ARAKA

ARAKA
Bab 79


__ADS_3

"Dia mengalami syok." Dokter pribadi keluarga Moses menemui Moses setelah memeriksa Ara yang sekarang masih terbaring pingsan di atas ranjangnya, di dalam mansion mewah keluarganya.


"Oke, terimakasih dokter." Moses menjawab sopan dan mengantar dokter itu ke depan pintu kamar. Sampai di pintu, dokter itu menghentikan langkahnya sebelum pergi.


"Darimana kau membawa gadis itu, Moses?" dokter itu sudah mengenal Moses cukup lama karena dia dari dulu menjadi dokter keluarga sejak kakek Moses masih hidup, karena itu dia menganggap Moses hampir seperti anaknya sendiri. Dokter Nuan tahu jelas ayah Moses lebih mementingkan pekerjaannya. Bahkan ayah pria itu tak tanggung-tanggung memanfaatkan Moses demi melancarkan pekerjaannya.


"Dia gadis yang dijodohkan denganku dari kecil itu." dokter Nuan tampak kaget. Ia sempat dengar Moses sudah dijodohkan. Tapi setahunya gadis itu sudah menghilang bertahun-tahun.


"Tunanganmu?" tanya dokter Nuan memastikan pendengarannya. Moses menjawab dengan anggukan pelan. Ia tidak harus menutupi hubungannya dengan Ara karena sebentar lagi orang-orang di dalam kediaman itu akan tahu. Dokter Nuan sendiri berubah biasa. Ia tidak mau berlebihan menanggapinya. Dokter itu lalu menarik nafas dan kembali berbicara.


"Pastikan dia meminum obatnya setelah bangun. Dia demam, tubuhnya lemah, jadi dia sakit setelah mengalami syok." hati Moses terenyuh mendengarnya.


"Jangan kuatir dok, aku akan merawatnya." gumam Moses sambil tersenyum.

__ADS_1


Ketika Ara membuka matanya, dia terperanjat menyadari bahwa dirinya berada dalam kamar yang tidak dikenalnya. Kamar itu indah dan semua barang di dalamnya mahal. Ara mengernyitkan dahinya bingung, di mana dia? Ingatan terakhirnya adalah rasa takutnya yang besar mendengar suara-suara tembakan mengerikan itu. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


Ara menatap sekeliling lagi dengan waspada dan menghembuskan napas lega ketika yakin bahwa dia sendirian di dalam kamar ini. Kamar siapa ini? Apakah lelaki yang menolongnya tadi  membawanya kemari? Ara melirik tubuhnya dan mendesah lega sekali lagi karena menemukan dirinya berpakaian lengkap di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya.  Kepalanya masih pening dan sekujur tubuhnya terasa nyeri, dia memijit kepalanya, berusaha meredakan rasa seperti berdentam-dentam di sana.


Tiba-tiba saja pintu terbuka, dan refleks, Ara beringsut menjauh di atas ranjang ketika melihat lelaki yang menolongnya tadi itu memasuki kamar.


"Kau sudah bangun rupanya." Moses menggeser kursi ke tepi ranjang dan duduk di situ.


"Rumahku. Kau ada dalam kamarku sekarang." sahut Moses. Ara berpikir sebentar, berusaha menjernihkan pikirannya lalu bersiap mau berdiri dan keluar dari kamar itu. Sayangnya, kekuatannya kalah jauh dari Moses.


Ara menatap laki-laki itu bingung.


"Kau belum bisa pergi sekarang. Kondisi di luar sana sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak orang yang sedang berusaha untuk menculikmu. Hari ini kau beruntung karena aku bisa menyelamatkanmu, tapi besok, entahlah... Jadi untuk sementara kau lebih baik di sini dulu, Ara." ujar Moses mengangkat bahu. Ia bahkan menyebut nama gadis itu untuk pertama kalinya. Ara menatap pria itu bingung. Ia merasa bingung karena pria itu mengetahui siapa namanya, bahkan caranya menyebutkan namanya seolah mereka akrab. Dan... Banyak yang ingin menculiknya?

__ADS_1


Kenapa? Ara tidak mengerti. Ia terus pria itu. Keningnya berkerut, menatap laki-laki itu dengan saksama. Wajah itu tampak tidak asing. Ia seperti pernah melihatnya di suatu tempat.


"Apakah kita pernah ketemu sebelumnya? Dan... Darimana kamu tahu nama aku?" tanyanya penasaran. Moses menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi lalu melipat tangan di dada menatap Ara.


"Aku makan di cafe tempatmu bekerja siang tadi. Dan... mungkin kau akan kaget mendengar ini, tapi aku tetap harus bilang kau adalah tunanganku."


kata Moses santai. Bertolak belakang dengan Ara yang kaget bukan main. Tunangan? Sejak ia punya tunangan? Yang benar saja. Jangan-jangan pria ini penipu lagi.


"Tidak mungkin. Jangan coba-coba menipu. Aku tidak percaya. Aku mau pulang sekarang!" kata Ara ketus. Ia mencoba turun dari ranjang lagi tapi Moses lagi-lagi menahannya. Raut wajah laki-laki itu terlihat serius.


"Sudah kubilang kau belum bisa pulang sekarang. Sebentar lagi ayahmu akan datang. Dia akan menjelaskan semuanya. Kau tenang saja di sini." ujar Moses memegangi bahu Ara kuat-kuat. Ara makin bingung. Ayah? Maksud laki-laki itu papanya?


Ia ingin bertanya namun pintu kamar itu tiba-tiba terbuka, menampilkan seorang lelaki tua yang tidak dikenalnya. Pria paruh baya itu melangkah perlahan ke arahnya dengan tatapan seperti baru bertemu dengan seseorang yang dirindukannya. Kemudian setelah sampai di depannya, pria tua itu langsung memeluknya erat. 0

__ADS_1


__ADS_2