ARAKA

ARAKA
Bab 41


__ADS_3

Di perjalanan menuju kelas, Ara dan Karrel melewati kelas kosong yang di jadikan tempat syuting oleh sutradara dan para kru. Beberapa artis tengah duduk di kursi lipat mereka masing-masing. Mungkin lagi break syuting. Ada juga yang berdiri dengan para asisten yang sibuk merias wajah mereka.


Ravel dan Tristan berada di antaranya. Keduanya tengah menonton hasil syuting mereka di samping sutradara namun perhatian mereka teralihkan ketika mendengar seorang siswi tak jauh dari tempat itu menyerukan nama Karrel.


"Itu Karrel! Kalian denger nggak, katanya tadi ada kejadian di lantai kelas dua belas. Denger-denger sih ada anak kelas sepuluh yang di bully sama genknya kak Vivi." seru salah satu siswi dengan suara toa. Semua kru dan artis bahkan bisa dengar suara toa itu dari dalam ruangan tempat mereka syuting.


"Seragamnya robek semua, gila sih itu. Untungnya Karrel buru-buru dateng tolongin. Kalau nggak tuh cewek pasti udah di telanjangin sama genknya kak Vivi. " timpal temannya yang lain.


"Emang siapa tuh cewek sampe bela-belain di tolongin sama Karrel? Bukannya tuh kakak kelas biasanya cuek aja, gak pernah peduli sama yang cewek di sekolah ini?"


"Kalo nggak tuh cewek namanya Ara. Cewek yang disebut-sebut pacaran sama Karrel, masa lo lupa sih,"


Tristan langsung berbalik dan menegakkan diri. Begitupun Ravel. Raut wajah Tristan memerah karena marah saat mendengar para siswi-siswi itu bergosip. Ia marah karena mendengar nama Ara yang katanya di bully itu.


Ara hampir di telanjangin? Ya Tuhan, Tristan bersumpah akan menghabisi siapapun yang menyakiti gadis itu. Ia mengusap wajahnya kasar.


Pria itu lalu memandang keluar dan mendapati Ara yang tengah berjalan bersama Karrel. Ia mengamati keseluruhan penampilan Ara. Tidak ada yang aneh pada penampilannya selain baju seragamnya yang kebesaran sekali dibadannya.. Itu ukuran kemeja pria. Gosip yang didengarnya tadi pasti benar. Sialan!


Tanpa pikir panjang Tristan melangkah keluar. Tapi sebelum berhasil pergi, Ravel cepat-cepat menghentikannya dan memberikan peringatan dari ekspresi wajahnya.

__ADS_1


Bukannya tidak mau peduli pada Ara. Ravel sadar sekarang mereka sedang syuting dan ada banyak mata yang tengah mengamati mereka dari berbagai sisi. Pasti wartawan juga ada, bahkan paparazi.


Mereka tidak boleh bertindak sembarangan. Tristan walau berstatus sebagai manajernya, tapi latarbelakang keluarganya tidak biasa. Banyak wartawan dan paparazi  yang tengah mengincar-incar kehidupan pribadinya untuk di jadikan berita. Ravel jelas tahu itu.


Dan yang paling terakhir, Ravel tidak mau Ara terlibat dalam pemberitaan. Kalau Tristan menemuinya sekarang, wartawan mungkin akan mencari tahu tentang latarbelakang Ara. Dan itu akan melibatkan dirinya juga banyak hal yang lain.


Bukannya tidak mau orang-orang tahu Ara itu adalah adik kandungnya, Ravel hanya tidak mau pikiran Ara jadi terganggu dengan gosip-gosip miring. Selama ini ia memang selalu bersikap dingin pada Ara, tapi bukan berarti ia tidak peduli. Ara adalah adik kandung satu-satunya yang dia miliki di dunia ini. Ia akan melindungi gadis itu dengan caranya. Ara mungkin akan kehilangan kebebasannya saat semua orang-orang tahu tentang hubungan mereka.


Tristan mau tak mau menghentikan niatnya. Ia berusaha keras menahan diri. Ia sadar dirinya tidak boleh egois. Akhirnya pria itu tidak jadi menghampiri Ara. Ia hanya bisa melihat gadis itu dari jauh sampai Ara dan Karrel menghilang dari hadapan mereka. Sementara Ravel sendiri, dirinya terus menatap sang adik dan mantan teman lamanya itu dengan ekspresi tak terbaca.


