
Karrel mendribble bola basket yang baru saja dia terima dan memasukannya ke ring. Ia sedang menunggu Ara yang katanya ada urusan sebentar sama temannya.
Sekarang sudah jam istirahat, karena sudah biasa ke kantin dengan mereka di jam istirahat, jadinya Karrel tetap harus menunggu gadisnya itu. Kecuali kalau Ara bilang dia tidak akan ikut ke kantin. Jadi, selama menunggu Ara, Karrel, Bintang dan Devin memutuskan main basket sebentar. Kebetulan lapangan basketnya tidak digunakan oleh siapa-siapa.
Karrel kembali mengambil posisi ketika bola sudah kembali melambung naik. Tiga cowok itu memang tidak tergabung dalam club basket sekolah, tapi permainan mereka tidak kalah dari para atlit basket sekolah itu. Sebenarnya sih mereka sudah ditawarkan bergabung oleh ketua club, namun mereka menolak dengan alasan tidak tertarik dan terlalu memakan waktu.
Karrel kembali memasukkan bola ke ring, untuk yang kesekian kalinya.
"Ngalah dikit kenapa sih," kata Devin. Karena hanya bolanya yang jarang masuk ke ring dibandingkan kedua sahabatnya itu. Tak lama mereka lalu menyudahi permainan mereka. Karrel beranjak duduk dilantai lapangan bagian tengah. Matanya sesekali melirik ke kanan, melihat-lihat seandainya Ara muncul. Tapi gadis itu belum muncul-muncul juga.
"Memangnya Ara kemana?" tanya Bintang. Ia tahu sejak tadi Karrel terus menunggu gadis itu.
"Ada urusan sebentar sama teman katanya." sahut Karrel. Bintang mengangguk-angguk mengerti. Devin sendiri sibuk meneguk air mineralnya. Ia terlalu haus.
"ARAA AWAS!"
tiba-tiba teriakan keras yang menggelegar dari sebuah kelas yang tak jauh dari mereka membuat ketiganya saling menatap kaget. Teriakan itu sangat keras sampai mereka jelas mendengar sih peneriak meneriakan nama Ara. Tiba-tiba jantung Karrel seakan berhenti. Ia berubah panik. Otaknya mendadak kosong. Ia langsung berdiri dan berlari secepat mungkin. Tidak, jangan... Ia tidak bisa kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Ara. Bintang dan Devin ikut berlari dibelakang Karrel.
***
Ara menemani Manda menemui Mika, salah satu teman Manda di kelas X⁶. Manda meminjam buku cetak Mika. Karena Mika mau pakai hari ini, jadi ia harus mengembalikan.
Karena ini jam istrihat, para murid di kelas Mika rata-rata ada diluar kelas. Manda dan Ara sempat melewati kelas yang sengaja dikosongkan oleh pihak sekolah untuk menjadi tempat bersantainya para kru dan artis, karena letaknya hanya bersebelahan. Kebetulan Ravel melihatnya. Mereka sedang break syuting. Ravel juga tidak tahan lagi diam-diaman begini sama Ara. Ia butuh bicara dengan gadis itu, ia ingin Ara balik lagi ke rumah mereka.
__ADS_1
Ketika masuk ke dalam kelas Mika, Ara menunggu di meja bagian depan dan Manda berjalan kebelakang. Cukup lama Manda dan Mika ngobrol. Tiba-tiba Ara kaget karena seseorang tiba-tiba mencium pipinya dari belakang. Gadis itu berbalik dan mendapati Sion, cowok berandalan yang dulu sempat mengejarnya itu berdiri didepannya dengan senyum menantang. Cowok itu betul-betul tidak sopan dan suka berbuat seenaknya. Makanya dari dulu Ara tidak tidak suka. Jadi ini kelasnya? Sudah hampir sebulan ini Ara tidak melihat Sion. Ia berusaha menghapus bekas ciuman Sion dipipinya lalu menatap Sion marah.
"Apa yang kau lakukan?!" teriaknya marah. Mika dan Manda sampai berhenti ngobrol, mengalihkan pandangan mereka ke Ara. Dua murid lain yang ada dibelakang juga menjadi saksi saat Sion masuk kelas itu dan tiba-tiba mencium pipi Ara. Untung cuma di pipi. Tapi tetap saja buat Ara itu adalah suatu penghinaan.
