
Suasana terasa tegang dan mencekam. Sekarang ini Karrel, Ravel, Ara, Pascal, mamanya Karrel dan nenek Inggrid sudah berada di ruang kerja pribadi milik nenek Inggrid. Gisel tadi mau ikut masuk juga, tapi dilarang oleh nenek Inggrid.
Ruang kerja wanita yang umurnya di awal enam puluan itu kedap suara. Tidak terdengar sama sekali bising-bising dari luar. Padahal di ruang tamu rumah itu sangat ribut karena masih ada pesta.
Balik lagi, suasana dalam ruangan itu tegang. Tidak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan. Ravel duduk di tengah-tengah Ara dan Pascal, sedang Karrel di samping mamanya. Berhadapan dengan ketiga bersaudara itu. Nenek Inggrid di tengah-tengah kedua kubu yang berhadapan itu.
"Sekarang jelaskan sama nenek dan tante Wani kenapa kalian berkelahi, siapa yang memulainya?" tanya nenek Inggrid memulai pertanyaan. Kejadian ini terjadi di rumahnya, bahkan sementara pesta berlangsung, dan itu sungguh memalukan.
Tak ada yang menjawab. Baik Karrel maupun Ravel. Ara sendiri tidak tahu mau bicara apa. Yang mulai duluan adalah kakaknya, tapi ia tahu sebenarnya dirinyalah penyebab mereka sampai berkelahi. Kakaknya tidak suka dia dekat dengan Karrel.
"Aku yang mulai." akhirnya Ravel buka suara setelah cukup lama diam. Nenek Inggrid tampak terkejut tapi berusaha memperlihatkan sikap tenangnya.
"Ravel, kenapa kamu mukul Karrel? Bukannya kalian sahabatan?" ujar mama Karrel dengan tampang kecewanya menatap Ravel. Setahunya dulu Ravel dan putra tunggalnya itu sahabatan. Ravel diam saja. Sahabat? Huh! Itu dulu.
"Udah ma, aku nggak apa-apa." ucap Karrel mencoba menenangkan mamanya.
"Nggak apa-apa gimana, kamu liat tampang kamu ini. Kita harus segera ke dokter sayang." balas mamanya.
"Wani, kamu tenang dulu. Kita selesaikan masalah ini baik-baik." kata nenek Inggrid. Mama Karrel yang ternyata bernama Wani itu masih terlihat tidak senang. Ia tidak suka Ravel bertindak seenaknya dengan memukuli anak kesayangannya.
"Ravel, katakan kenapa kamu pukul Karrel? Kalian punya masalah apa?"
__ADS_1
pertanyaan nenek Inggrid kali ini membuat Ara menundukkan kepala sambil menggigit bibirnya lirih. Tindakannya itu tak luput dari perhatian Karrel. Cowok itu ingin sekali memeluk Ara untuk memberinya kekuatan, namun ia berusaha keras menahan diri. Ada mamanya di sini. Ia tidak mau pertemuan pertama mamanya dengan Ara terkesan buruk. Walau memang mereka bertemu dalam situasi yang tidak baik.
"Aku tidak suka dia mendekati adikku." jawab Ravel to the point.
"Jadi kalian berkelahi gara-gara Ara?" kali ini Pascal yang membuka suara seolah tidak percaya. Menurutnya berkelahi karena masalah perempuan itu sangat tidak penting dan tidak ada gunanya.
Ara *******-***** jemari tangannya, ia mulai bergerak gelisah. Mungkin namanya sudah buruk di mata mamanya Karrel. Lihat saja cara wanita itu menatapnya. Belum lagi tatapan tajam sang nenek. Namanya makin jelek pasti nih.
"Kami berdua saling menyukai asal kau tahu. Kau tidak berhak melarang-larangku mendekati Ara. Kau tidak bisa mengekangnya. Sekalipun kau adalah kakak kandungnya." kata Karrel tegas. Ravel langsung menatapnya tajam.
