ARAKA

ARAKA
Bab 84


__ADS_3

"Berusahalah terlihat biasa." gumam Moses pelan. Ia bisa lihat dengan jelas Ara yang tampak sangat gugup. Semalam Moses tidur di sofa karena takut kapan saja ada yang masuk menculik gadis itu. Lalu terdengar suara ketukan pintu dari luar. Insting Moses memang kuat. Ia bisa mendengar ada orang yang datang menuju kamarnya.


Setelah pria itu melihat Ara sudah tidak begitu gugup, ia berdiri mendekati pintu dan membukanya. Seorang pelayan perempuan telah berdiri didepannya.


"Tuan muda, sarapannya sudah siap. Anda dan nona itu..." sih pelayan melirik ke dalam sebentar.


"Namanya Ara." sela Moses dengan suara rendahnya.


"Maaf, maksud saya nona Ara. Kalian di suruh turun oleh tuan besar." pelayan itu melanjutkan.


"Baiklah. Kami akan turun sebentar lagi." ucap Moses lalu menutup pintu lagi. Meninggalkan pelayan perempuan itu yang masih berdiri bengong. Ia sungguh penasaran siapa gadis bernama Ara itu. Kenapa bisa-bisanya tuan mudanya mengijinkan dia tidur di kamarnya sendiri sementara ada banyak kamar tamu. Bahkan tuan besar mereka mengenal gadis itu. Rasa ingin tahu pelayan itu makin kuat. Ia mendekat ke pintu dan mengarahkan telinganya ke dinding pintu itu, siapa tahu saja bisa mendengar pembicaraan tuan mudanya dengan gadis itu dari luar.


Tapi belum sempat melanjutkan aksinya, dua orang pengawal datang seolah melarangnya melakukan tindakan tidak patut di contoh itu. Pelayan itu tersenyum malu lalu cepat-cepat pergi dari situ.


"Siapa?" tanya Ara. Moses sudah duduk kembali disisinya.


"Pelayan. Ayahnya menyuruh kita berdua turun untuk sarapan." Ara mengangguk mengerti.


"Kamu yakin rencana kita akan berhasil? Kak Ravel dan yang lain tidak akan kenapa-napakan?" tanya gadis itu lagi. Ia hanya khawatir sesuatu yang buruk menimpa orang-orang yang dia sayang.

__ADS_1


Moses menatap gadis itu sebentar kemudian mencondongkan badannya ke depan. Tangannya terangkat memegangi kedua bahunya.


"Selama kita bisa menyerahkan barang itu pada kejaksaan. Kau dan keluargamu pasti akan aman. Aku akan menghubungi seseorang yang aku kenal di kejaksaan. Dan meminta mereka melindungi keluargamu." ucap pria itu berusaha menenangkan Ara.


Walaupun ayahnya adalah seorang mafia yang terkenal kejam di dunia mereka, Moses sebenarnya tidak pernah terlibat berbuat jahat dengan mereka. Sejak kecil dirinya memang memang belajar bela diri, menembak dan banyak lagi. Hampir semuanya dia kuasai. Tapi semua itu dia lakukan untuk melindungi diri dan orang lain yang tidak bersalah. Ia tahu ayahnya dan ayah Ara memiliki kekuasaan yang sangat besar. Bahkan


polisi saja tidak bisa menangkap mereka. Karena jejak mereka selalu bersih. Kejahatan yang mereka lakukan sudah dipersiapkan matang-matang. Kalau ada orang yang mereka bunuh pun, jejaknya sulit untuk ketahuan. Tapi mereka tidak mungkin membunuh Ara. Biar bagaimanapun gadis itu adalah darah daging ayahnya sendiri. Hanya saja Moses harus sangat berhati-hati. Mungkin saat ayah mereka tahu barang yang mereka cari itu telah diserahkan ke kejaksaan dan dilindungi oleh negara, ayahnya akan marah besar. Itu tidak akan berdampak baik padanya apalagi Ara. Ia harus melindungi gadis itu sampai amarah ayahnya menghilang.


"Ayo turun sekarang. Ingat, bersikap biasa saja didepan ayahku. Pria tua itu gampang sekali curiga." kata Moses lagi membantu Ara turun dari ranjang.


