ARAKA

ARAKA
Bab 74


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Ara?" Ravel memasuki apartemen Karrel dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat khawatir. Tadi, setelah selesai syuting ia langsung menelpon Ara, sudah siap menjemput gadis itu pulang. Tapi ponsel Ara mati. Ia akhirnya memutuskan menelpon Karrel, untung di angkat oleh pria itu. Namun di telpon Karrel mengatakan Ara demam dan badannya masih panas. Tak butuh waktu lama bagi Ravel untuk sampai di apartemen milik Karrel.


"Masih cukup panas. Dia masih tidur." sahut Karrel terus berjalan ke arah kamarnya. Membiarkan Ravel masuk melihat keadaan adiknya.


Gadis itu masih tenang dalam tidurnya. Ravel duduk di kursi damping ranjang, sementara Karrel memilih duduk di tepi ranjang, di kaki Ara. Ini sudah sore dan Ara belum terbangun juga, tapi panasnya sudah turun. Karrel sudah mengecek ulang suhu badannya tadi dan bisa bernafas lega.


"Dia sudah makan?" Ravel menatap Karrel dengan tangan yang terangkat mengelus-elus pelan puncak kepala Ara. Karrel mengangguk.


"Tadi siang aku membangunkannya sebentar dan memberinya bubur." sahutnya.


"Sepertinya dia belum bisa pulang hari ini." Karrel melanjutkan. Ravel menatapnya sebentar lalu mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Aku belum pernah lihat kau seperhatian ini pada perempuan." ujar Ravel menyandarkan dirinya ke punggung kursi. Karrel tersenyum singkat.


"Yah, adikmu terlalu mempesona." Ravel ikut tersenyum. Ia setuju dengan pria itu. Karrel melanjutkan.


"Saat pertama kali melihatnya, aku tidak bisa memalingkan wajahku. Padahal semua yang dia lakukan itu terkesan bodoh dan tidak penting. Tapi yang lebih bodohnya lagi, aku malah merasa tertarik. Yang ada dikepalaku waktu itu adalah, aku ingin mengenalnya lebih dekat. " ia mengingat saat-saat pertama kali dirinya melihat Ara. Karrel tidak bisa menyembunyikan senyumannya mengingat segala tingkah laku Ara pada waktu itu. Ia menatap Ara sebentar dan melirik Ravel lagi.


"Waktu itu aku tidak tahu kalau dia adalah adikmu. Tapi ada satu waktu ketika aku mengantarnya pulang. Ketika tahu dia tinggal di rumah yang sama denganmu, aku tidak menyangka akan ada kebetulan seperti ini. Hah, ternyata dunia ini kecil." Ravel tersenyum tipis. Ia sendiripun tidak menyangka ketika melihat Ara dekat dengan Karrel. Awalnya dia memang tidak suka karena rasa cemburunya dan karena pria itu adalah Karrel, tapi perlahan ia mulai mencoba untuk menerima. Ia mencoba untuk menempatkan dirinya sebagai seorang kakak yang baik buat Ara. Bahkan mendukung semua keputusan gadis itu. Ia tidak mau lagi hubungan mereka dingin seperti dulu. Dan untuk Karrel yang pernah menjadi sahabatnya itu, ia berharap hubungan mereka perlahan membaik. Masih ada hal lain yang belum pernah mereka selesaikan sebelumnya. Bukan tentang Ara, tapi tentang seseorang yang meninggal karenanya.


"Aku akui dulu sikapku sangat dingin pada sepupumu itu. Mungkin kepergiannya adalah karena kesalahan terbesarku." ujar Ravel. Karrel mendengarnya dengan serius.


"Aku minta maaf." Ravel melanjutkan. Akhirnya kalimat yang selalu ingin ia sampaikan pada Karrel itu bisa tersampaikan juga malam ini. Dulu ia terlalu pengecut. Tidak berani mengakui kesalahan. Ia sadar sudah terlalu banyak kata-kata kasarnya yang menyakiti hati Indah. Ia menaikkan wajahnya menatap Karrel. Sebelah tangan pria itu sudah berada di bahunya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menyalahkanmu. Indah meninggal bukan karena dirimu. Dia depresi berat karena penyakit dan perceraian orang tuanya sampai akhirnya ia nekat bunuh diri. Waktu itu, aku marah karena di waktu-waktu tersulitnya, kau malah bersikap sangat arogan bahkan menolaknya dengan kasar. Tapi percayalah, dia tidak terluka karena penolakanmu." ucap Karrel panjang lebar. Dulu, ia sempat merapikan barang-barang Indah dan mendapati sebuah buku harian. Karrel membaca buku harian itu. Dan lembar terakhir yang di tulis Indah dalam buku hariannya adalah,


Dear Ravel...


"Hal yang paling membuatku bahagia di dunia ini adalah mengenalmu. Aku tidak menyesal mencintaimu meski kau berulangkali menolakku.  Aku ingin terus mengejarmu, tapi aku terlalu lelah dengan hidupku. Orangtuaku, penyakit yang kuderita, aku rasa aku tidak mampu bertahan menghadapi semua ini. Aku hanya bisa mendoakanmu agar kau menemukan seseorang yang benar-benar kau cintai dan bisa memberimu kebahagiaan. Bisa mengenalmu adalah keberuntunganku. Selamat tinggal Ravel."


saat membaca kalimat yang di tulis oleh Indah, Karrel langsung tahu kalau sepupunya itu tidak pernah sekalipun membenci Ravel. Dan Ravel bukanlah alasan gadis itu mengakhiri hidupnya. Pria itu tidak berhak menyalahkan Ravel.


"Indah dia... Sakit?" sungguh Ravel baru tahu. Kalau dulu dia tahu, dirinya tidak akan bersikap kasar.


"Kanker otak stadium akhir." jawab Karrel pelan. Ia tersenyum pahit mengingat kehidupan sepupunya yang amat menyedihkan. Ravel tidak bisa berkata-kata lagi. Keduanya terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. Lalu lamunan Karrel terhenti ketika mendengar ada gerakan di kaki Ara. Ia menatap gadis itu yang mulai membuka mata perlahan. Ravel ikut mengalihkan pandangan ke adiknya.

__ADS_1


"Aku bermimpi kalian berdua berbaikan." gumam Ara pelan dan terdengar serak. Tenggorokannya kering. Ia memandangi Karrel dan kakaknya bergantian. Kedua pria itu saling berpandangan, kemudian tertawa.


__ADS_2