
Ara terus merenung dalam kamarnya. Semakin lama ia mengurung diri, ia makin merasa frustasi. Tidak, ia harus menemui papanya sekarang. Ia perlu tahu siapa keluarga kandungnya, di mana mereka, kenapa mereka meninggalkan dia. Atau jangan-jangan dia anak pungut lagi yang dibuang oleh keluarganya dan dipungut oleh keluarganya yang sekarang ini. Ara mengusap wajahnya tidak sanggup memikirkan yang lebih jauh lagi.
Ia lalu berdiri dari kasur, melihat wajahnya di cermin. Ia tampak pucat. Dari pagi dirinya memang belum sarapan. Ia sudah tidak ada selera makan sama sekali, apalagi harus makan di meja yang sama dengan nenek Inggrid, karena pagi tadi mereka masih berada di rumah wanita tua itu. Siapa juga yang akan berselera makan kalau mengetahui rahasia yang sangat menghancurkan hatinya itu.
Ara mengganti baju, memakai make up tipis dan lipgloss merah secukupnya sampai bisa menutupi wajah pucatnya. Selesai itu ia keluar. Ravel dan Tristan tidak melihat gadis itu keluar karena mereka sudah berpindah tempat. Hanya satpam rumahnya saja yang berjaga di gerbang depan. Satpam itu sempat bertanya pada Ara namun Ara malah cuek. Bukannya tidak mau menjawab, tapi dia terlalu tidak fokus. Pandanganya hanya lurus ke jalan sejak keluar tadi.
Yang pertama didatangi oleh Ara adalah kantor papanya. Ia ingin bertanya dengan jelas tentang jati dirinya. Namun tampaknya kedatangannya siang ini di kantor itu sia-sia. Kata resepsionis yang berjaga didepan, papanya tidak ada di kantor hari ini. Pria tua itu sedang meeting di tempat lain.
Ara mendesah berat. Ia sudah keluar dari kantor papanya tanpa ada hasil apapun. Dirinya harus kemana sekarang? Ia tidak ingin pulang, moodnya untuk bekerja di cafenya kak Kevan pun tidak ada.
Ia akhirnya memutuskan pergi ke pantai untuk melepaskan kesedihannya, menikmati hamparan laut lepas yang indah dan jernih. Ia ingin merasakan ketenangan, dengan duduk-duduk di puncak bukit sambil menikmati embusan angin dan melupakan seluruh masalah yang ada. Meski berusaha lupa, nyatanya suasana hati Ara tidak membaik juga.
Ia memang datang ke tempat itu untuk menenangkan diri dan berpikir, tetapi setelah begitu lama
berada di tempat itu, ia tetap belum bisa menenangkan dirinya. Ia masih tidak tahu apa yang harus
dilakukannya, masih belum bisa menerima kenyataan, masih berharap semua ini hanyalah mimpi buruk dan ia akan segera terbangun.
Pikirannya kosong, karena hati kecilnya menolak berpikir. Ia tidak merasakan apa pun, karena
sarafnya menolak merasakan. Lebih baik ia tidak berpikir. Lebih baik sarafnya mati rasa. Kalau
tidak, ia takkan sanggup menanggung rasa sakit ini. Terlalu besar. Sudah berapa lama ia duduk di sini? Sepertinya akhir-akhir ini waktu berlalu begitu saja tanpa
sepengetahuannya. Tetapi ia menikmati kesunyian dan kesendiriannya.
"Aku menelponmu berkali-kali, tapi tidak kau angkat, ternyata kau di sini."
suara itu menembus benteng kabut hitam di sekeliling Ara. Ia mengangkat wajah dan menoleh dengan cepat. Dirinya mendapati Karrel telah berdiri di sampingnya. Ara terpana. Apakah ia sedang bermimpi? Darimana Karrel tahu dia ada di tempat ini?
Karrel menatapnya dengan
__ADS_1
matanya yang lembut, tersenyum kepadanya dengan cara yang sudah sangat dia kenal... dan disukainya.
Lalu Karrel mengulurkan tangan kanannya dan membelai kepala Ara. Ara bisa merasakan sentuhan itu. Ternyata ini bukan mimpi. Karrel sungguh ada di sampingnya, tersenyum kepadanya, berbicara kepadanya.
