ARAKA

ARAKA
Bab 78


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam ketika Karrel tiba di apartemennya. Ia melemparkan kunci mobil ke meja dan mengempaskan tubuh ke sofa. Ia mengusap wajahnya dan melepaskan jaket. Hari ini benar-benar melelahkan. Setelah menemani mamanya siang tadi, ia langsung balik ke Jakarta. Sebenarnya ingin langsung menemui Ara, namun gadis itu tidak mengangkat-angkat telponnya. Padahal ia ingin tahu apakah gadis itu baik-baik saja. Karrel pikir gadis itu sudah tidur jadi tidak ingin mengganggu. Besok pagi saja ia ke rumah sang pacar.


Ia merasa lelah sepanjang hari ini dan membutuhkan istirahat yang cukup. Baiklah. Malam ini ia langsung istirahat saja. Setelah mandi dan kembali berpakaian, ia memakai kaos longgar hitam dan celana panjang putih, Karrel merasa lebih nyaman. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, ia berjalan ke ruang duduk dan menyalakan televisi. Kemudian ia berjalan ke dapur yang terletak tidak jauh dari ruang duduk dan membuka-buka lemari.


Tidak ada makanan. Tidak ada apa-apa di sana. Ia juga lupa beli bahan makanan saat pulang tadi. Bahkan mie instan pun sudah habis. Ia berbalik, memandang sekilas televisi, lalu membungkuk untuk membuka pintu lemari bagian bawah. Tiba-tiba gerakannya terhenti dan dengan sekali sentakan ia kembali menegakkan tubuh. Matanya terbelalak menatap layar televisi.


Layar televisi menampilkan reporter wanita yang melaporkan berita di lokasi kejadian. Di latar belakangnya terlihat sebuah rumah yang sudah ramai dengan kerumunan orang. Para  polisi berusaha menertibkan orang-orang yang berkerumun di tempat kejadian. Suasana sepertinya hiruk pikuk, terdengar teriakan dan tangisan orang-orang yang memakai pakaian pelayan. Beberapa dari mereka terlihat mengalami luka-luka.


Karrel menyambar remote control dan mengeraskan volume televisinya untuk mendengar kata-kata si reporter.

__ADS_1


"Orang-orang yang menyergap rumah milik artis terkenal Ravel di duga menculik seorang gadis yang di ketahui sebagai adiknya. Polisi kehilangan jejak penculik itu tapi sampai sekarang masih terus berusaha mencari. Beberapa pelayan rumah itu juga mengalami luka tembak dan kekerasan fisik. Kami akan terus memberi konfirmasi kabar terbaru tentang keluarga Ravel."


Mata Karrel terpaku pada layar televisi. Tubuhnya menegang, jantungnya berdebar begitu keras. Ini tidak mungkin. Ara di culik? Siang tadi ia masih saling berbicara di telepon dengan gadis itu. Tuhan, katakan ini tidak benar. Namun si reporter berdiri tepat didepan rumah Ara dan menyebutkan nama Ravel juga siapa yang di culik.


Darah Karrel langsung terasa membeku.Tanpa berpikir lagi, ia melemparkan handuk ke lantai, menyambar kunci mobil, dan keluar dari rumah. Ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh, tangannya mencengkeram kemudi erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Perasaannya kacau… gelisah… takut. Jantungnya masih terus berdebar keras dan seluruh tubuhnya terasa dingin.


Ia mencoba menghubungi ponsel Ara tapi hasilnya masih tetap sama. Ponselnya tidak di angkat. Ia memutuskan menelpon Ravel namun nomor pria itu juga tidak aktif. Sepanjang perjalanan Karrel terus berdoa semoga Ara tidak apa-apa. Semoga Ara cepat ditemukan dan tidak terluka. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mereka bisa menculiknya? Kenapa harus Aranya? Gadis itu tidak salah apa-apa. Bagaimana kalau…


Polisi yang berjaga didepan sempat melarangnya masuk tapi ia tetap menerobos dengan paksa. Karrel Terus berteriak-teriak sambil mencari di setiap sudut ruangan itu. Langkahnya terhenti di ruang tengah rumah itu yang terlihat sangat kacau. Bahkan pria itu sempat melihat ada peluru yang berhamburan di lantai. Mereka pakai pistol? Pria itu makin panik. Ia melihat Ravel, Tristan dan pria tua yang ia tahu adalah papa Ara itu tengah duduk di sana.

__ADS_1


"Ara mana?" tanyanya dengan suara rendah. Berharap akan mendapatkan jawaban seperti yang dia mau. Sayangnya tatapan Ravel membuat dadanya terasa makin sesak. Ia tidak butuh jawaban pria itu lagi, karena jawabannya sudah terpampang jelas dalam ekspresi pria  itu.


Karrel terduduk lemah di samping Ravel. Ia mengepal tangannya kuat-kuat. Ia bersumpah akan membunuh orang yang menculik Ara kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada pacarnya. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Otaknya berpikir keras.


"Pa, papa punya teman seorang detektif bukan?" tanya Ravel menatap papanya. Pria tua itu sejak tadi hanya menunduk. Meski ia masih marah pada Ara karena kepergian istrinya, ia sama sekali tidak berharap anak yang ia besarkan itu di culik begini. Dalam sikapnya yang terlihat tenang, ada rasa khawatir dalam dirinya. Ia sedang berpikir keras bagaimana caranya menemukan keberadaan Ara.


"Aku sudah menghubunginya, ia akan datang setelah selesai bertugas." sahut pria tua itu.


"Aku akan menghubungi orang tuaku untuk meminta bantuan." kata Tristan merogoh ponsel dari sakunya.

__ADS_1


Pada saat yang sama ponsel Karrel juga berbunyi. Ia cepat-cepat mengeluarkan ponsel itu dari sakunya. Berharap yang menelponnya adalah Ara. Sayangnya pikirannya salah. Bintanglah yang menelpon. Karrel menjawab panggil itu tanpa semangat.


Bintang menanyakan peristiwa yang menimpa Ara. Mereka semuanya juga kaget ketika melihat berita itu. Bintang bersama dengan Devin dan teman-teman Ara yang lain bersama mereka. Menunggu kabar Ara


__ADS_2