"Cium lo. Emang lo nggak pernah di cium? Jangan sok jual mahallah. Lo cuma cewek gampangan juga." balas Sion sekaligus menghina.
"Heh cowok sinting!" Manda berseru dari belakang. Ia sudah bersiap-siap maju kedepan untuk membela Ara namun Mika cepat-cepat menahannya.
"Jangan bermasalah sama Sion Man, dia punya banyak teman anak berandalan." bisik Mika menahan Manda.
"Tapi Ara temen aku," ujar Manda.
"Ia tahu. Tapi jangan sembarangan. Pikirin ide dulu."
"Brengsek, cewek sialan lo!"
PLAK!!
Ara langsung terhuyung beberapa langkah kebelakang. Sion menamparnya balik dengan sangat keras hingga sudut bibirnya berdarah. Rasanya sakit sekali sampai mata Ara memanas, namun ia menahan diri agar tidak menangis.
"Ara!" Manda, Mika dan dua siswi lain berdiri menghampiri Ara. Kejam sekali Sion. Tega banget sampai mukulin perempuan.
Dari balik pintu kelas, Ravel mengepal tangannya. Ia berdiri di sana tepat ketika adiknya di tampar kuat oleh cowok brengsek itu. Matanya berubah gelap, emosinya memuncak.
__ADS_1
Suara pintu terbuka keras. Semua orang menatap ke depan sana. Mereka heran karena itu adalah Ravel. Siapa yang tidak tahu Ravel coba.
"K..kakak," gumam Ara pelan namun Manda dan yang lain bisa mendengarnya.
"Kakak?" Manda mengulang kata itu masih bingung.
Ravel menatap Ara sebentar, tanpa bicara apa-apa. Lalu matanya berpaling ke cowok brengsek itu dan dengan gerakan cepat Ravel melayangkan tinjunya hingga membuat Sion tersungkur didepan meja.
Belum puas dengan sekali pukulan, ia kembali mencengkeram kerah kemeja Sion, memaksanya untuk berdiri tegak lalu kembali meninju wajahnya sekuat tenaga.
"Kakak," Ara berdiri menyentuh lengan Ravel. Menggeleng-geleng kepala seolah memohon pria itu untuk menghentikan apa yang sudah ia lakukan.
"Ini sekolah." gumam Ara, ia tidak mau kakaknya mendapat masalah karena dirinya. Cukup dia saja. Ia sungguh menyayangi Ravel. Baginya Ravel adalah kakak kandungnya, itu tidak akan pernah berubah. Sekalipun hatinya sakit karena mereka.
"Dia berani tampar kamu, katakan dia nyentuh kamu dibagian mana lagi?" suara Ravel terdengar berbeda, ia menyentuh pipi Ara yang merah. Emosinya kembali naik ketika melihat sudut bibir Ara yang berdarah.
"Brengsek!" sebuah pukulan keras kembali ia layangkan ke Sion lalu berbalik ke Ara mencari-cari bagian mana lagi yang di sentuh cowok sialan itu. Awas saja kalau dia melihat ada lecet di bagian yang lain di tubuh adiknya. Dia tidak akan membiarkan berandalan itu begitu saja.
Manda sendiri masih tercenung dengan apa yang dilihatnya. Tempat itu mulai ramai. Mika yang sejak tadi memperhatikan Sion, melihat cowok itu mengeluarkan pisau dari dalam bajunya dan berjalan mendekati Ara dan Ravel. Ia panik dan berteriak keras.
"ARAA AWAS!" Ravel yang berbalik ikut melihat Sion yang mengarahkan pisau itu. Ia langsung membawa Ara ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat, ingin melindungi adiknya. Alhasil, pisau itu mengenai Ravel. Ia ditikam dari belakang. Darah segar mengalir membasahi bajunya dan tangan Ara. Detik itu juga, Karrel, Bintang dan Devin muncul dari balik pintu. Tapi terlambat, karena Ravel sudah tertusuk.
Orang-orang makin ramai. Ada wartawan juga yang sibuk memotret dan merekam kejadian itu. Tristan dan beberapa kru lain ikut datang ke tempat kejadian. Tristan yang melihat Ravel rebah bersama Ara langsung menerobos masuk ke dalam kerumunan.
__ADS_1