
Moses langsung menuju kamarnya ketika sampai di rumah. Ia ingin melihat Ara. Entah kenapa sepanjang perjalanan ia terus memikirkan gadis itu. Bukannya bagus karena setelah ini gadis itu tidak akan menyusahkannya lagi? Ia bisa tidur dengan puas dikamarnya tanpa ada yang mengganggu dirinya lagi.
Tapi, memikirkan hal itu, Moses merasa hatinya tidak baik-baik saja. Apa mungkin ia mulai ada rasa pada Ara? Tapi mereka bahkan baru bertemu beberapa hari. Meski selama beberapa hari itu ia terus menemani Ara, tapi tetap saja baru beberapa hari. Mana bisa ia langsung jatuh hati pada Ara. Moses terus menampik perasaannya. Tidak mungkin secepat itu dirinya menyukai gadis itu.
Tapi ketika sampai rumah, masuk kamar dan tidak mendapati keberadaan gadis itu di sana, ia tiba-tiba panik. Mencari-cari gadis itu seperti orang gila. Para pelayan yang melihat perubahannya sampai heran.
"Mana tunanganku?" tanyanya pada salah satu pelayan yang dia lewati. Raut wajahnya begitu panik. Ia bersumpah akan menghabisi pengawal yang dia suruh menjaga Ara tadi kalau sampai terjadi apa-apa pada gadis itu. Pelayan perempuan yang dia tanya itu mematung bingung. Tunangan? Maksud majikannya siapa? Mereka belum tahu kalau gadis yang dia bawa beberapa hari lalu bertunangan dengan tuan muda mereka. Otak pelayan itu terlalu plin-plan untuk berpikir lebih jauh lagi.
"Hei, kau lihat kemana tunanganku tidak?" kali ini suara Moses meninggi. Ingin sekali ia memaki pelayan yang hanya mematung seperti orang bodoh itu tapi ditahannya. Mengetahui dimana Ara adalah yang paling penting sekarang.
"Maksud tuan muda, nona muda yang anda bawa beberapa hari yang lalu?" Moses menutup matanya dalam-dalam lalu mengangguk dengan sabar.
"Kemana dia?" tanyanya lagi tidak sabar.
"T... Tadi saya lihat nona itu berjalan ke arah taman belakang tuan," jawab pelayan itu takut-takut." mendengar itu, Moses langsung berlari cepat ke taman belakang rumahnya membuat pelayan yang ditinggalkannya itu bernafas lega.
__ADS_1
Matanya mencari-cari ke segala arah lalu menemukan gadis yang dia cari sejak tadi sedang duduk di bangku taman sambil memandang air mancur sedang didepannya. Moses menghentikan langkah sebentar, mengatur nafas lalu berjalan mendekat. Di jarak lima meter dibelakang gadis itu berdiri dua bodyguard yang ia perintahkan menjaga gadis itu tadi. Mereka selamat kali ini. Sebenarnya ia punya satu pengawal kepercayaan di antara mereka semua. Namanya Gino. Tapi Gino sedang ijin sehari pulang ke kampung halaman orangtuanya. Besok pagi baru kembali. Lupakan tentang pengawalnya. Ia melirik Ara.
"Ternyata kau sangat keras kepala. Sudah kubilang jangan sekali-kali keluar kamar kalau tidak ada aku. Memangnya kau punya delapan nyawa? Bagaimana kalau orang yang mau menculikmu itu datang lagi? Kau pikir aku bisa menolongmu kapan saja?" omel Moses setengah emosi. Ia sudah duduk disebelah gadis itu sambil terus memandangi Ara dengan raut wajah jengkel. Gadis itu sudah membuatnya panik tadi, tapi sekarang malah asyik-asyikan duduk santai di sini.
Ara menoleh dan merasa heran melihat Moses yang datang tiba-tiba lalu langsung mengomel panjang lebar padanya. Pandangannya berpindah ke dua pria berbadan besar dibelakang sana, kemudian memandangi sekeliling mansion besar itu yang memiliki tembok tinggi di atas rata-rata. Ia yakin bahkan tikus saja tidak akan bisa masuk ke rumah ini, apalagi orang-orang jahat itu. Belum lagi sepanjang perjalanan mengelilingi rumah ini ada begitu banyak pelayan dan pengawal bersenjata. Rumah ini sudah di jaga dengan begitu ketat, ia harus takut apa coba. Kecuali mereka semua adalah musuh. Kalau itu jelas dia akan takut.
