
Pagi menjelang siang Karrel sudah berada di rumah Ravel. Mencari tahu kabar terbaru tentang Ara. Pria itu tidak masuk sekolah. Ia tidak bisa fokus karena Ara hilang. Ravel sendiri sudah membatalkan syutingnya beberapa hari ini. Papanya tetap masuk kantor, namun terkadang tidak fokus. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Pria tua itu memang masih menyalahkan anak perempuannya karena kepergian istri yang dia cintai. Ia selalu teringat mendiang istrinya ketika melihat Ara, itu sebabnya dia jarang pulang dan tinggal di tempat tinggalnya sendiri. Sebuah rumah lain yang dia punya. Namun kemarin, ketika mendengar putrinya diculik, pria paruh baya itu tidak bisa berbohong kalau dalam hatinya ada perasaan khawatir. Ia berharap Ara cepat ditemukan dalam keadaan baik-baik.
Di rumahnya, Ravel, Tristan dan Karrel duduk sambil terus berpikir. Pikiran mereka ke mana-mana. Kemudian suara dering ponsel milik Ravel membuat ketiganya saling berpandangan. Ravel melihat nomor itu tapi yang masuk adalah nomor baru yang tak dikenal. Keningnya berkerut. Nomornya ini sangat pribadi. Hanya orang-orang penting yang dekat dengannya saja yang tahu.
Kira-kira siapa yang menelpon? Ara? Atau sih penculik adiknya? Biasanya kalau di film-film ketika seseorang terdekat kita diculik, setelah itu akan menyusul telpon dari sih penculik, memakai suara orang yang mereka Sandra untuk meminta uang. Ravel meraih ponsel di atas meja sofa dan cepat-cepat mengangkatnya tanpa bicara. Ia membiarkan sih penelpon yang bicara duluan.
"K..kakak...?"
Suara itu sangat dikenali Ravel. Itu suara seseorang yang sangat ia rindukan dari semalam. Suara adiknya.
__ADS_1
"Ara," perkataannya sukses membuat Karrel dan Tristan menatapnya tanpa berpaling sedikitpun. Rasa-rasanya Karrel ingin merampas ponsel dari genggaman Ravel dan bicara dengan kekasihnya, tapi Karrel menahan diri. Ia sadar tidak bisa seenaknya.
Ravel yang seolah tahu Tristan dan Karrel ingin mendengar suara Ara juga mengaktifkan model suara load speaker. Mereka sama-sama mendengar gadis itu menjelaskan. Setiap perkataan yang disampaikan oleh Ara membuat ketiga pria itu tercengang. Mereka sadar ternyata kasus yang terjadi pada gadis itu bukanlah sebuah kasus yang sebenarnya.
Ara bilang dia tidak diculik. Tapi di tolong oleh anak dari sahabat ayah kandungnya. Gadis itu telah bertemu dengan ayah kandungnya, tapi keadaan sedang kacau jadi dirinya belum bisa pulang. Ia juga memerlukan bantuan kakaknya untuk mengantarkan sebuah kalung yang ada di kotak dalam kamarnya. Meski telah menjelaskan panjang lebar, Ara tidak mengatakan mengenai dirinya yang ternyata sudah punya tunangan. Ia tidak mau Karrel tahu. Pasti pacarnya itu akan ngotot bertemu dengannya kalau sampai tahu. Ara tidak mau membuat orang-orang terdekatnya itu berada dalam bahaya. Cukup dirinya saja.
Moses juga sudah mengatur semuanya. Ia berjanji pada Ara kalau pertemuan kakaknya dengan pria itu akan sangat rahasia. Tidak boleh sampai ketahuan ayahnya. Karena Ravel akan membawa barang yang sangat penting. Tidak boleh ada seorang yang tahu.
Sudah hampir pasti mereka tidak akan bertemu dengan Ara dalam waktu dekat ini. Gadis itu menjelaskan tadi. Memang mereka merasa sedikit lega karena gadis itu baik-baik saja, tapi tetap saja mereka ingin melihatnya secara langsung. Ravel sendiri mencoba melacak nomor telpon yang dipakai Ara menelponnya tadi, tapi sayangnya nomor itu tak bisa di lacak. Ravel menghela nafas. Terpaksa ia hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan tadi oleh adiknya. Sepertinya Ara memang tidak diancam seseorang ketika berbicara tadi. Ravel berdoa semoga saja adiknya tetap aman.
"Mafia? Aku masih tidak percaya keluarga kandung Ara adalah mafia." ujar Tristan. Ravel tidak heran, dari cerita mendiang mamanya, ia sudah bisa menyimpulkan keluarga kandung Ara bukanlah sebuah keluarga yang biasa. Pantas saja peluru sangat banyak kemarin.
__ADS_1
Dibanding kemarin, hari ini rumahnya jauh lebih bersih meski masih ada yang harus diubah dibeberapa tempat yang rusak sampai kaca-kacanya.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Karrel menatap Ravel.
"Kita hanya bisa menunggu telpon lagi dan mengikuti apa yang Ara katakan tadi." jawab Ravel.
"Tapi kita harus sangat berhati-hati. Barang yang akan kau bawa itu barang penting." kata Karrel lagi. Mendengar itu Ravel langsung berdiri dan berjalan cepat memasuki kamar Ara. Barang penting itu harus segera diamankan.
"Menurutmu kita harus mengatakan ini pada penyidik?" giliran Tristan yang bersuara. Tinggal dirinya dan Karrel yang berada di ruang tamu itu.
Karrel menatapi lelaki itu sekilas.
__ADS_1
"Sepertinya tidak perlu. Kau ingat Ara bilang apa tadi? Jangan sembarangan percaya orang. Bukan berarti penyidik itu penjahat, tapi kita perlu membuat langkah dulu." balas Karrel mengambil kesimpulan. Tristan mengangguk mengerti. Menghadapi masalah besar seperti ini memang dibutuhkan tindakan yang bijak. Mereka tidak boleh bergerak seenaknya.