"Tristan, kamu kenapa?" tanya Tasya. Salah satu artis pendatang baru. Tasya sudah lama kenal Tristan karena dulu ia pernah jadi model di perusahaan keluarganya pria itu. Tasya juga menyukai Tristan tapi lelaki itu sampai sekarang tidak membalas perasaannya. Cenderung cuek dan bicara kalau ada perlunya saja. Kebanyakan malah Tasya yang berinisiatif bicara duluan. Diperlakukan seperti itu oleh pria yang kita sukai sih memang menyedihkan, tapi mau bagaimana lagi. Tasya tetap menyukai Tristan.


Tristan melirik wanita itu sekilas.


                                ***


Karrel langsung balik ke kelas selesai mengantar Ara. Sementara Ara sendiri langsung di serbu teman-teman sekelasnya. Laras dan Manda memasang raut wajah khawatir mereka, begitu pun dengan Adit dan Kevin.


Ketika mendengar kejadian yang menimpa Ara, mereka langsung pergi ke lokasinya kelas dua belas. Tapi mereka sama sekali tidak melihat keberadaan Ara. Suasana koridor kelas dua belas pun sudah sepi tidak ada siapapun. Mereka terlambat. Akhirnya mereka balik ke kelas menunggu Ara yang entah kemana.

__ADS_1


"Heran deh, giliran lo yang di jahatin guru-gurunya malah nggak ada." seru Laras setengah mengomel. Mereka sudah mendengar penjelasan Ara dan merasa marah karena perbuatan semena-mena kakak kelas mereka itu.


"Tapi kamu beneran nggak apa-apakan Ra?" tanya Adit lagi. Untung ada Karrel kalau tidak mereka tidak tahu bagaimana kondisi Ara sekarang ini.


"Beneran. Liat nih," sahut Ara memajukan mukanya pada teman-temannya yang kini berkerumun di mejanya.


"Pokoknya kalau sampai ada yang lecet, kelas kita nggak bakal kasih ampun tuh cewek jadi-jadian yang beraninya main tangan doang." cerocos Kevin. Yang lain mengangguk setuju.


Mereka kan terkenal kelas yang paling kompak. Kalau ada yang berani mengganggu salah satu teman dari kelas mereka, mereka akan membelanya mati-matian. Bukan hanya Ara. Kalau terjadi sesuatu yang tidak adil pada teman mereka yang lain pun akan dibela mati-matian. Kebetulan saja hari ini yang kena adalah Ara.


"Gimana kalo kita bakar aja daerahnya kelas sepuluh?" ucap Indy memberi masukan. Manda langsung menoyor kepalanya.


"Lo itu sekretaris kelas kok otaknya pendek banget sih. Emangnya Lo mau kita sekelas masuk penjara bareng, gue sih nggak." celoteh Manda. Indy malah menyengir lebar.


"Habisnya kelas dua belas tuh ngeselin banget. Dipikir mereka yang paling berkuasa di sekolah ini." ungkapnya kemudian.


"Tapi kan nggak semua yang kayak gitu," timpal Laras. Ada kakak kelas yang baik juga menurutnya.


"Udah-udah, kenapa kalian malah ribut sih. Aku juga nggak kenapa-kenapa kok, lagian tadi anggota osis udah janji bakal urus mereka." kata Ara. Biar saja Bintang dan osis lainnya yang urus, dia diam saja dulu. Apalagi sekarang dirinya tidak bisa buat masalah dulu karena ancamannya kak Ravel. Jauh lebih mengerikan berurusan dengan papanya dibandingkan sih Vivi itu menurutnya.

__ADS_1


"Nggak kenapa-kenapa lo bilang? Emangnya lo nggak tahu video waktu Vivi robek baju lo itu udah ke sebar di seluruh sekolah? Untung ada Karrel yang cepat-cepat nutupin jadi nggak keliatan apa-apa."


Ara hampir berteriak mendengar perkataan Manda tapi kalimat terakhir yang di ucapkan gadis itu menghentikannya. Ia bernafas lega. Dia pikir semua orang sudah melihat bagian dalam tubuhnya. Ya ampun, dia bisa gila kalau sampai hal itu benar-benar terjadi.


__ADS_2