ARAKA

ARAKA
Bab 69


__ADS_3

Rumor tentang Sion menikam Ravel karena Ravel yang lebih dulu meninjunya tersebar di sekolah. Bukan hanya itu. Sion memang sudah terkenal berandalan sekolah, meski ada alasannya dia menikam Ravel, tapi cowok itu juga yang memulai duluan. Permasalahan awal adalah Sion sengaja menghina dan merendahkan Ara dan itu memicu kemarahan Ravel.


Berita tentang hubungan Ravel dan Andra lebih menghebohkan. Kini semua orang tahu keduanya adalah kakak beradik. Ravel telah mengadakan konferensi pers kemarin dan menjelaskan semuanya. Ia juga beralasan adiknya tidak ingin orang-orang tahu tentang keberadaannya karena baginya itu akan mengganggu kehidupannya yang bebas. Karena itu ia tidak pernah menunjukkan Ara ke publik. Alasan yang umum namun masuk akal bagi orang-orang.


Kini nama Ara makin terkenal di sekolah. Menjadi pacar cowok populer di sekolah seperti Karrel dan adik dari Ravel yang merupakan aktor terkenal. Ara sampai pusing sendiri karena tiba-tiba banyak teman-teman sekelasnya yang memaksanya untuk meminta tanda tangan Ravel. Itulah salah satu alasannya kenapa dia tidak mau orang-orang tahu hubungan dekatnya dengan Ravel.


"Ra, tega banget deh kamu nyembunyiin rahasia besar seperti itu sama sahabat sendiri." gerutu Manda masih merasa kesal. Ara menyengir.


"Bener, pantes aja kamu marah kalo kita-kita pada gosipin Ravel sama adiknya nggak akur. Buktinya, mereka malah akur banget. Keliatan banget Ravel sayang sama adiknya ini,  buktinya Ravel rela tertusuk demi Ara." sambung Clara antusias. Yang lain ikut mengiyakan. Mereka sekarang berdiri mengelilingi meja Ara. Gadis itu sungguh bikin banyak orang iri.


"Ara, lo beruntung banget deh. Udah punya pacar sekeren Karrel, sekarang malah nambah kakak yang terkenal banget lagi." seru Ina yang rambutnya di cepol tinggi. Sungguh senang menjadi Ara. Ara sendiri hanya senyum-senyum mendengar perkataan-perkataan teman-teman sekelasnya itu. Kalau saja mereka tahu dia dan Ravel bukanlah saudara kandung...

__ADS_1


Gadis itu menggeleng kuat. Ia tidak perlu cerita hal sepribadi itu ke mereka bukan? Mereka tidak perlu tahu. Ia juga dari dulu selalu tahu dirinya adalah anak kandung dari papanya, meski kenyataannya tidak. Tiba-tiba gadis itu terpikir tentang orangtua kandungnya. Sebenarnya apa yang terjadi sampai mama kandungnya membawanya kabur dari rumah? Apa terjadi sesuatu? Biar bagaimanapun dirinya penasaran dan ingin tahu. Ingin tahu seperti apa keluarga kandungnya. Apa papa kandungnya menyayangi dia? Apa dia masih punya keluarga dekat yang lain juga?


"Ra, Ara!" panggilan itu membuyarkan lamunan Ara.


"Sih Sion gimana? Pokoknya dia harus di hukum berat. Aku masih nggak terima dia nusuk pujaan hati aku." seru Clara lebay.


"Tenang aja Clar, aku sama semua yang ada di tempat kejadian bakal bersaksi buat Ravel." timpal Manda semangat. Sesaat kemudian Bintang datang memanggil Ara.


"Ada polisi juga?" Ara menatap Bintang. Mereka masih di luar, namun karena pintu ruangan kepala sekolah tidak ditutup sepenuhnya, Ara bisa melihat siapa saja yang ada didalam.


Di dalam sana ada kepala sekolah, Sion, dua orang polisi dan pasangan suami istri yang menurutnya adalah orang tua Sion. Bintang menganggukan kepala.

__ADS_1


"Karena ini masalah serius, dan Sion Sudah berkali-kali melakukan tindakan kekerasan pada anak-anak di sekolah, kepala sekolah sudah memutuskan lapor polisi. Perbuatan dia sama kamu dan Ravel jadi bukti kuat untuk menghukumnya." jelas Ravel. Ara mengangguk-angguk. Ia masih takut masuk sendiri. Matanya menengok-nengok ke segala arah.


"Karrel mana?" tanyanya.


"Sama Devin. Aku sengaja menyuruh Devin menahannya. Kau tahu sendiri matanya bisa gelap kalau melihat Sion." sahut Bintang. Ara mengangguk-angguk mengerti. Benar. Daripada Karrel bikin masalah di dalam, lebih baik jangan biarkan cowok itu datang. Tapi bagaimana nasibnya? Masa dia harus masuk sendirian ke dalam. Mana Manda yang katanya mau bersaksi lagi ijin sebentar buat ke toilet lagi.


"Ara." panggilan itu membuat Ara dan Bintang menoleh.


"Kakak!" serunya berubah semangat. Ravel dan Tristan sudah berdiri didepannya. Ara mengamati kakaknya sebentar.


"Kakak sudah sehat? Memangnya sudah bisa keluar rumah sakit?" tanyanya. Ravel tersenyum. Mengacak pelan rambut gadis itu.

__ADS_1


"Mm, aku harus menemanimu ke dalam." ucap Ravel lembut. Betul-betul berbeda dengan gaya bicaranya dulu, waktu ia berubah dingin. Gaya bicara Ravel sekarang telah kembali seperti mereka masih dekat dulu, waktu dia masih kecil. Ara tersenyum senang. Ia bisa merasakan kehangatan di mata kakaknya. Lalu tanpa permisi ia menggandeng tangan Ravel dan masuk ke dalam.


__ADS_2