
Hari begitu cepat berganti menjadi besok. Rasanya Moses tidak ingin bangun. Ia masih setia memejamkan matanya sambil berbaring di atas sofa dengan sebelah tangannya berada di belakang kepalanya menjadi sandaran. Tidak puas dengan bantal saja. Ia tahu saat dirinya membuka mata nanti, ia akan melihat Ara yang sudah siap untuk di antar pulang olehnya. Ia jelas tahu gadis itu sedang menunggunya sekarang.
"Kak Moses," baru saja tidak ingin mendengar suara itu, tiba-tiba Ara memanggilnya. Moses tidak ingin bersuara dan membuka matanya, namun tetap saja ia harus bisa menerima kenyataan. Lalu dengan perlahan matanya terbuka. Gadis itu berdiri disampingnya sambil terus menatapnya.
"Kapan kau akan mengantarku pulang. Ini sudah hampir siang." tanya gadis itu sedikit merengek. Moses menghela nafas lalu merubah posisi tidurnya menjadi duduk.
"Kau sudah siap?" pertanyaan bodoh. Jelas-jelas gadis itu sudah siap sejak tadi. Ia sudah tahu. Sejak tadi dirinya tahu Ara sibuk bersiap-siap.
Ara mengangguk kuat. Lalu engan nafas berat pria itu berdiri dari sofa dan melangkah keluar pintu kamar.
"Ayo." gumamnya tanpa memandang wajah Ara. Gadis itu mengekor dari belakang. Ia sempat bertanya untuk pamitan ke tuan Ruff atau tidak, tapi Moses berkata tidak usah. Sebenarnya Ara merasa sedikit tidak sopan kalau pergi begitu saja tanpa sepatah katapun, namun tangannya di tarik oleh Moses dan mereka langsung masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Bagaimana kalau papanya kak Moses marah? Kita sudah mengkhianatinya dan sekarang malah pergi tanpa bilang-bilang." tutur Ara sepanjang perjalanan. Moses diam saja. Pikirannya dipenuhi oleh hal yang lain. Ia lagi galau sekarang dan dirinya tidak suka ada dalam keadaan ini. Itu sebabnya dulu ia tidak pernah sungguh-sungguh menyukai yang namanya perempuan. Tapi pada kasus Ara, ia tidak bisa mengendalikan perasaannya itu. Sialan! Pria itu menggeram dalam hati.
"Kak Moses, denger nggak sih? Kok cuekin aku terus?" ucap Ara lagi mulai kesal. Moses yang terus menahan diri sejak tadi langsung meminggirkan mobilnya dan berhenti tiba-tiba. Ara tersentak kaget. Pria itu kenapa lagi sih? Padahal kemarin sikapnya sangat lembut. Sekarang berubah lagi. Dasar aneh. Mafia mah memang aneh. Berubah-berubah.
"Kau sudah memilih menjadi musuh ayahku dan ayah kandungmu sendiri. jadi tidak perlu menemui mereka. Lagipula setelah ini kau tidak akan kembali lagi." ujar Moses datar, ia menatap Ara lurus.
"Tapi..."
"Sudahlah Ara. Sekarang pikirkan saja keluarga yang membesarkanmu dari dulu. Mereka lebih seperti keluarga kandungmu bukan, dibandingkan dengan ayah kandungmu sendiri?" kata Moses lagi. Ara terdiam. Perkataan pria itu benar. Ayah kandungnya memang terasa seperti orang asing baginya. Mungkin karena mereka hidup terpisah dan ia tidak pernah kenal pria tua itu. Moses menghela nafas lalu memegangi bahu Ara.
Suasana hening sepanjang jalan. Moses dengan pikiran galaunya, dan Ara yang diam dengan ekspresi bingungnya. Tanpa Moses sadari,
__ADS_1
Ada sosok yang mengawasi dari mobil yang mengikuti mereka dibelakang, ternyata kabel rem mobil pria itu sudah berhasil dipotong. Susah memang beroperasi tadi, karena pengawal-pengawal Moses selalu siaga.
Tetapi karena sosok itu adalah pengawal kepercayaan ayah Moses yang bebas bergerak sana-sini tanpa ada yang mencurigai, ia berhasil melakukan rencananya dengan matang. Pria itu memiliki nama samaran di dunia gelap yang cukup populer sebagai pembunuh bayaran paling ahli. Bahkan ayah Moses tidak tahu nama samaran pria itu, apalagi status laki-laki itu yang bukan hanya sebagai pengawalnya, Tapi ternyata pembunuh bayaran juga yang dari dulu memata-matai keluarga mereka.
Karena barang yang dia cari sudah pasti tidak akan ada pada tuan Ruff lagi, ia baru melancarkan aksinya mencelakai Moses dan Ara. Potongannya sudah diatur dengan rapi, ketika diperiksa sekarang pun tidak akan ada yang menyadarinya.
Tetapi seiring dengan berjalannya mobil, dan kira-kira lima belas kilometer dari rumah Moses, tepat ketika mereka memasuki area pinggiran kota dengan jalan berliku dan pohon besar di kiri kanannya menuju rumah Ara, Kabel itu akan putus. Tuan Ruuf memang sempat memerintahkan anak buahnya itu karena mengetahui Moses dan Ara sengaja melawannya. Ia sudah mengetahui kalung itu telah diberikan pada kejaksaan. Ada mata-matanya yang bilang. Karena itu tuan Ruff sangat marah dan ingin memberi mereka pelajaran. Hanya pelajaran, tidak ingin membunuh. Tidak mungkin dirinya membunuh anak kandungnya sendiri. Hanya saja, ia tidak tahu anak buahnya itu malah berniat mau membunuh. Ia tidak tahu kalau anak buah kepercayaannya itu adalah seorang mata-mata yang ditaruh di dalam rumahnya oleh musuhnya sendiri dan bisa mencelakainya kapan saja.
Mobil anak buah tuan Ruff itu terus mengawasi sampai mobil Moses berjalan dan menghilang di tikungan, lalu tersenyum jahat. Itu sebabnya jangan pernah sok menjadi pahlawan. Mereka pikir dengan mengamankan barang yang di cari-cari semua orang itu pada pihak berwajib, mereka sudah aman? Huh! Jangan harap.
Di dalam mobil Moses, karena suasana terus hening sejak tadi, Ara mulai mengantuk. Mungkin karena ia sarapan nasi goreng pagi tadi, gadis itu mulai memejamkan mata dan godaan untuk tidur terasa sangat nikmat.
__ADS_1
"ARA!!" teriakan itu mengejutkan Ara membuatnya terperanjat kaget, ketika sadar dia merasakan dirinya ada dalam dekapan Moses, didekap dengan begitu kuat hingga merasa sakit. Seluruh tubuh Moses melingkupinya seolah melindunginya.
Melindunginya dari apa...? Sekejap kemudian, mereka berguling dan benturan keras mengenai kepalanya, membuat semuanya gelap dan Ara tidak ingat apa-apa lagi.