
Malamnya suasana rumah nenek Inggrid yang tadinya hanya ramai dengan keluarga besar mereka, kini bertambah ramai dengan kedatangan orang-orang asing lainnya. Ara tidak mengenal mereka sama sekali.
Gadis itu memandangi sekeliling mencari-cari keberadaan papanya namun tidak menemukan lelaki tua itu. Memang sih ini pesta dari keluarga mamanya, meski begitu, harusnya papanya juga ada. Tapi pria tua itu sama sekali tidak terlihat. Apa papanya sibuk?
Ara ingin bertanya pada kakaknya tapi kak Ravel terlihat sibuk menyapa teman-temannya nenek Inggrid di ujung sana. Sudahlah, lebih baik dia nikmatin sendiri saja pesta yang tidak jelas ini.
"Bagus tuh gaun, beli di mana?" tanya Lina yang datang bersama Gisel. Pascal sepupunya yang satu lagi sibuk berbincang dengan teman-temannya yang berdatangan.
"Baguslah, orang kak Ravel yang beliin." kata Ara sengaja memamerkan pada kedua sepupunya. Lihat perubahan wajah mereka. Iri berat kayaknya.
"Kok aku rasa gak cocok di kamu yah gaunnya, mending Lina yang pakai." timpal Gisel. Bodohlah, Ara sama sekali tidak peduli. Orang sirik tuh selalu kayak gitu. Ara memutuskan menjauh dari mereka. Daripada berdebat terus bikin dia capek. Lebih baik ia mencicipi aneka kue yang berbaris rapi di atas meja.
Semakin malam semakin banyak yang datang. Pesta sudah di mulai sejak tadi dan rumah yang tadinya sangat luas itu terasa makin sesak saking banyaknya tamu yang datang. Ara akhirnya memilih pergi ke belakang rumah, duduk sendirian di kursi panjang sambil menikmati minuman bersoda yang dia bawah dari dalam.
Gadis itu menatap ke langit-langit. Terkadang, saat menyendiri seperti ini ia akan banyak berpikir dan merasa kesepian. Itu sebabnya dia lebih suka keramaian untuk menghindarkannya dari memikirkan hal-hal yang negatif.
"Hei,"
suara itu menyadarkan Ara dari lamunannya. Ia pikir siapa yang datang. Pascal, kak Ravel atau laki-laki lainnya. Ternyata Karrel. Gadis itu mengernyitkan dahi. Karrel datang juga? Kok bisa? Wajah murungnya tadi kini kembali ceria lagi.
"Karrel?" serunya semangat.
__ADS_1
"Kok di sini? Kamu di undang sama nenek Inggrid juga?" tanya Ara sumringah. Kedatangan Karrel sungguh membuat rasa bosannya hilang. Ia tidak terpikir sama sekali cowok itu akan datang.
Karrel beranjak duduk disebelah Ara. Senyuman cowok itu seolah membuatnya merasa teduh.
"Papa mamaku tinggal nggak jauh dari sini. Mereka teman baiknya nenek Inggrid. Aku milih datang karena tahu kamu ada di sini juga." jelas Karrel panjang lebar.
"Denger dari siapa aku ke sini?"
"Bukannya kamu chat ke aku tadi pagi? Kamu bilang nggak bakalan masuk sekolah karena mau datang ke pesta nenek kamu di Bandung."
"Tapi darimana kamu tahu nenek Inggrid itu nenek aku?"
"Kan Ravel kakak kamu. Nenek kalian pasti sama kan."
"Kenapa sendirian di sini?" tanya Karrel kemudian. Ia menatap penampilan Ara sekilas. Cantik. Gaun dan orangnya sama-sama cantik. Sejak sampai di rumah ini tadi, ia langsung mencari Ara tapi gadis ini tidak kelihatan. Karrel pikir Ara tidak turun ikutan pesta, ternyata ketika cowok itu ingin bersantai dibelakang rumah itu, ia malah bertemu dengan sosok yang ia cari sejak tadi itu.
"Di dalam terlalu banyak orang, aku males." gumam Ara. Karrel tersenyum tipis. Matanya berpindah ke langit-langit malam yang begitu indah. Ada ribuan bintang yang menghiasi langit malam ini, yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa teduh.
