ARAKA

ARAKA
Bab 81


__ADS_3

Ara masih bingung. Ia belum bisa menerima keadaan yang  tiba-tiba seperti ini. Ayah kandungnya muncul dan menjelaskan semuanya. Mulai dari gadis itu yang dibawah pergi oleh mama kandungnya saat masih bayi, pertunangannya dengan pria yang lebih dewasa darinya bernama Moses itu, dan sebuah benda yang di tinggalkan oleh mamanya.


Jelas saja Ara bingung. Bagaimana tidak, dia memang bisa menerima pertemuan dengan ayah kandungnya. Tapi perjodohan itu sama sekali tidak bisa di terimanya. Ia tidak kenal pria itu. Dan ia memiliki Karrel sebagai kekasihnya. Mana mungkin dirinya mengkhianati Karrel. Dalam kamar itu juga sudah berdiri seorang pria paruh baya yang umurnya mungkin sama dengan ayah kandungnya. Siapa lagi itu?


"Dia ayahku." ujar Moses seperti mengetahui arti tatapan Ara pada ayahnya. Ara baru mengerti. Tuan Ruff ikut memperkenalkan diri. Dibanding pria tua yang diketahui sebagai ayah kandungnya, tuan Ruff terlihat lebih mengerikan. Yah, wajahnya itu tidak seperti seseorang yang gampang didekati. Pria tua itu terlihat begitu berwibawa. Ayahnya juga, tapi masih sering tersenyum saat berbicara.


Moses menyadari gadis yang dibawahnya itu tampaknya belum begitu terbiasa. Ia ingin mencari cara mengusir dua pria tua itu dari kamarnya namun mereka terus berbicara pada Ara. Moses juga merasa tidak suka dengan kedua pria tua itu yang langsung menanyakan benda peninggalan mamanya Ara. Astaga, gadis itu saja masih syok dengan peristiwa tadi. Belum lagi dia harus menerima kenyataan mengetahui orang asing yang tiba-tiba menjadi ayah kandungnya. Memangnya tidak bisa nanti?


Moses awalnya tidak mau peduli pada Ara. Ia salah satu pria yang pernah menganggap gadis itu hanya akan menjadi beban untuknya. Namun, hatinya perlahan-lahan mulai terenyuh ketika melihat Ara dari dekat. Wajah tanpa dosanya, keceriaannya yang terukir jelas di wajah polos itu siang tadi, dan mengetahui gadis itu tidak seratus persen di sayangi oleh ayah kandungnya, Moses merasa tidak senang. Ayah mana coba yang lebih mementingkan barang yang menurutnya lebih berharga dari putrinya sendiri. Belum tentu juga benda itu ada bersama Ara. Ayah pria itu sendiri sama saja. Ara betul-betul dimanfaatkan oleh mereka berdua. Entah kenapa Moses jadi ingin melindungi gadis itu.


"Ara, apa mamamu memberikan suatu benda peninggalan padamu? Sebuah kalung tabung." kali ini giliran ayah Moses yang bertanya. Ara menggeleng. Ia memang ingat ada sebuah kalung yang dia pakai sejak dirinya masih kecil. Entah itu peninggalan dari mama kandungnya atau pemberian mama angkatnya.  Sekarang kalung itu tersimpan di sebuah kotak bersamaan dengan perhiasannya yang lain dalam kamar. Ia berbohong dan mengatakan tidak tahu tentang benda yang ditanyakan oleh kedua lelaki tua itu karena merasa aneh. Kenapa mereka tiba-tiba menanyakan kalungnya? Pasti ada sesuatu dibalik pertanyaan mereka itu. Ada apa dengan kalungnya itu? Apa kalung itu penting? Yang pasti Ara tidak akan memberitahu dulu kalau kalung itu memang ada padanya. Ia belum seratus persen mempercayai mereka.


"Bagaimana kalau sekarang kamu pindah ke rumah papa." tawar ayahnya.

__ADS_1


"Tidak om, biar dia di sini saja. Aku berjanji akan mengurusnya dengan baik. Om sendiri punya banyak pekerjaan kan? Mungkin tidak ada waktu bersamanya. Setidaknya di sini ada aku."sela Moses. Ia malah takut Ara akan merasa kesepian di rumah ayah kandungnya itu. Bukan berarti di rumahnya ini gadis itu tidak akan merasa kesepian, tapi Moses bisa terus melihatnya dan memastikan keselamatannya, juga menemaninya biar dia tidak merasa sendirian. Gadis itu pasti akan merindukan keluarga yang membesarkannya. Melihat sifatnya yang ceria, tidak mungkinkan Ara tidak bahagia hidup dengan keluarga angkatnya itu.


