ARAKA

ARAKA
Bab 76


__ADS_3

Karena Karrel tidak bersama Ara hari ini, Ara terpaksa harus pulang sendiri ke rumahnya. Sebenarnya ia memang telah terbiasa pulang sendirian, namun setelah mengenal Karrel dan menjalin hubungan dengan dengan pria itu, tiap hari ia jadi sering diantar jemput oleh pacarnya itu. Karena itu ia telah terbiasa diantar jemput. Pulang sendirian seperti malam ini, membuatnya merasa sedikit berbeda. Ia bisa saja menelpon  Ravel dan meminta pria itu menjemputnya, tapi ia tidak mau menyusahkan kakaknya. Lelaki itu pasti masih kerja.


Ketika turun dari taksi dan berjalan memasuki gerbang rumahnya, Ara berhenti sebentar. Ia mengerutkan kening. Kemana satpam yang biasa berjaga di depan? Kenapa gerbang rumahnya terbuka lebar? Ada yang datang? Tapi tidak mungkinkan kalau ada tamu yang datang terus gerbangnya dibuka terus begitu. Meski merasa cukup bingung, gadis itu tidak sampai berpikir negatif. Ia melanjutkan langkahnya.


Ketika sampai didepan pintu masuk rumahnya, langkahnya kembali terhenti. Aneh, tidak ada siapa-siapa didepan. Biasanya ada satu pelayan rumah yang selalu membukakan pintu untuknya, tapi tidak ada satupun dari mereka yang kelihatan. Ia makin merasa aneh. Kemana mereka semua? Kok tiba-tiba dia jadi merinding begini. Perasaannya menjadi tidak enak.


Ara berusaha menghilangkan perasaan negatif thinking dengan menggeleng-geleng kepalanya. Menghilangkan bayang-bayang yang menakutinya. Ia memberanikan diri masuk ke dalam. Ketika mencapai ruang tengah, betapa kagetnya dia saat mendapati para pelayan rumahnya sedang duduk disana dengan ekspresi ketakutan. Di dekat mereka berdiri sekitar lima orang laki-laki berbadan kekar dengan pakaian hitam-hitam dan... Mereka pakai senjata?


Ara merasa lututnya menjadi lemas. Kelima pria berbadan kekar itu punya pistol masing-masing. Dan pistol itu terarah tepat ke arah pelayan rumahnya. Satpam yang dicarinya cari juga terduduk di sana tidak berdaya. Siapa mereka? Perampok? Pembunuh? Atau penculik. Gadis itu berdoa dalam hati memohon supaya kakaknya bisa datang sekarang juga.


"S..siapa kalian?" tanyanya memberanikan diri. Suaranya bergetar karena takut. Biar bagaimanapun dia tidak pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya. Melihat orang berkelahi saja ia bisa gemetaran, apalagi sekarang ada orang-orang yang menodong pistol seperti didepan sana.


"Kami?" ujar salah satu di antara kelima laki-laki itu. Ia tertawa merendahkan ke Ara.


"Kami adalah orang yang akan membawamu dari sini nona." laki-laki itu melanjutkan dengan senyum menakutkan.

__ADS_1


"Tidak, kalian tidak boleh membawa nona kami!" seru satpam rumahnya tapi kepalanya langsung dipukuli oleh  pria kekar yang bicara tadi. Keadaan makin ricuh karena para pelayan yang lainnya berteriak ketakutan. Ara sendiri makin ketakutan. Lututnya tidak bisa bergerak. Ia ingin lari sekarang juga tapi tidak bisa. Matanya menatap ke pak satpam yang terus dipukuli sampai berdarah oleh laki-laki bajingan itu.


"Diam kalian semua kalau tidak mau mati!


Dor!!!


Bersamaan dengan teriakan itu suara tembakan mengagetkan semua orang dalam ruangan itu. Mereka tidak menembak orang, hanya menembak ke atas, namun tubuh Ara langsung jatuh ke lantai, badannya berubah panas dingin. Ia bisa mendengar tangisan dari pelayan-pelayan perempuan. Ara juga ingin menangis, tapi ia berusaha menahannya. Tidak boleh. Ia tidak boleh menangis. Jelas lima laki-laki itu mau menculiknya. Ia harus mencari cara, tapi apa? Dirinya terlalu lemah. Melihat mereka saja ia sudah gemetaran seperti ini.


Ara tambah ketakutan ketika salah satu dari mereka mendekatinya dan berusaha mengangkat tubuhnya dengan kasar, ingin membawanya pergi dari situ. Gadis itu langsung berteriak kencang, mencakar dengan membabi buta dan menggigit tangan laki-laki besar itu. Lelaki itu menggeram marah, lalu menampar Ara kuat-kuat sampai gadis itu termundur jauh kebelakang.


"SIALAN, DIAM!" teriakan kencang itu  membuat semuanya terdiam ketakutan.


Ara berharap semua ini hanya mimpi, tapi kenyataannya tidak. Ya Tuhan, tolong. Ia masih ingin hidup. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan dengan orang-orang yang dia sayangi. Siapa saja, ia berharap ada yang datang menolongnya.


BRAK!

__ADS_1


Pintu tiba-tiba di dobrak dari luar. Ara menatap sekilas ke pintu. Semua orang yang didalam situ juga, termasuk para orang jahat yang sudah bersiap-siap dengan senjata mereka. Ada dua laki-laki yang memegang senjata panjang di antara mereka.


Ketika pintu itu berhasil di dobrak, seorang pria tinggi muncul bersamaan dengan beberapa orang dibelakangnya. Mereka semua memakai senjata. Dan suara-suara tembakan itu kembali terdengar.


DOR!


DOR!


DOR!


Ara menutup telinganya dengan tangan ketika tembakan bertubi-tubi itu terdengar jelas. Jantungnya berdegup kencang dan kepalanya mulai pening. Ia meringkuk ke tembok. Kalau ini adalah hari terakhirnya hidup di dunia, dirinya sudah pasrah. 


Didepan sana, Moses berlari kencang ketika melihat salah satu pistol dari orang yang mau menculik Ara itu terarah ke gadis itu. Ia beruntung karena dirinya lebih cepat hingga tembakan itu meleset. Pria itu menatap Ara sekilas, gadis itu terlihat sangat ketakutan dan dia jelas merasa tidak senang. Sialan, gadis ini tidak ada salah apa-apa tapi mereka menakutinya sampai begini. Lihat bagaimana dia menghabisi bajingan-bajingan itu nanti.


"Naik." Moses membungkuk dan menyuruh Ara naik ke punggungnya. Ia harus menyelamatkan gadis itu terlebih dahulu. Itu yang terpenting saat ini.

__ADS_1


__ADS_2