"Kau tahu berapa lama aku mencarimu?” tanya Karrel sambil mengembuskan napas. Entah ada ikatan batin atau apa, ia bisa merasakan Ara sedang tidak baik-baik saja. Apalagi ketika Ara tidak mengangkat-angkat telponnya tadi, Karrel makin merasa gelisah, ia harus melihat gadis itu. Sampai akhirnya ia mencoba melacak keberadaan Ara.
"Aku sudah berlari mengelilingi banyak tempat mencarimu."
Begitu melihat Karrel dan mendengar suaranya, mendadak saraf Ara kembali bekerja. Berbagai macam perasaan membanjiri dirinya. Kehadiran Karrel sangat berarti.
Karrel menarik kembali tangannya dan memasang tampang heran.
"Kenapa diam saja? Tidak mau bicara padaku?"
Ara mendapati dirinya tersenyum tipis dan bergumam,
"Berlari keliling banyak tempat?"
"Kau tidak percaya?"
tanpa menunggu jawaban Ara, ia meraih sebelah tangan Ara dan ditempelkan di dadanya. Ara terlalu kaget untuk bereaksi. Matanya terbelalak menatap mata Karrel, mulutnya mendadak kering dan napasnya tertahan.
"Kau bisa merasakan debar jantungku?” tanya Karrel pelan. Matanya menatap ke dalam
mata Ara. Telapak tangan Ara menempel di dada Karrel dan tangannya gemetar dalam genggaman Karrel. Ia bisa merasakan debar jantung laki-laki itu. Berdebar kencang di bawah telapak
tangannya.
"Kau merasakan jantungku berdebar keras?" suara Karrel seakan menghipnotisnya. Ara tidak bisa mengalihkan tatapannya dari mata
Karrel. Ia juga tidak bisa menjawab. Masalah yang penuh di kepalanya menghilang sebentar.
__ADS_1
"Ini karena dirimu." Ara menahan napas. Ia bisa merasakan debar jantung Karrel, tetapi tidak bisa merasakan debar jantungnya sendiri. Karrel tersenyum.
"Karena aku terlalu mencintaimu, makanya aku mencarimu seperti orang gila. Percaya sekarang?"
Karrel begitu manis. Begitu baik. Sangat pengertian dan tulus. Hati Ara sakit sekali karena perasaan yang
dirasakannya terhadap keluarganya tapi Karrel datang seolah menghiburnya. Air mata mulai membasahi pipinya. Ia lalu berhambur ke dalam pelukan Karrel dan menangis sejadi-jadinya.
"Jangan menangis," gumam Karrel sambil menghapus air mata Ara dengan ibu jari. Mendengar ucapan itu, air mata Ara bukannya berhenti, malah mengalir semakin deras.
"Maafin aku karena buat kamu jadi cemas, maaf juga karena kak Ravel seenaknya mukulin kamu semalam." kata Ara sungguh-sungguh. Ia melihat luka-luka yang masih basah di wajah Karrel tadi.
"Sstt, bukan salah kamu, keadaanku baik-baik saja. Sungguh, aku baik-baik saja."
Sebenarnya Ara menangis karena alasan lain, tapi Karrel salah mengerti. Biarlah pria itu mengira ia menangis karena alasan itu, karena bagaimanapun juga ia tidak bisa menjelaskan alasan sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Ini urusan keluarganya, ia tidak mau Karrel ikut sedih karena masalahnya.
Karrel memeluknya lagi erat-erat.
"Jangan menangis lagi, hm?" bisik Karrel sambil tetap mendekapnya.
Ara menangis di bahu Karrel. Air matanya tidak mau berhenti. Mengalir terus tanpa bisa
ditahan. Ia berharap air mata itu bisa meredakan rasa sakit di dadanya, tetapi tidak bisa. Semakin
ia menangis, semakin sakit dadanya.
Karrel terus mencoba menghibur Ara, karena jelas sekali gadis itu membutuhkannya. Pria itu ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai Ara sesedih ini. Tidak mungkin hanya karena dia dan Ravel berkelahi semalam. Apa karena Ravel memarahinya? Tapi Ara sudah terbiasa dengan sifat Ravel yang seperti itu. Jadi, apa alasan yang sebenarnya?
Karrel akan mencari tahu nanti. Sekarang yang lebih penting ia harus tetap bersama gadis itu. Ia tidak mau Ara makin tertekan dan merasa sendirian. Setidaknya ada dirinya disamping gadis itu. Sekarang status mereka sudah berbeda, bukan hanya teman. Mereka sepasang kekasih. Sudah sewajarnya ia mendampingi Ara.
__ADS_1