ARAKA

ARAKA
Bab 49


__ADS_3

Sepupu-sepupu Ara langsung mengerubungi Ravel ketika melihat mereka masuk. Ara sampai-sampai hampir terjatuh karena dua sepupunya yang perempuan mendorongnya. Sialan, maki Ara dalam hati. Ia berubah dongkol dan langsung menyesali sudah ikut dengan kakaknya datang ke rumah ini.


"Kak Ravel, makin ganteng aja deh. Bagi jajan dong. Kan udah banyak duitnya," seru Gisel sambil menggamit lengan Ravel. Lina disebelahnya ikut-ikutan.


"Kak Ravel, ada temen artis kakak yang ganteng juga nggak? Kenalin dong sama aku," pinta Lina tak mau kalah.


Ravel sebenarnya merasa risih. Ia tidak merasa dekat dengan para sepupunya itu. Mereka jarang ketemu, dan dia tidak begitu suka dengan tingkah manja mereka yang terlalu dibuat-buat menurutnya. Pria itu berusaha melepaskan tangan kedua sepupu perempuannya itu dari lengannya.


"Heh, lo berdua lepasin napa. Liat tuh Ravel kesusahan jalannya." sembur Pascal, sepupu laki-laki mereka yang playboynya minta ampun itu. Heran deh, kok sepupu mereka gak ada yang bener semuanya. Pascal memang tidak semenyebalkan Lina dan Gisel, ia juga tidak pernah bersikap jahat pada Ara, malah cenderung baik meski mereka tidak begitu akrab juga. Namun Ara tidak begitu suka karena sifat playboynya yang sudah mendarah daging dalam diri cowok itu.


Ara memutar bola matanya malas. Ia memilih duduk di sofa yang kosong. Jauh dari gangguan semua orang. Lebih baik sendiri daripada dekat-dekat sama orang-orang itu. Keluarga rasa orang asing. Ia tidak pernah merasa mereka keluarga. Kelakuan mereka sama dia aja kayak orang asing. Ngapain anggap keluarga.


Di tempat duduk, Ravel sesekali melirik Ara dari sudut matanya. Ia tahu jelas adiknya itu merasa risih. Ia ingin bilang pada Ara untuk istirahat dikamarnya tapi neneknya sudah lebih dulu menarik dirinya untuk berkumpul dengan om tante mereka.


"Ara, kok jauhan sih. Duduk sini saja ayo." ujar tante Ningsi, anak bungsu nenek Inggrid. Salah satu adik mamanya yang paling tidak suka bergosip beda jauh dengan anaknya sih Gisel itu. Tapi Ara tidak begitu akrab dengan tante Ningsi.


Awalnya Ara ingin menolak, tapi menyadari kak Ravel sedang menatapnya tajam, mau tak mau gadis itu menurut saja. Ia duduk di tengah-tengah Lina dan Pascal.


"Jadi gimana, persiapan buat pesta nanti malam udah siap kan?" tanya nenek Inggrid pada anak yang sudah ia kasih tanggung jawab.


"Pokoknya acaranya mesti meriah. nenek pengen nyombongin cucu nenek yang terkenal ini sama teman-teman nenek." tambah perempuan tua itu.

__ADS_1


"Tapi aku nggak mau ada wartawan ya nek. Cukup kerabat dekat aja yang di undang." kata Ravel mengingatkan. Ia tidak suka kehidupan pribadinya dengan keluarganya di sorot.


"Tenang aja sayang, nenek udah pilih undangannya siapa aja kok. Hampir semuanya kerabat dekat nenek." balas nenek Inggrid.


"Ra, ngomong-ngomong gimana sekolah kamu. Katanya kamu suka buat onar, emang bener?" tanya Gisel sengaja. Ini nih yang Ara paling tidak suka dari para sepupunya itu. Suka banget ngungkit-ungkit kelemahan orang. Kalau nggak ada nenek Inggrid dan orang-orang tua yang lain, ia pasti sudah ngasih pelajaran sama Gisel sih mulut lemes itu.


Pandangan semua orang jadi fokus ke Ara tapi gadis itu tetap bersikap santai, tidak gugup sama sekali. Kenapa juga harus gugup.