"Aku terlalu bosan di kamar, kau ingin mati kebosanan?" kata Ara menatap pria disampingnya.
"Apa salahnya menungguku." balas Moses masih menyalahkan gadis itu juga. Ara tertawa remeh. Pria aneh. Ia memutuskan tidak berdebat lagi dan kembali fokus ke air mancur.
"Bagaimana, ada hasilnya? Kak Ravel baik-baik saja kan? Tidak ada yang lecet kan? Kak Ravel itu aktor, kalau lecet sedikit saja penggemarnya akan heboh. Kau bertemu Karrel juga kan? Pacarku. Bagaimana tampangnya?" seru Ara panjang lebar. Ia tidak sadar tangannya sudah menyentuh lengan Moses saking semangatnya berbicara. Moses sendiri merasakan perasaan yang berbeda ketika disentuh oleh gadis itu. Pria itu berdeham pelan, mengatur perasaannya yang bergejolak hebat.
"Kau tenang saja. Pertemuan itu berakhir dengan baik. Dan kakakmu, dia baik-baik saja. Juga pria bernama Karrel itu." sahut pria itu. Berat rasanya ketika harus menyebut nama saingannya. Sementar Ara malah tersenyum lebar.
"Benarkah?" serunya. Kemudian menatap kebelakang sebentar, lalu mencondongkan badan ke dekat Moses dan berbisik di telinga pria itu.
__ADS_1
"Berarti aku bisa pulang besok?" bisiknya pelan. Moses terdiam. Hatinya tiba-tiba berubah gundah ketika berpikir gadis itu tidak akan bersama dengannya lagi di rumah ini. Untuk sesaat ia ingin menjadi pria yang egois. Tapi.. senyum cerah yang terpampang di wajah Ara membuatnya merasa tidak tega.
"Kak Moses?" Moses tersentak. Untuk pertama kalinya ia mendengar Ara memanggil namanya. Ada sebutan kakak didepannya. Tidak apa-apa. Karena dirinya memang lebih tua enam tahun tahun dari gadis itu. Wajar kalau Ara memanggilnya kakak. Pria itu berusaha tersenyum.
"Mm, aku sendiri yang akan mengantarmu besok." gumamnya pelan. Ara langsung bersorak senang. Akhirnya, setelah berhari-hari berpisah, ia bisa bertemu dengan orang-orang yang dia sayang juga.
"Ara,"
"Mm?"
"Apa setelah ini kau masih ingin bertemu denganku?" tanya Moses. Dalam hati ia berharap Ara akan menjawab iya. Lalu gadis itu mengangguk, membuat Moses tersenyum senang.
"Kau tidak takut lagi padaku?" tanyanya lagi. Ia ingat jelas beberapa hari lalu gadis itu tidak berani menatapnya dan selalu takut kalau dia berbicara. Walau Ara tidak bilang, Moses bisa merasakannya. Apa ini sebuah kemajuan? Sayang sekali ia baru mengenal Ara ketika gadis itu sudah punya seorang kekasih. Moses adalah tipe laki-laki gentleman yang tidak mau merusak hubungan orang lain. Karena dirinya percaya karma itu ada. Itu sebabnya dia selalu berusaha sebisa mungkin bersikap baik pada orang lain. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ayahnya. Meski begitu, kalau ada yang berani mencari gara-gara dengannya dan memulai duluan, ia tidak akan segan-segan menghabisi mereka. Moses terus menatap Ara. Mata mereka bertemu dan gadis itu tersenyum lebar sambil menggeleng.
"Aku baru tahu kak Moses itu baik hati. Terimakasih telah menjagaku selama aku berada di sini. Kalau kau ingin bertemu denganku, kau bisa mencariku kapan saja. Lagipula kak Moses sudah tahu rumah dan tempat kerjaku kan?" gumam Ara. Moses balas tersenyum lalu mengacak-acak pelan rambut Ara. Ia masih tidak menyangka bisa kehilangan kendali pada gadis yang terbilang jauh lebih muda darinya itu.
__ADS_1