tertawa pelan.
"Untuk apa aku menjahati gadis lemah dan penakut itu. Lagipula dia tunanganku sendiri. Tidak mungkin aku melukainya." balas Moses dengan gaya angkuhnya.
Perkataan pria itu membuat Ravel cukup terkejut. Tunangan? Astaga, apalagi ini. Apa pria itu sengaja memaksa Ara bertunangan dengannya.
__ADS_1
"Jangan main-main, Ara punya pacar. Kenapa dia harus bertunangan denganmu?" sergah Ravel dengan ekspresi tidak senang. Lagi-lagi Moses tertawa. Ia bersedekap dada.
"Aku tahu dia punya pacar. Tapi aku dan adikmu itu sudah dijodohkan sewaktu kami kecil, sebelum dia dibawa pergi oleh mamanya. Dan asal kau tahu, pertunangan ini akan sulit dibatalkan kalau kau tidak bekerja sama denganku." ucap Moses panjang lebar. Ravel balas menatapnya tajam.
"Maksudmu barang itu?" ujarnya. Moses mengangguk.
"Kau jauh lebih pintar dari adikmu." balasnya. Ravel merasa geram namun tidak bisa apa-apa.
"Apa buktinya kau ada dipihak kami? Kata Ara semua orang yang memiliki barang itu bisa tiba-tiba berkuasa. Bagaimana kalau dirimu hanya menginginkan barang itu saja dan akhirnya mengkhianati kami?"
"Dengar," pria itu mencondongkan badannya sedikit kedepan.
"Aku tidak perlu barang haram itu untuk mendapatkan kekuasaan. Dan aku, bukanlah jenis pria yang serakah." katanya datar. Ravel mengakui kalau laki-laki itu sangat berkarisma. Mungkin dia yang terlalu berlebihan dengan menganggap pria yang bernama Moses itu memiliki niat jahat.
__ADS_1
Lalu terdengar nada dering telpon berbunyi. Ravel melihat Moses mengangkat telpon dan bicara dengan serius. Ia mendengar kata, "kalian sudah sampai?", keluar dari mulut Moses. Siapa yang menelpon pria itu?
"Masuklah ke dalam." perkataan terakhir Moses sebelum menutup telpon itu membuat Ravel siap siaga. Mungkin saja itu musuh. Mungkin saja Moses memang benar ingin mengkhianati mereka. Sesaat kemudian muncul beberapa orang berpakaian rapi ke dalam ruangan itu. Kira-kira ada sembilan orang. Ada dua perempuan diantara mereka.
Ravel ikut berdiri dari kursi ketika melihat Moses berdiri dan menyapa orang-orang itu.
"Siapa mereka?" tanya Ravel dengan tatapan menyelidik. Moses tetap terlihat santai seperti biasa.
"Karena kau masih tidak percaya padaku dan aku mempertimbangkan baik-baik keselamatan adikmu, aku sengaja memanggil tim dari kejaksaan dan menyerahkan barang itu pada mereka. Barang itu memang harus diberikan pada pihak yang berwajib bukan?" jelas Moses. Ravel memicingkan mata menatap Moses. Bisa saja kan orang-orang itu hanya berpura-pura menjadi pemerintah.
"Apa buktinya mereka benar-benar dari kejaksaan?" tanyanya lagi ingin memastikan. Seseorang di antara mereka, yang tadi bersalaman dengan Moses maju dan menunjukkan kartu tanda pengenalnya pada Ravel. Pria itu membacanya dengan saksama. Ia bisa membedakan mana yang palsu dan asli. Dan sepertinya, orang-orang didepannya ini memang benar-benar tim dari kejaksaan.
"Kami harap anda bisa bekerja sama dengan kami." ujar pria dewasa yang berumur di awal empat puluan itu. Sepertinya ia adalah ketua tim dari beberapa orang yang berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
Ravel terdiam sebentar, kemudian menatap Moses lagi. Pria itu ternyata benar-benar ingin membantu Ara, tidak berniat yang lain. Kalau begitu, dia juga tidak perlu menyusahkannya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyuruh temanku yang memegang barang itu mengantarkannya ke sini sekarang juga." kata Ravel membuat keputusan. Sesuai dugaan Moses. Ia sudah punya firasat kalau Ravel sengaja menyuruh orang mengikutinya. Ia sempat melihat ada orang yang mengamati mereka dari semak-semak di luar tadi. Rupanya itu adalah orangnya Ravel.