"Ra,
"Mm?" Ara melirik Karrel yang bicara tanpa melihatnya. Mata cowok itu terus fokus ke langit.
__ADS_1
"Kau lihat bintang yang paling besar dan paling bersinar di atas sana?" Karrel menunjuk sebuah bintang yang paling bersinar di antara bintang-bintang lainnya. Ia merasa tertarik sejak tadi.
"Ya, menurutku sangat keren." ucap Ara seadanya. Bintang memang selalu terlihat indah dimatanya. Ia sudah melihatnya sejak tadi.
'Kau tahu, kamu sama seperti bintang itu dimata aku." ucap Karrel lagi. Mungkin ini terdengar lebai, namun ia tidak peduli. Ia ingin Ara tahu posisi gadis itu dihatinya seperti apa. Kali ini ia mengalihkan pandangannya dari langit dan menatap Ara.
"Kamu adalah bintang yang paling bersinar buat aku," tambah cowok itu.
"Sejak pertama kali aku lihat kamu di sekolah, aku selalu tertarik mencuri-curi pandang bahkan tertarik ingin tahu kamu sosok yang seperti apa, sampai akhirnya kita menjadi dekat, dan aku sadar, aku sudah jatuh hati padamu."
Wajah Ara memerah. Ia malu mendengar pernyataan Karrel. Apalagi cowok itu terus menatapnya dalam. Jantungnya berdebar tak beraturan. Apa Karrel mau menembaknya? Kalau benar, Ara akan sangat dilema menolak atau menerimanya. Atau dia terima saja? Lagian dimata banyak orang di sekolah mereka juga sudah pacaran. Urusan kak Ravel yang tidak setuju, bisa dia atur nanti.
"Ara," kali ini tangan Karrel terangkat menangkup pipi Ara, mengelusnya dengan ibu jari.
"Kita pacaran aja ya? Aku pikir aku bisa menahan diri tidak pacaran dulu denganmu, ternyata tidak." ujarnya. Matanya penuh permohonan. Ia ingin Ara setuju. Ara sendiri sudah deg-degan sejak tadi. Iya yakin kalau mereka berpelukan, Karrel bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat.
Ia menatap Karrel cukup lama, sampai akhirnya dirinya mengangguk pelan. Karrel yang sempat khawatir akan ditolak tadi tersenyum lebar. Tanpa permisi ia langsung mencium Ara, tapi kali ini di dahi saja, sebagai bentuk hormat pada gadis itu. Mereka lalu berpelukan. Cukup lama, sampai Ara sadar kalau tempat mereka berduaan sekarang adalah rumahnya nenek Inggrid. Bagaimana kalau ada yang melihat mereka. Apalagi kak Ra...
Begitu kagetnya Ara saat sosok yang baru saja ia pikirkan sudah berdiri didepan mereka dan kini menarik kerah Karrel paksa lalu tanpa aba-aba langsung meninju Karrel sekuat tenaga. Karrel pun tidak tinggal diam, ia membalas pukulan Ravel. Akhirnya terjadi perkelahian antara kedua lelaki itu.
Ara panik. Ia ingin melerai, berteriak kuat meminta pertolongan tapi tidak berani. Takutnya orang-orang akan datang dan semakin heboh melihat perkelahian kakaknya dan cowok yang baru jadi pacarnya itu. Beruntung mereka ada di belakang rumah sekarang. Tempat itu cukup gelap dan sepi. Jarang yang datang ke situ. Tapi Ara yang panik, tidak tahu mau berbuat apa. Tenaganya terlalu kecil untuk melerai mereka. Ia juga takut melihat kekerasan, tapi kalau dibiarkan mereka berdua bisa terluka parah.
__ADS_1
Ara akhirnya berlari ke dalam. Ia harus mencari orang yang bisa membantunya melerai Karrel dan kak Ravel. Matanya berhenti ke Pascal yang sedang berdiri sendirian di samping meja. Lalu secepat mungkin Ara berlari dan berbisik ditelinga Pascal. Setelah itu Pascal mengikutinya.