Tuan Furon menatap Moses sebentar lalu menatap sahabatnya ayahnya Moses, kemudian menarik nafas pelan.


"Baiklah kalau begitu. Jangan lupa kabari aku kalau ada kabar terbaru." ujar tuan Furon lalu melirik Ara.


"Ara, besok aku akan mengganti nama belakangmu dengan milikku. Kau terlahir sebagai nona besar di keluarga Furon. Satu-satunya putriku. Aku harap kau bisa mulai menerimanya." kata tuan Furon. Ara yang mendengarnya diam saja. Ia belum bisa berpikir dengan benar. Semuanya datang terlalu tiba-tiba.


Moses menutup kamar itu kemudian berbalik mendekati gadis yang sekarang ini terus menatapnya tanpa senyum. Moses tahu tatapan itu tidak bersahabat. Gadis itu tampak seperti memusuhinya. Ia menyeringai dan duduk kembali di kursi sisi ranjang, menatap Ara balik.


"Kenapa menatap begitu? Ada sesuatu diwajahku?" ucapnya sengaja.


"Aku ingin pulang." kata Ara tak ada lembut-lembutnya. Ia yakin kakaknya, Karrel, dan yang lain pasti sedang mencarinya.

__ADS_1


"Tidak bisa sekarang, kau tahu banyak musuh di luar sana yang sedang mengejarmu bukan?" balas pria itu. Ara mendesah kasar. Ia tidak peduli. Pokoknya ia harus pulang sekarang. Ia lebih bahagia di rumah dengan kakaknya. Walau kak Ravel dan papanya bukan keluarga kandungnya, ia lebih merasa aman dengan mereka. Papa kandungnya yang datang tadi, terlalu asing baginya. Ia tidak terbiasa.


"Aku tidak peduli. Antarkan aku sekarang." Ara mau turun dari ranjang tapi lagi-lagi Moses menahannya.


"Diamlah di sini kalau kau ingin aman." katanya memberi peringatan. Ara mendelik tajam menatapnya.


"Lepaskan aku, aku tidak mau di sini. Aku mau pulang sekarang!" pekik Ara marah. Ia mulai menyerang Moses yang menahannya dengan membabi buta, mencakar dan melakukan apapun sampai pria itu merasa kewalahan. Moses lalu mendorong  tubuh Ara ke ranjang dan mengukungnya dengan kedua tangannya sampai gadis itu tidak bisa melawan lagi.


"Dengar dulu!" sergahnya menahan emosi. Ternyata tunangannya ini sulit di hadapi juga. Ara terdiam tapi terus menatap pria itu dengan berani.


"Saat ini ada banyak orang yang sedang mengincarmu. Kalau kau pulang sekarang, bukan hanya nyawamu saja yang berada dalam bahaya. Keluargamu dan orang-orang terdekatmu juga. Mungkin kau tidak bisa menerimanya, tapi aku harus mengatakan satu hal ini, kau terlahir di keluarga mafia. Bahkan, walau keluarga yang membesarkanmu cukup berkuasa, mereka tidak akan bisa melawan musuh yang mengincarmu. Kau ingat benda yang ditanyakan ayahmu tadikan?" Ara terus mendengarkan Moses. Ia juga merasa penasaran. Jadi dia lahir dari keluarga mafia? Ia terus melihat Moses yang kembali melanjutkan bicara.


"Dalam benda itu terdapat peta penting dan kunci untuk membuka sebuah tempat yang berisi segudang ganja dan emas. Mamamu melarikannya saat kabur denganmu bertahun-tahun lalu. Tidak ada yang tahu letak gudang itu. Mereka membutuhkan kunci dan peta yang dibawa pergi oleh mamamu. Itu alasannya kenapa kau diincar. Dan, siapapun yang mendapatkan peta itu, akan menjadi orang yang paling berkuasa. Keluarga kita berdua bekerja sama untuk mendapatkan itu, itu sebabnya kau dan aku dijodohkan." Moses menjelaskan panjang lebar. Perkataan itu membuat Ara tercengang. Ia tidak membayangkan dirinya akan terlibat dengan masalah besar seperti ini. 

__ADS_1


__ADS_2