
Sudah satu minggu berlalu semenjak Ara di rawat di rumah sakit. Karrel masih setia menemaninya seperti biasa namun ada waktu di mana pria itu bergantian dengan kakaknya. Di pagi hari biasanya kak Ravel yang menemaninya karena Karrel harus sekolah. Sudah terlalu lama dia absen. Karrel akan menemaninya di saat pulang sekolah sampai malam. Kadang juga akan ikut nginap kalau kakaknya sedang sibuk syuting dan tidak bisa pulang.
Bintang, Devin dan teman-teman kelasnya yang lain juga sering menjenguk dan bercanda ria dengannya selama dia di rawat di rumah sakit. Dan hari ini, dokter sudah membolehkan gadis itu pulang. Walau Ara penasaran kenapa Moses tidak datang-datang menjenguknya lagi, tapi ada satu hal yang membuat dirinya begitu bahagia.
Satu kali di malam hari, papanya muncul. Papa yang membesarkannya sejak ia kecil. Setelah beberapa tahun ini papanya tidak bicara lembut dan selalu mencari-cari kesalahan untuk menyudutkannya, kali ini sang papa berbicara lembut, tersenyum dan bahkan menanyakan tentang keadaannya. Papanya juga bilang akan menerima dan melupakan masa lalu buruk yang terjadi antara mereka dulu. Ia akan belajar mencintai Ara seperti waktu gadis itu masih kecil dulu. Pria tua itu terlalu lelah memusuhi gadis itu terus. Ia juga takut kehilangan putrinya setelah peristiwa yang terjadi beberapa waktu terakhir ini. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ini, ayah dan anak itu berpelukan. Betapa terharunya Ara karena sang papa mau berbaikan lagi dengannya. Ia tidak menyesali dengan masa-masa buruk yang dia lewati akhir-akhir ini karena itu membuat hubungannya yang renggang dengan papanya membaik.
Ara senang. Sangat senang. Rasanya hidupnya begitu bahagia sekarang. Bahkan sampai sekarang ia belum bisa melupakan bagaimana sang papa datang dan bilang mau berbaikan dengannya. Mereka juga membicarakan begitu banyak hal. Dan Ara bercerita begitu banyak. Papanya hanya diam mendengar dengan setia.
"Beneran deh Ra, kamu tuh udah kayak orang gila senyum-senyum sendiri gitu dari tadi." suara itu membuyarkan lamunan Ara. Ia menoleh dan memicingkan matanya tajam ke Devin yang duduk disebelahnya sambil asyik makan apel.
"Kok kamu masih di sini sih? Kan Bintang udah pulang daritadi?" semprotnya. Heran. Devin tidak pulang-pulang juga padahal Bintang sudah pulang tapi cowok itu tetap setia berada di situ. Makan apelnya lagi.
"Kamu amnesia? Kan tadi Karrel nyuruh aku temenin kamu dulu karena dia sibuk ngurusin kamu yang bakal pulang hari ini." tutur Devin di sela-sela mengunyah apelnya. tapi tetap saja Ara merasa kesal. Dasar nyebelin. Padahal dia lagi senang-senangnya. Ia sudah siap-siap mengomel lagi tapi Karrel tiba-tiba datang, menghentikan niatnya mau mengomel ke Devin lagi.
__ADS_1
"Giliran pawangnya yang datang baru tuh muka sumringah," cicit Devin. Ara memeletkan lidah ke cowok itu lalu menatap Karrel dengan senyuman lebarnya. Karrel hanya menatap bingung keduanya.
"Gimana, udah kelar urusannya? Aku boleh pulangkan sekarang?" tanya Devin menatap Karrel. Ia sudah tidak sabar pulang ke rumahnya dan tidur-tiduran. Karrel mengangguk, kemudian menyuruh Ara mengganti baju pasiennya dengan pakaian biasa. Mereka juga akan pulang sebentar lagi.
***
Karrel membantu Ara berbaring di ranjangnya. Mereka sudah sampai ke rumah. Tadi Ara di sambut oleh pembantu-pembantu rumahnya. Mereka sangat senang melihat majikan mereka kembali. Dan Ara merasa jumlah pembantu di rumah itu lebih banyak dari biasanya. Meski masih kurang jika dibandingkan dengan jumlah pekerja di rumah Moses. Apa kak Ravel sengaja menambah jumlah pembantu? Bahkan kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Mungkin sekalian untuk berjaga di rumah itu.
"Kamu mau langsung pulang?" tanya Ara dengan kondisi berbaring. Karrel menggeleng. Ia masih mau menemani pacarnya. Apalagi Ravel belum pulang. Karrel tidak mau kalau seandainya ia pulang sekarang dan Ara akan menghilang darinya lagi seperti beberapa waktu lalu. Sudah cukup ia uring-uringan berhari-hari karena tidak melihat kekasihnya.
Tidak melihat Ara selama berhari-hari ini rasanya seperti berbulan-bulan.
"Ara," gumam pria itu menatap Ara dalam-dalam.
__ADS_1
"Mm?"
lalu Ara merasakan bibir lembut Karrel menempel dibibirnya. Mengecupnya dengan penuh kehangatan dan kerinduan yang tak tertahankan. Karrel tidak mau kehilangan gadis itu lagi. Ia tidak sanggup. Bibir Karrel yang awalnya hanya menempel, mulai bergerak dengan lebih berani sampai-sampai Ara kesusahan bernafas.
"I love you," bisik Karrel serak setelah melepaskan tautan bibir mereka. Ara tersenyum menatap lelaki itu.
"I love you too." balasnya.
Karrel tersenyum, mengangkat dagu Ara, lalu mengecup bibirnya lagi dengan penuh rasa sayang.
"Selamanya sayang, aku janji akan mencintai dan membuat kamu bahagia selamanya."
~ END~
__ADS_1
Season satunya tamatin yah. Nanti bakalan ada ekstra partnya kok😊