Ara menurut. Ia mulai menganggap Moses sebagai teman. Karena pria itu berpihak padanya, tidak ada salahnya kan mereka berteman. Meski hatinya hanya untuk Karrel. Ia yakin Moses pasti akan mengerti dan tidak akan memaksanya menerima pertunangan itu.


Di meja makan, tuan Ruff telah duduk di kepala meja. Moses menggeser kursi bagian kanan meja dan mempersilahkan Ara duduk. Tindakannya tak lepas dari perhatian ayahnya.


"Ada sesuatu yang terjadi pada kalian semalam? Kalian tidak berhubungan intim bukan?"


Moses terbatuk-batuk. Astaga, apa yang dikatakan pria tua itu. Mana bisa dia meniduri gadis yang baru dia kenal. Apalagi gadis itu masih polos seperti Ara ini.


"Jangan bicara sembarangan ayah. Kau pikir aku pria apa?" balasnya. Ara sendiri ikut malu. Siapa coba yang tidak malu mendapatkan pertanyaan di luar dugaan seperti itu.

__ADS_1


"Aku hanya mengetes saja. Jangan dimasukkan ke dalam hati. Ayo makan." kata tuan Ruff lagi. Mereka lalu makan tanpa kata. Suasana terasa begitu canggung. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang bicara.


"Ara, aku minta maaf. Mungkin beberapa waktu kedepan kau tidak bisa kembali masuk sekolah. Terlalu banyak musuh di luar sana yang mengincarmu." kata tuan Ruff kembali membuka suara. Ara hanya tersenyum canggung.


"Dan tentang kalung yang aku dan ayahmu tanyakan, kau yakin tidak mengingatnya? Mungkin saja kau lupa menaruhnya di suatu tempat." pria tua itu melanjutkan sambil terus mengunyah makanan. Perkataan itu membuat pandangan Ara tertuju ke Moses. Tapi Moses pura-pura tidak melihatnya dan fokus makan. Ia tidak mau gerakan Ara membuat ayahnya curiga.


Rencana mereka bisa gagal total kalau pria tua itu sampai curiga. Karena itu Moses bertingkah tidak mempedulikan apapun yang direncanakan oleh ayahnya. Ia hanya berharap supaya Ara bisa berakting dengan baik.


"Aku berusaha mengingat, sepertinya dulu aku memang mempunyai kalung seperti yang om tanyakan."


perkataan Ara berhasil membuat tuan Ruff berhenti mengunyah dan memfokuskan pandangan pada gadis itu. Moses sendiri cukup kaget dengan perkataan gadis itu. Kenapa dia bilang begitu sih. Pasti gadis itu sedang merencanakan sesuatu yang lain.


"Tapi aku lupa menyimpannya di mana. Aku harus kembali ke rumah agar bisa mencarinya."


Tuhkan. Moses menggeram dalam hati. Gadis bodoh. Bagaimana kalau rencana mereka gagal.


"Moses bisa menemanimu pulang untuk mencari barang itu." kata tuan Ruff langsung. Ia makin semangat mendengar benda itu ada pada Ara. Tidak sia-sia mereka mencari gadis itu bertahun-tahun.


"Aku ada janji penting dengan temanku hari ini. Kita pergi besok saja." kata Moses datar. Tuan Ruff menatap putranya dengan ekspresi keberatan. Tapi apa boleh buat. Dia setuju saja.

__ADS_1


"Kalau begitu Ara, kau tidak apa-apakan istrihat sendirian di rumah ini? Besok kau bisa pergi dengan Moses mencari kalung itu."


Ara tersenyum dan mengangguk. Ia tidak melihat wajah dongkol Moses. Gadis ceroboh. Terpaksa dia harus memikirkan ulang rencana awal mereka. Kalau dia dan gadis itu pergi besok, berarti dirinya harus menemui aktor itu hari ini juga. Mudah-mudahan saja kakaknya Ara sudah menemukan benda itu. Agar ia bisa memanggil kejaksaan dan menyerahkannya secara langsung. Hebat, gadis ini hebat sekali. Membuatnya harus kerja terburu-buru.


__ADS_2