"Namanya juga anak sekolah. Buat onar dikit juga nggak apa-apa. Kan dulu kamu juga gitu. Sampe pernah dikeluarin dari sekolah kan karena minum-minum dan mukulin anak orang? Udah, anggap biasa aja." balas Ara santai. Ia ingat setahun lalu nenek Inggrid marah-marah karena Gisel yang bikin malu sampai dikeluarin dari sekolahnya.


Ara tersenyum puas lihat muka Gisel yang berubah jadi merah padam. Malu sekaligus menahan emosi. Makanya, jangan suka jelek-jelekin orang. Giliran dibales malu sendiri.


"Kak Ravel, liat tuh Ara sengaja bikin malu aku." rengek Gisel meminta pembelaan pada Ravel tapi lelaki itu malah diam saja. Alhasil, Gisel makin kesal. Ara tertawa puas. Emang enak dicuekin.


                                 ***


Sehabis makan siang dengan keluarga besarnya, Ara ikut Ravel ke kamar pria itu. Nenek Inggrid sengaja membuatkan kamar cucu kesayangannya itu secara khusus di rumah itu. Sementara cucu-cucu yang lainnya boro-boro. Nggak ada sama sekali. Enak banget memang jadi kakaknya, batin Ara. Beda dengan dirinya yang bahkan mau tidur dimana dia tidak tahu.


Gisel dan Lina sudah kontrak kamar tengah. Pascal, tidak mungkin juga ia sekamar sama Pascal. Masa juga ia sekamar sama nenek Inggrid yang galak itu. Mendingan ikut kak Ravel saja biar kakaknya yang atur dia tidur di mana malam ini. Dia juga sudah kecapean di jalanan tadi. Pokoknya siang ini ia butuh tidur, biar malam tubuhnya fresh. Atau dia tidur aja sekalian sampai besok, biar dirinya usah ikut pesta aja?


"Kakak, gimana kalo aku nggak usah aja ikutan pesta keluarga?" tanyanya sambil memindahkan barang-barang yang dia bawah dari rumahnya di atas meja kecil samping kasur. Ravel yang duduk di kursi meja belajar memicingkan mata kearahnya.

__ADS_1


"Jangan konyol." ujar pria itu datar.


Ara langsung manyun. Ia sudah tahu kak Ravel pasti menolak. Meski begitu dia tetap bertanya.


"Tapi aku bener-bener gak suka sama Gisel dan Lina. Mereka selalu nyudutin aku. Belum lagi nenek Inggrid yang galak itu."  ucapnya lagi.


"Nggak usah ditanggepin. Kamu udah biasa kan dari dulu kayak gitu." balas Ravel lagi seolah tidak peduli. Ara memberengut lalu menghembuskan nafas panjang dan memilih tidur saja. Ia tidak akan berhasil kalau bicara dengan Ravel.


"Ini,"


Ravel melemparkan sebuah kotak sedang ke tempat tidur. Ara kembali membuka matanya. Ia mengernyitkan dahi melihat kotak yang dilempar kakaknya 


"Apa ini? Buat aku?" tanyanya penasaran.


"Pakai gaun itu nanti malam." kata Ravel datar.


Gaun? Ara masih berpikir kemudian bangun dari posisi tidurnya. Ia baru ingat dirinya tidak membawa gaun pesta. Ya ampun, kenapa dia bisa lupa.


Gadis itu lalu membuka kotak berisi gaun pemberian kakaknya. Sesekali ia melirik Ravel yang tengah sibuk didepan laptop diatas meja belajar, entah apa yang sedang pria itu kerjakan.


Ara mengeluarkan gaun biru cerah bermotif bunga namun tidak mencolok. Bahannya terbuat dari sutera dan terlihat mahal. Kalau kak Ravel yang beli sih ia tidak akan heran dengan harganya, orang tuh cowok artis mahal. Tapi ia tidak terpikir sama sekali kak Ravel akan menyiapkan gaun untuknya. Ukurannya juga pas.

__ADS_1


Ara tersenyum senang lalu bangkit dari kasur dan buru-buru ke kamar mandi buat mencoba gaun indah itu.


Dari tempat duduknya, Ravel bisa lihat senyuman lebar diwajah Ara. Ia memesan gaun itu khusus dari desainer ternama kenalannya. Dan tentu saja hanya ada satu di Indonesia. Bibir Ravel tersungging ke atas, ia merasa puas karena adiknya menyukai gaun pemberiannya itu.


__ADS_2