"Aku berhak, karena aku kakaknya." Ravel tidak mau kalah. Keduanya terus berdebat. Tak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah.
"Ravel, karena kamu yang memulai, kamu juga yang harus minta maaf. Minta maaflah pada Karrel." perintah sang nenek. Ravel malah tersenyum sinis, minta maaf? Jangan harap. Karrel sendiri tidak peduli. Pandangannya hanya terfokus ke Ara, berharap gadisnya itu tidak kenapa-napa.
"Aku sama sekali tidak merasa harus minta maaf. Aku tidak bersalah, dia memang pantas dipukul." kata Ravel. Detik itu juga mama Karrel berdiri.
"Karrel, kita pergi dari sini saja. Obati lukamu dulu dan langsung pulang." ucap wanita itu kemudian. Ia masih marah karena anaknya menjadi korban. Walau Ravel juga terluka , tetap saja itu semua tidak menutupi kesalahannya yang menyerang duluan.
Karrel pasrah saja dibawah mamanya keluar. Dia akan menelpon Ara nanti untuk menghibur gadis itu. Mereka pergi tanpa pamit sama sekali. Nenek Inggrid hanya menarik nafas panjang. Ia sempat melirik tidak suka pada Ara. Gadis itu memang pembuat onar, dimana ada dia selalu saja kacau.
"Ara, Pascal, kalian keluar dulu. Nenek ingin bicara berdua dengan Ravel. Pascal dan Ara saling bertukar pandangan sebelum akhirnya angkat kaki dari rumah.
__ADS_1
***
Ketika hampir mencapai kamar atas, Ara berhenti sebentar didepan pintu, ia ingin mencari ponsel tapi ponselnya ia taruh di tas tadi. Ya ampun, jangan-jangan dia meninggalkannya di ruangan nenek Inggrid lagi. Mumpung masih ada kak Ravel di sana, ia memutuskan balik.
Gadis itu berjalan cepat ke ruangan pribadi sang nenek. Ia ingin membuka pintu dengan mengetuk tapi pikiran usilnya tiba-tiba muncul. Apa nenek sedang memarahi kakaknya? Kalau benar, ia ingin melihatnya langsung.
Ia lalu membuka perlahan gagang pintu dan mengintip dari balik pintu itu, berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Ravel, harus kau bisa menahan diri. Ara memang selalu jadi biang masalah. Di manapun ada dia, selalu saja ada masalah."
Dari balik pintu Ara mendengus pelan. Dasar nenek tua. Hobinya jelek-jelekin di...
"Pokoknya nenek tidak mau tahu, Ara harus minta maaf sama Karrel dan mamanya. Masalah ini terjadi gara-gara dia." Ara menajamkan telinganya. Namanya terus saja di sebut sih nenek tua itu.
"Tidak, Ara tidak perlu minta maaf." kali ini ia mendengar suara kakaknya. Gadis itu tersenyum, setidaknya kak Ravel masih bela dia.
"Ravel, Ara itu bukan adik kandung kamu. Kenapa kamu terus belain dia? Papa kamu saja sudah muak melihatnya. Harusnya dia tahu diri."
Perkataan itu sukses menghujam jantung Ara. Senyum di wajahnya menghilang seketika. Ia berdiri kaku di tempatnya. Apa ini mimpi? Ini mimpikan? Itu semua tidak benar kan? Dirinya bukan anak kandung mama dan papa? Berarti kak Ravel...
Tangan Ara terangkat menutupi mulutnya. Tanpa sadar air matanya jatuh. Ia berlari meninggalkan tempat itu, mencari tempat untuk menyendiri. Meringkuk dalam kegelapan malam. Ucapan nenek Inggrid terus terngiang-ngiang di kepalanya. Perkataan itu seolah menjadi mimpi buruk baginya. Ara, terus terisak dalam diam meratapi nasibnya.
__ADS_1