
"Cari apa?"
Ara menoleh mendengar suara itu. Ia melihat Karrel dibelakangnya. Cowok itu sudah memakai pakaian biasa, tidak seragam sekolah seperti waktu ia pergi tadi. Mungkin berganti di rumahnya. Entahlah. Tidak penting juga kalau Ara menanyakan itu.
"Kamu kok balik lagi? Urusannya udah selesai? Aku mau buat kopi." tanya Ara karena sekarang sudah kemalaman. Malam-malam berduaan dengan cowok, apalagi pacar sendiri membuat Ara merinding dan gugup. Semoga saja tidak ada setan yang lewat ya Tuhan..
"Bagaimana kamu bisa buat kopi kalau tidak tahu letak gulanya?"
Ara menyengir. Ia memang lagi nyari gula tadi saat suara Karrel mengalihkan perhatiannya. Karrel langsung mengambil stoples gula dan krim dari rak kecil di samping kompor lalu mengambil stoples kopi di tangan Ara. Setelah menuangkan sesendok kecil kopi, krim, dan gula ke dalam satu cangkir, Karrel menuang air panas ke dalamnya. Ia mengambil susu dingin di kulkas dan menuangnya ke cangkir lain. Ia membawa dua cangkir itu ke meja pantri yang memisahkan dapur dengan ruangan didepannya.
"Kenapa mau minum kopi?" tanya cowok itu.
"Biar nggak nggak ngantuk. Aku lagi ngerjain soal matematika buat di kumpulin besok."
"Minum susu aja," kata Karrel lalu menyodorkan susu ke Ara dan meminum kopi yang sebenarnya untuk Ara itu. Sontak gadis itu melongo.
"Kan aku minum kopi biar nggak ngantuk, kok malah dikasih susu? Kan susu bisa memicu kantuk." katanya keberatan. Bagaimana kalau dia ketiduran sebelum selesai mengerjakan tugas matematikanya? Tapi Karrel malah keliatan santai.
"Karrel... aku masih harus ngerjain tugas.." katanya merajuk.
__ADS_1
"Minum dulu susunya. Entar aku bantu bikin tugas. Kalau kamu ketiduran nanti aku yang selesain." ujar Karrel sambil menyesap kopinya.
mata Ara berbinar-binar. Ia memang sudah pusing mengutak-atik soal-soal matematika dan tak kunjung bisa mengerjakannya. Ia senang sekali kalau Karrel mau membantunya. Selesai minum keduanya masuk ke kamar Karrel. Karrel menarik kursi lain dan duduk di sisi Ara depan meja belajar.
Ara menyodorkan buku tugas yang berisi sepuluh soal matematika itu ke Karrel. Setelah membaca soal-soal itu, Karrel mengambil kertas dan mulai mencoret-coret. Ia menjelaskan panjang lebar sampai Ara benar-benar paham kemudian menyuruh gadis itu menyelesaikan soal lanjutannya.
Karrel tersenyum tipis melihat Ara yang asyik mencoret-coret kertasnya dengan semangat. Akhir-akhir ini minat gadis itu dalam belajar sangat tinggi.
"Dapat! Hasilnya nol. Berarti habis dibagi satu." Ara berseru gembira.
Karrel ikut tersenyum.
"Oh ya? Ya ampun, aku selalu mulai dari awal lagi, ah dasar tolol!" Ara menepuk dahi. Kemudian ia kembali sibuk menghitung dengan mencoba memasukan angka lagi, ia tidak tahu bahwa Karrel terus mengawasinya.
Karrel senang melihat Ara yang begitu bersemangat. Karena dengan begitu, ia tidak perlu memikirkan masalah yang sedang dia hadapi sekarang ini. Dengan begitu, otaknya akan lebih refresh.
Ketika Ara selesai mengerjakan soal, ia mengangkat wajahnya dan terpana melihat wajah Karrel begitu dekat dengannya. Ia mundur sedikit, memberi ruang di antara mereka. Jantungnya berdebar cepat, tidak tahu kenapa bisa begini. Padahal ia dan Karrel sudah tak terhitung lagi berapa kali berada di jarak sedekat ini. Ia mencoba menceriakan suasana dengan berceloteh.
"Kamu pintar banget ngajar, nanti kalau aku mau bikin tugas yang susah kayak gini lagi, aku belajarnya sama kamu aja ya ya ya!"
__ADS_1
Karrel masih memandangnya dengan tatapan dalam seperti tadi.
"Kamu kenapa?" tanya Ara bingung.
"Rambut kamu harum, pakai sampo apa?" cowok itu mengulurkan tangannya mengambil segenggam rambut Ara yang terurai dan mengendusnya, menikmati wangi yang harum dalam Indra penciumannya.
Ara merasa wajahnya memanas.
"Sampo yang di kamar mandi kamu." jawabnya.
"Oh ya?" giliran Karrel yang salting. Ia bahkan sudah lupa wangi samponya sendiri. Ara memakai samponya? Ada rasa senang dalam hatinya.
"Sekarang soal berikutnya." seru Ara lagi untuk menghilangkan rasa gugupnya. Mereka akhirnya sibuk lagi dengan soal-soal sampai Karrel harus kembali menjelaskan soal lain yang tidak Ara mengerti.
"Sekarang kamu yang ngerjain..." Karrel berhenti bicara. Matanya terpaku pada Ara yang malah ketiduran. Ia ikut menelungkupkan kepalanya diatas meja. Mengamati Ara lama. Tangannya bergerak menyentuh keseluruhan wajah Ara. Lalu tanpa permisi mengecup mata gadis itu yang tertutup, sudah terlelap dalam tidurnya.
Karrel masih mau berlama-lama melihat wajah Ara yang begitu damai saat tertidur, tapi ia menyadari sekarang sudah sangat larut. Ia harus pergi. Ia lalu berdiri, menggendong Ara ke tempat tidur, menutupi gadis itu dengan selimut tebal miliknya dan berbisik pelan di telinga sang pacar.
"Mimpi indah sayang," bisiknya serak. Ia tahu Ara tidak mungkin dengar, tapi ia tetap melakukannya. Lalu dia berbalik pergi setelah mengecup singkat dahi Ara.
__ADS_1